Pataba Press

Pataba Press

Share

Pataba Press adalah tindak lanjut dari Perpustakaan Pataba yang berdiri sejak 30 April 2006, demi untuk mencapai masyarakat Indonesia membangun.

19/01/2026

Get • Di negeri yang lebih s**a mengutuk sebelum memahami, teori mudah disulap jadi tuduhan. Padahal ideologi, apa pun namanya—ditentukