Badminton indonesia jaya

Badminton indonesia jaya

Share

+ Update Score + Kuis Badminton + News Badminton + Profil Pemain Badminton

@+[129930900490528:] hapus tanda + ya

20/11/2020

The Minions Terus Dibayangi Rasa Penasaran Terhadap Yudta Watanabe/Hiroyuki Endo.

Kekalahan terakhir di final All England bulan maret lalu pastinya semakin membuat penasaran Kevin Sanjaya/Markus Gideon. Sebenarnya di partai puncak tersebut set penentuan Minions sudah berhasil mengendalikan permainan. Namun celaka pada saat poin krusial justru jawara edisi 2017-2018 ini tidak mampu menjaga momentum permainan.

Di saat kedua pasangan sama-sama dalam tekanan fisik dan mental justru Yudta/Endo mempercepat permainannya. Sangat berbeda dengan pola sebelumnya dimana mereka lebih banyak mengatur tempo dalam membuka pertahanan kemudia balik melakukan serangan.

Kalau melihat beberapa pertandingan mereka sebelumnya justru Minions sudah menampakkan banyak perubahan saat menghadapi ganda Jepang ini. Misalnya saat bertemu di ajang World Tour Final Guangzhou 2019.

Di sini Gideon begitu mudah masuk perangkap lawan dimana ia terlihat mengawali serangan dengan smes-smes beruntunnya. Namun jutsru semakin membuat nyaman lawan karena mereka sudah sangat siap dengan membuka pertahanannya.

Pasangan Jepang juga begitu leluasa memperhitungkan rotasi lawan dengan semakin banyak melambungkan shuttllecock ke pojok-pojok agar Kevin sendiri ikut melakukan rotasi.

Endo berusaha menjauhkan bola dari area depan karena bagimana pun mereka sangat tahu bagaimana seorang Kevin apabila berada di net itu justru menguntungkan lawan.

Tehnik dan startegi menguras stamina lawan sudah sering kita temui pada era Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong atau Mathias Boe/Carsten Mogensen. Bahkan ganda Denmark sendiri pernah membeberkan salah satu cara mengalahkan Minions adalah bertahan sekuatnya dan melambungkan bola selambat mungkin. Dan itu lumayan berhasil karena kita juga tahu kekuatan serangan baseline Gideon pun pasti ada batasannya jika terlalu mengumbar power dan stamina.

Dan di pertandingan WTF ini sentuhan area depan dari Kevin tidak maksimal mampu memberikan kejut nyata terhadap lawan. Sedangkan pada set kedua Kevin mulai menambah kecepatannya sekaligus mencegat laju bola pendek lawan agar dapat peluang melakukan serangan lebih tajam.

Namun di set ketiga kembali pasangan Jepang mengambil strategi tepat dengan mengatur tempo permainan. Membuka pertahanan memang ciri khas pasangan Yudta/Endo karena mereka merupakan salah satu ganda yang memiliki pertahanan rapat.

Selain memang stamina Gideon terkuras ia juga mendapatkan perawatan karena jari tangannya berdarah akibat gesekan dengan karpet lapangan saat menjangkau pukulan-pukulan lawan. Feel dari Kevin pun juga tidak begitu maksimal ibarat kata pasangan Indonesia sudah masuk perangkap lebih dalam untuk melakukan serangan terus menerus.

Sedangkan pasangan Jepang pertahanannya semakin solid dan berada dalam posisi nyaman sehingga Minions sering melakukan kesalahan sendiri. Jika melihat dari power dan kualitas serangan justru pasangan jepang ini masih berada di bawah Kevin/Gideon. Ini yang dinamakan strategi membuka pertahanan, menguras stamina lawan, bermain sabar dengan kombinasi pukulan taktis.
Alhasil lawan akan terus penasaran dan berusaha ingin mematikan dengan cepat.

Meskipun pasangan Jepang terkenal dengan solid dan alot justru di sini Endo bisa jadi titik lemah. Dulu dia merupakan tukang gedor saat bersama Kenichi Hayakawa namun kini bersama pemain muda yang penuh talenta justru ia lebih banyak berada di depan.

Selain itu rotasi mereka juga sangat rapi bahkan jika Yudta ada di depan tehnik pukulan pendek yang ia miliki sangat membantu untuk membuka peluang serangan bagi Endo. Sebenarnya tidak ada yang harus ditakuti dari pasangan ini misalnya dari segi power serangan. Justru mereka cerdas dengan lebih meningkatkan pola permainan, kesabaran saat akan melakukan serangan balik dan pastinya pertahanannya yang solid dan rapat.

Pemain yang pertahanannya kuat memang sebagian besar memiliki penempatan bola yang sangat baik. Namun dari sekian banyak kelebihannya justru saat menerima flick servis mereka sering tidak nyaman.

Patut kita tunggu kelanjutan pertandingan mereka di turnamen-turnamen selanjutnya. Gemesss ihhh penasaran mulu seperti DIA yang s**a jaim.

11/08/2020

Sebelum Negara Api Menyerang dan Bergantian Malambaikan Tangan Kancah Bulutangkis Sektor Ganda Campuran Pernah Memiliki Empat Pasangan Yang Silih Berganti Menjadi Yang Terbaik Di Setiap Turnamen.

The Big Four sektor tunggal atau pun ganda putra selalu ada pemain/pasangan Indonesia yang selalu menjaga reputasi Merah Putih. Kalau nomer tunggal putra kita punya Taufik Hidayat yang pernah bersaing ketat di jajaran empat besar.

Kemudian ganda putra ada pasangan Olimpiade Beijing Markis Kido/Hendra Setiawan yang merupakan salah satu ganda terkuat di masanya.

Nah yang menarik dan selalu seru pun bisa kita dapatkan di persaingan sektor ganda campuran pada masa kejayaan mereka. Siapakah pasangan ini ?

Yang pertama pasangan fenomenal Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei yang menggebrak sebagai jawara All England 2000 sepuluh. Dari awal didaftarkan saya pun sudah menandai pasangan ini berbekal melihat sosok Zhao Yunlei yang lebih dulu moncer di ganda putri bersama Cheng Shu mulai 2009.

Yunlei sendiri mengangkat nama pemain muda Zhang Nan dimana sebelumnya Zhang sendiri pemain biasa saja saat berpasangan dengan pemain lain baik di ganda campuran maupun ganda putra.

Alhasil keduanya menjadi momok menakutkan terhadap pasangan Indonesia dimana saat All England tahun tersebut Nova Widianto/Liliyana Natsir harus kandas di babak puncak. Bukan hanya itu saja di turnamen superseries lainnya peraih medalu Perak Olimpiade Beijing ini pun dikalahkan lagi oleh pasangan yang sama.

Richard Mainaky akhirnya memberanikan diri mencari alternatif bagaimana caranya untuk menghentikan pasangan baru Tiongkok ini. Dan Nova sendiri menyadari hal itu dan iklas mundur perlahan meninggalkan Liliyana Natsir untuk dicarikan pemain yang lebih muda.

Zhang Nan/Zhao Yunlei tipikal ganda yang mengandalkan speed dan kekuatan serangan. Zhang Nan sendiri usianya begitu muda bagi pemain putra dan powernya sangat luar biasa. Pertahanan yang dimiliki juga begitu kokoh raihan gelarnya pun sangat banyak termasuk secara kilat meraih kepingan Emas di Olimpiade London dan Asian Games Incheon.

Ganda berikutnya ada Xu Chen/Ma Jin nama ini juga hasil rombakan karena kedua juga bermain rangkap dan sukses. Xu Chen pernah masuk top ten di ganda putra bersama Guo Zhengdong. Lalu Ma Jin merupakan pemain yang sangat fleksibel ketika bermain dengan siapapun.

Jika bertemu dengan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mereka selalu ramai seketika teringat WBC'2000 tigabelas. Dimana keduanya pasti bangga di hadapan publik sendiri meraih gelar juara dunia. Namun apa yang terjadi setelah kehilangan dua match poin malah dalam sekejap gelar di depan mata justru berpindah ke tangan lawan.

Pasangan ketiga ada kebanggaan Indonesia yaitu Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Inilah racikan Richard Mainaky kala itu di tahun 2000 sepuluh setelah Liliyana berganti pasangan dari Devin Lahardi yang sempat meraih gelar GPG.

Perjalanan Owi/Butet menjadi pasangan elit bisa dibilang sangat cepat sama halnya dengan ganda-ganda tangguh Tiongkok lainnya. Ya memang seperti itulah terbentuknya suatu pasangan tangguh kurun waktu kurang dua tahun bisa menjadi ganda elit.

Makanya jika ada ganda yang berpasangan lebih dari dua tahun namun peringkatnya masih 30an artinya bisa dikatakan "mentok" beeebbzz.

Ganda campuran semakin berwarna bagi saya karena ada pasangan bule dimana Joachim Fischer Nielsen/Chriestinna Pedersen sanggup bersaing di jajaran ini. Ganda Denmark ini termasuk favorit karena mereka menyajikan paket yang mahal terlihat majikan di lapangan apalagi sering masuk court televisi sebagai penyeimbang dominasi Asia.

Tahun 2009 Joachim/Pedersen namanya sudah mencuri perhatian di kancah bulutangkis dunia. Dari keempat pasangan ini hanya mereka yang belum sempat meraih gelar All England.

Keempat pemain putra ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Seperti halnya penguasaan lapangan terbaik bisa disematkan kepada Xu Chen. Langkahnya sangat bagus pertahanannya khas ganda campuran dimana kombinasi defen, pukulan panjang dan serangan baliknya sangat baik. Namun dari segi mental Xu Chen masih yang terlemah dari pesaing lainnya.

Sedangkan cover terburuk saya pilih Tontowi Ahmad, ia sangat kerepotan apabila serangannya tidak menembus pertahanan lawan. Seketika permainannya rusak jika lawan terus melewatkan bola panjang melewati Liliyana. Belum lagi efek riwayat cedera lutut yang dimiliki pastinya berimbas ke pergerakannya.Kelebihan yang dimiliki Owi bisa dibilang pukulannya akurat yang hampir mirip dengan serangan Joachim Fischer.

Zhang Nan dalam hal ini unggul dengan kecepatannya apalagi dalam hal menyerang Zhao Yunlei begitu efisien dan sangat membantu baik dari area net maupun saat di belakang. Zhang kesulitan apabila lawan terus-terusan mengarahkan pukulan defen ke arahnya apalagi mendapat kombinasi placing. Rata-rata pemain tipikal speed akan kewalawan jika mendapatkan lawan yang bermain dengan pola defen placing.

Empat pendekar putri pendamping ini hampir semuanya memiliki tehnik tinggi jika diurutkan melalui Liliyana Natsir, Ma Jin lalu Pedersen dan Zhao Yunlei.

Liliyana pemain yang mampu melewati beberapa dekade dari era Gao Ling sampai Li Xuanxuan mengakhiri karir di Indonesia dengan sangat baik dan berkesan. Salah satu pemain lahir dari alam yang penuh bakat dan pastinya disiplin hingga menjadi sosok seperti ini.

Kemudian Ma Jin salah satu pemain sukses yang bertehnik tinggi meroket bersama Wang Xiaoli dan Zheng Bo. Ia pemain yang mudah beradaptasi sukses mengangkat para pelapisnya pantas p**a bercokol di peringkat pertama dunia.

Christinna Pedersen mampu sejajar dengan para pemain putri bertehnik karena memiliki pertahanan yang baik serta penempatan bola khas Eropa. Namun dari keempat ini dia bisa dikatakan memiliki sisi emosional tinggi dan mental yang mudah buyar.

Zhao Yunlei dari segi tehnik memang tidak semenonjol pesaing lainnya namun dari segala paket di lapangan justru ialah yang paling sempurna. Kekuatan otot, mental, determinasi sangat susah menggoyahkan pemain ini. Mungkin inilah yang menghantarkan ia meraih dua keping Emas sekaligus di London.

Keempat pasangan ini memiliki cerita sendiri di setiap turnamen sering tersisa di babak semifinal. Kadang silih berganti meraih gelar dan itu memberikan warna dan keseruan sektor ini. Di Olimpiade London misalnya yang tidak beruntung malah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka harus finish di urutan keempat karena kalah di babak perebutan perunggu oleh ganda Denmark.

Sedangkan di Olimpiade Rio justru Joachim Fischer/Christinna Pedersen yang hilang entah kemana sebelum babak semifinal. Dan yang paling bahagia di Rio malah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sekaligus membayar lunas kesedihan di London empat tahun sebelumnya.

Dunia Bulutangkis Bangga Memiliki Kalian !

13/01/2020

Ganda Putri Non Unggulan Tiongkok Berhasil Menjadi Pembunuh di Malaysia Master 2020.

Luar biasa perjuangan pasangan Yu Zheng/Li Wen Mei di turnamen pembuka awal tahun 2020. Menyandang status pasangan non unggulan keduanya perlahan namun pasti bisa meraih gelar di Axiata Arena Kuala Lumpur minggu sore kemarin (12/01/2020).

Keduanya baru dipasangkan setahun namun permainannya semakin meningkat dengan bukti catatan sering mengalahkan para unggulan. Pencapaian prestasi tertinggi di level atas adalah semifinal Japan Open. Dan mereka juga sudah menapaki babak final sebanyak dua kali salah satunya menjadi juara di Malaysia Master.

Yu Zheng sendiri saya lihat keikutsertaannya di turnamen internasional pada saat kualifikasi piala Uber berpasangan dengan Cao Tong Wei. Sering dikalahkan oleh beberapa ganda putri Indonesia. Melihat Yu Zheng sendiri permainannya memang sangat unik dari cara dia melakukan servis forehand.

Kekuatannya ada pada pergelangan tangannya yang memiliki smes beruntun. Meskipun secara footwork masih sangat rusak namun ia berhasil menutupi dengan jangkauannya yang sangat bagus. Untuk bermain di nomer ganda footwork seperti Yu ini tidak begitu ada masalah.

Mungkin penilaian pelatih saat itu merasa berpasangan Cao Tong Wei tidak akan mendapatkan hasil maksimal maka dicoba berpasangan dengan Tang Jinhua di Asian Games 2018. Sebenarnya duet ini sangat bagus dengan sentuhan pengalaman Tang Jinhua mampu merepotkan ganda Indonesia pada babak perempatfinal Asian Games.

Sayang sekali mereka tidak dilanjutkan karena Tang sendiri keluar dari tim nasional Tiongkok dan menyatakan pensiun.

Sedangkan Li Wen Mei sendiri yang baru saja keluar dari level junior sebelumnya mendapat pengalaman berharga ketika berduet dengan Huang D**gping. Pelatih Tiongkok Li Pan pernah menyatakan memang saat itu kekuatan di sektor ganda putri sedang menurun dan mencari formula yang tepat di antara serbuan ganda putri Jepang.

Maka pelatih pun berinisiatif mencari pemain yang bertugas sebagai tukang gedor karena Tiongkok merasa kekurangan pemain belakang. Diambillah Li Wen Mei yang dasarnya memang bermain rangkap di tunggal putri. Kenapa yang diambil pemain tunggal putri ? Li Pan pun menjelaskan karena pemain tunggal putri memiliki cover lapangan yang sangat baik. Kemudian dari serangan pun memang diharapkan lebih tajam dan terarah yang biasa dilakukan pemain tunggal.

Dari pengamatan saya di awal duet ini memang Huang D**gping termasuk berhasil membawa pelapisnya bermain di level yang lebih tinggi. Bahkan dalam permainannya Li Wen Mei memiliki kekuatan smes sangat baik namun masih mentah apabila bertemu dengan ganda yang memiliki defen rapat kombinasi placing.

Karena tim Tiongkok tidak menjalankan program rangkap terutama pemain proyeksi Olimpiade maka Huang D**gping melepas Li Wen Mei dan lebih fokus bersama Wang Yilyu di ganda campuran.

Sebenarnya duet Huang Li ini sudah sangat bagus dengan bimbingan Huang yang lebih senior apalagi sebagai pemain depan yang memiliki segudang pengalaman. Namanya Tiongkok yang tidak pernah habis dengan talenta berlapis maka dibentuklah pasangan anyar Yu Zheng/Li Wen Mei.

Dari pasangan anyar ini awalnya Li Wen Mei diplot sebagai pemain depan, sangat extrem meskipun saat junior ia bermain di ganda campuran. Sedangkan saat bersama Huang D**g Ping ia begitu leluasa bertugas di lini belakang sebagai tukang gedor pertahanan lawan.

Seiring berjalannya waktu sering saya lihat permainan pasangan ini terkadang kagok karena keduanya memiliki basic kekuatan di serangan. Sedangkan pengatur serangan masih sangat kurang bisa dilihat Li Wen Mei sering keteteran jika berada di depan. Pola rotasi seperti ini hampir bertahan selama setahun di 2019.

Bahkan pada babak pertama Malaysia Master ketika berhadapan dengan ganda muda Indonesia Siti Fadia/Ribka Sugiarto, Li Wen Mei sangat keteteran meladeni bola-bola pendek pasangan Indonesia.

Namun tiba-tiba mereka melakukan perubahan posisi dimana Yu Zheng sering mengambil alih bagian depan. Sangat jelas terlihat Yu selalu menutup di bagian net dengan melakukan cegatan maupun placing-placing pendek sehingga menyulitkan pasangan Indonesia.

Dan dengan posisi seperti ini rupanya membuat keduanya sangat nyaman. Karena jika Li berada di depan justru sangat susah mendapatkan peluang melakukan serangan. Korbannya adalah Yuki Fukushima/Sayaka Hirota harus dipaksa selalu bertahan karena Li di belakang begitu stabil melakukan smes-smes beruntun dan menang dengan skor maraton 18-21 24-22 21-17.

Pada babak perempatfinal kiranya kembali bermain maraton namun cukup dua set untuk menjegal Kim So Young/Kong Hee Yong 21-16 21-12.

Sedangkan di babak semifinal mentalnya semakin teruji ketika berhasil mengagalkan wakil Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu 21-19 18-21 21-19.

Ganda putri peringkat sepuluh besar dunia ini begitu alot dalam bertahan dan mampu mengontrol emosi di setiap poin yang mereka dapatkan sehingga berkali-kali memaksa pasangan Indonesia melakukan kesalahan sendiri di poin kritis.

Ada yang menarik ternyata dari perolehan poin babak semifinal dan final set pertama. Finalis Thailand Master ini selalu tertinggal 16-19 dan berhasil meraup 5 poin beruntun hingga menutup set pertama 21-19. Begitu juga saat melawan rekan senegaranya Du Yue/Li Yinhui di babak final set pertama nyaris sama ketika berhasil meraih 5 angka beruntun.

Selamat kepada pasangan ini yang memang penampilannya semakin menanjak dan siap-siap betah menjadi penghuni ganda putri elit dunia. Kita tunggu perkembangannya di turnamen-turnamen mendatang apalagi dengan gelar WTS 500 ini pastinya semakin memotivasi untuk menjadi lebih baik.

Ganda peringkat sepuluh dunia bukan kaleng-kaleng yang yang hanya sebagai pelengkap. Duh pengen julit sama mantan 10 dunia itu tapi tahan mereka sudah tenang di alam bebas.

By Cay Yud

31/12/2019

Moco2 barang ben rodok ngerti (copas dr sebelah)

"JANGAN BERHENTI DI TENGAH BADAI "

Seorang Anak mengemudikan mobilnya bersama ibunya.

Setelah beberapa puluh kilometer, Tiba² awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Beberapa kendaraan mulai menepi & berhenti.

“BAGAIMANA, Bu? Kita berhenti?”,
Si Anak bertanya.

“Teruslah.. !”, kata Ibu.

Anaknya TETAP menjalankan mobil. Langit makin gelap, angin bertiup kencang. Hujanpun turun.

Beberapa pohon bertumbangan, Bahkan ada yg diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Terlihat kendaraan² besar juga mulai menepi & berhenti.

“Bu....?"

“TERUSLAH mengemudi..!!” kata Ibu, sambil terus melihat ke depan.

Anaknya TETAP mengemudi degan bersusah payah.

Hujan lebat menghalangi pandangan HANYA berjarak bebarapa meter saja.

Si Anak mulai takut.
NAMUN... tetap mengemudi WALAUPUN sangat perlahan.

Setelah melewati beberapa kilo ke depan, dirasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang.

SETELAH beberapa kilometer, SAMPAILAH mereka pada daerah yg kering & matahari bersinar.

“SILAKAN berhenti & keluarlah”, kata Ibu
“KENAPA sekarang ?”, tanya-nya.
“Agar kau BISA MELIHAT seandainya berhenti di tengah badai”.

Sang Anak berhenti & keluar.
Dia melihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung.
Dia MEMBAYANGKAN orang² yg terjebak di sana.

Dia BARU mengerti bahwa JANGAN PERNAH BERHENTI di tengah badai KARENA akan terjebak dalam ketidak pastian.

JIKA kita sedang menghadapi “badai” kehidupan, TERUSLAH berjalan, JANGAN berhenti & putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yg terus menakutkan.

LAKUKAN saja Apa yang dpt kita lakukan & yakinkan diri bahwa BADAI PASTI BERLALU.
KITA tidak kan pernah berhenti, tetapi maju terus Karena kita yakin bahwa di depan sana Kepastian dan Kesuksesan ada untuk kita...

HIDUP TAK SELAMANYA BERJALAN MULUS!!!

BUTUH batu kerikil supaya kita BERHATI-HATI..

BUTUH semak berduri supaya kita WASPADA..

BUTUH Pesimpangan supaya kita BIJAKSANA dalam MEMILIH..

BUTUH Petunjuk jalan supaya kita punya HARAPAN tentang arah masa depan..

Hidup Butuh MASALAH supaya kita tahu kita punya KEKUATAN..

BUTUH Pengorbanan supaya kita tahu cara KERJA KERAS.

BUTUH air mata supaya kita tahu MERENDAHKAN HATI.

BUTUH dicela supaya kita tahu bagaimana cara MENGHARGAI..

BUTUH tertawa dan senyum supaya kita tahu MENGUCAPKAN SYUKUR..

BUTUH Orang lain supaya kita tahu kita TAK SENDIRI..

Jangan selesaikan MASALAH dengan mengeluh, berkeluh kesah, dan marah", Selesaikan saja dengan sabar, bersyukur dan jangan lupa TERSENYUM.

Teruslah MELANGKAH walau mendapat RINTANGAN, Jangan takut..
Saat tidak ada lagi tembok untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud.

Perbuatan baik yg paling sempurna adalah perbuatan baik yg tidak terlihat, Namun.. Dapat dirasakan hingga jauh ke dalam relung hati.

Jangan menghitung apa yg hilang, namun hitunglah apa yg tersisa.

Sekecil apapun penghasilan kita, pasti akan cukup bila digunakan utk Kebutuhan Hidup.
Sebesar apapun penghasilan kita, pasti akan kurang bila digunakan utk Gaya Hidup.

Tidak selamanya kata-kata yg indah itu benar, juga tidak selamanya kata-kata yg menyakitkan itu salah.

Hidup ini terlalu singkat, lepaskan mereka yg menyakitimu, sayangi mereka yg peduli padamu.

SEMOGA BERMANFAAT..

11/04/2019

Li Xuerui : The Real Queen

Disaat Dinasti Wang berkuasa tak satupun Tunggal Putri dunia yg mampu menghentikan dominasi mereka. Skill & teknik yg bervariasi menjadikan para Wang memiliki ciri khas tersendiri seperti Wang Lin dg rally serangnya, Wang Yihan dg serangan variatifnya, Wang Xin dg full speed dan power serta Wang Shixian dg rally bertahannya membuat mereka tak pernah absen dalam menancapkan taringnya menjadi juara di berbagai turnamen bergengsi. Dan akan menjadi sempurna puncak kejayaan Dinasti Wang di pesta olahraga Olimpiade London 2012, namun cerita indah itu hanyalah fatamorgana belaka setelah munculnya pendekar putri China superior lainnya yg dalam waktu singkat mengkudeta kekuasaan Dinasti Wang, dialah Li Xuerui.

Skill & Tehnik sempurna penggabungan seluruh kemampuan para Wang menjadikan Li Xuerui sebagai tunggal putri paling menakutkan dalam waktu singkat. Seluruh turnamen yg diikutinya sukses keluar sebagai juara, tak hanya itu dalam kurun waktu kurang dari setahun Li Xuerui mampu menhancurkan kejayaan Dinasti Wang hingga mengkudeta pemilihan Tunggal Putri China di Olimpiade dg menyingkirkan Wang Shixian dari daftar dan hal itu menjadikan bencana nasional bagi Shixi Lovers. Usai sukses menyingkirkan Shixi, Li Xuerui akhirnya menasbihkan dirinya menjadi ratu bulutangkis China berikutnya setelah di final Olimpiade menaklukkan Wang Yihan.

Berhasil menjadi seorang ratu dalam waktu singkat, harus dibayar dg tumbangnya salah satu pendekar Wang, dia adalah Wang Xin yg cedera parah saat perebutan medali perunggu Olimpiade London. Meskipun masih menyisakan Yihan dan Shixian namun prestasi mereka sudah tidak dominan dan cenderung naek turun sedangkan Li Xuerui semakin merajalela dg mengantongi berbagai gelar prestisius.
Tidak seperti kejayaan Dinasti Wang dimana hampir seluruh tunggal putri dunia takluk, dimasa keemasan era Dinasti Li berkuasa ada beberapa tunggal putri muda dunia yg mampu mendobrak tembok besar China hingga membuat seorang Li Xuerui kualahan sebut saja Ratchanok Intanon dari Thailand yg menggagalkan Li Xuerui menjadi juara dunia 2013, kemudian kemunculan gadis matador yg fenomenal juga sukses menaklukkan sang ratu di final kejuaraan dunia 2014 belum lagi ekspansi besar besaran pas**an sakura dari yg lapis pertama seperti Nozomi Okuhara dan Akane Yamaguchi hingga yg tak terdeteksi dilapis berapa serta Tai Tzu Ying asal Taiwan pemilik skill Dewa yg menakutkan.

Menjelang Olimpiade 2016, dg pasang surutnya prestasi tunggal putri China ditambah cedera yg silih berganti menerpa ratu Li, Yihan dan Shixi serta aturan baru yg mengharuskan setiap negara maximal mengirimkan dua pemain saja di Olimpiade membuat managemen China memutar otak. Banyak yg beranggapan Li Xuerui dan Shixi yg akan mewakili China namun diakhir untuk kedua kalinya shixi dicoret (bencana nasional part 2) dan kembali memberi kesempatan kepada Yihan untuk mengubah warna medalinya menjadi emas. Namun sekali lagi hal tersebut hanyalah angan belaka satu satunya pendekar Wang yg tersisa Wang Yihan takluk di putaran ketiga sedangkan Li Xuerui mendapat karma setelah disemifinal mengalami cedera yg sama persis dg Wang Xin empat tahun silam.

Era Dinasti Li yg fenomenal pun hancur lebur persis saat hancurnya era Dinasti Wang dahulu. Li Xuerui cedera parah, Wang Yihan memutuskan pensiun usai gagal mengubah warna medalinya dan Wang Shixian memenangkan cinta Chen Long dg mengakhiri karirnya di dunia bulutangkis.
Sejak itu prestasi Tunggal Putri China mengalami paceklik gelar meskipun pemain muda mulai bermunculan seperti Sun Yu, He Bing Jiao dan Chen Yufei namun kekuatan mereka belum cukup menembus kekuatan Tunggal Putri elit dunia. China benar benar kelimpungan ketika dunia membutuhkannya dia (Li Xuerui) menghilang.

Hampir dua tahun berselang penampilan pendekar putri muda China hanya sebatas merepotkan pemain elit dunia, hingga suatu kejadian yg di idam idamkan seluruh dunia terjadi, Li Xuerui The Real Queen kembali. Tampil perdana di WTS 100 China Master 2018 LX langsung menggebrak dg menjuarai turnamen tersebut dg menyingkirkan hampir seluruhnya pemain muda berbakat. Kemenagannya atas Kim Ga Eun di final di turnamen perdananya mengigatkan kembali momen tujuh tahun silam dimana Li Xuerui yg kurang dari setahun menjadi Tunggal Putri elit dunia dg mengkudeta Dinasti sebelumnya. Disaat rekan seangkatannya menyerah dg keadaan, Li Xuerui memulai kembali kisahnya, Akankah sang ratu mampu mengulang sejarah ??? Terlebih lagi Li Xuerui belum pernah menjadi juara dunia sepanjang hidupnya, akankah ambisi tersebut akan berhasil ??? Hingga lengkaplah semua gelar yg dimilikinya ??? Kita tunggu kisah selanjutnya.

02/04/2019

Selamay berjuang di Malaysia Open

Greysia / Apriani

Salam Indonesia Jaya

23/11/2017

Menangi Duel Sengit, Marcus/Kevin Tembus Perempat Final Hong Kong Terbuka
BADMINTON INDONESIA
Pasangan ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo, meluapkan kegembiraan setelah menang atas Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark) pada laga final China Open 2017, Minggu (19/11/2017).
Kamis, 23 November 2017: 14.03 WIB
Menangi Duel Sengit, Marcus/Kevin Tembus Perempat Final Hong Kong Terbuka
Diya Farida Purnawangsuni
JUARA.NET, KOWLOON - Pasangan ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, menembus babak perempat final turnamen Hong Kong Open 2017 setelah memenangi duel sengit yang berlangsung tiga gim.

Tiket putaran delapan besar diamankan Marcus/Kevin setelah mengalahkan Takuro Hoki/Hugo Kobayashi (Jepang), 18-21, 21-13, 21-14, di Hong Kong Coliseum, Kowloon, Kamis (23/11/2017).

Marcus/Kevin membuka gim kesatu dengan kurang baik setelah tertinggal 1-3 pada perebutan poin-poin awal. Mereka terus berada dalam posisi tertinggal sebelum akhirnya menyamakan skor menjadi 8-8.

Setelah itu, kedua pasangan bergantian mendulang poin hingga kedudukan imbang 10-10. Namun, Hoki/Kobayashi lebih dulu meraih poin interval.

Selepas interval, laju Hoki/Kobayashi semakin tak terbendung. Mereka memenangi tiga poin beruntun untuk memimpin skor menjadi 14-10.

Marcus/Kevin kian berada dalam posisi tertekan ketika Hoki/Kobayashi berhasil mengungguli perolehan poin menjadi 5 (18-13).

Meski masih terus berupaya membalikkan keadaan, usaha Marcus/Kevin belum membuahkan hasil yang diinginkan. Mereka kalah dengan marjin tiga poin pada gim kesatu.

Baca juga:

Hendra/Tan Juga Tersingkir pada Babak Kedua Hong Kong Terbuka 2017
Angga/Ricky Tumbang pada Babak Kedua Hong Kong Terbuka 2017
Tertinggal satu gim memaksa Marcus/Kevin bermain lebih agresif pada gim kedua.

Strategi ini terbukti jitu. Sejak perebutan poin pertama, Marcus/Kevin selalu dalam keadaan unggul.

Mereka bahkan mencapai fase interval dalam kedudukan 11-6.

Laju Marcus/Kevin semakin tak terbendung saat paruh akhir gim kedua dimainkan. Tanpa banyak menemui perlawanan berarti, Marcus/Kevin memenangi gim ini dengan selisih delapan poin.

Berhasil memaksa terjadinya rubber game menambah kepercayaan diri pada Marcus/Kevin. Memasuki gim ketiga yang menjadi penentuan, Marcus/Kevin langsung tancap gas untuk unggul 3-1.

Keunggulan ini berlanjut hingga fase interval. Saat mencapai paruh pertama laga, Marcus/Kevin memimpin skor 11-7. Hoki/Kobayashi yang terus berada dalam tekanan Marcu/Kevin tak mampu berbuat banyak.

Mereka cuma bisa mendulang satu poin di sela-sela rentetan poin yang diraih Marcus/Kevin.

Setelah bertanding selama 48 menit, Marcus/Kevin akhirnya menyudahi perlawanan Hoki/Kobayashi dengan marjin mencapai tujuh poin.

Kemenangan Marcus/Kevin ini menjadikan mereka tampil sebagai wakil Indonesia pertama yang lolos ke perempat final Hong Kong Terbuka 2017.

Sebelumnya, pada laga perwakilan ganda putra lain, duet Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan pasangan beda negara Hendra Setiawan/Tan Boon Heong, gagal melaju ke babak berikutnya.

Angga/Ricky kalah dari Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia) dengan skor 9-21, 12-21, sementara Hendra/Tan tumbang di tangan Ong Yew Sin/Tan Wee Kiong (Malaysia), 21-17, 20-22, 12-21.

26/07/2017

Dalam kejuaraan Asian Junior Championship

Indonesia menjadi Runners Up
Setelah kalah oleh Korea

INA 2 - 3 KOR

Photos 14/03/2017

Selagi masih hangat soal All England, Admin share
"Daftar Peraih Titel All England per Negara "

Tunggal Putra
1. England (24)
2. Denmark (20)
3. China (19)
4. Indonesia (15)
5. Malaysia (14)
6. Ireland (7)
7. Switzerland (3)
8. India (2)
9. Sweden (1)
10. United States (1)
Total = 106

Tunggal Putri
1. England (39)
2. China (21)
3. Denmark (14)
4. United States (12)
5. Japan (7)
6. Indonesia (4)
7. Korea (3)
8. Sweden (3)
9. Canada (1)
10. Chinese Taipe (1)
11. Spain (1)
Total = 106

Ganda Putra
1. England (28)
2. Denmark (21)
3. Indonesia (19)
4. Malaysia (11.5)
5. Korea (10)
6. Ireland (7.5)
7. China (6)
8. Sweden (2)
9. Rusia (1)
10. Switzerland (0.5)
11. United States (0.5)
Total = 107

Ganda Putri
1. England (46.5)
2. China (23)
3. Korea (12)
4. Denmark (10)
5. Japan (7)
6. United States (4)
7. Indonesia (2)
8. Ireland (2)
9. Netherlands (0.5)
Total = 107

Ganda Campuran
1. England (52)
2. Denmark (21)
3. China (12)
4. Korea (10)
5. Indonesia (5)
6. Ireland (3.5)
7. Switzerland (1)
8. United States (1)
9. Malaysia (0.5)
10. Scotland (0.5)
11. Sweden (0.5)
Total = 107

sumber=wikipedia.org

13/03/2017

😱😱😱

Photos 12/03/2017

Final All England

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Hong Kong?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address

Hong Kong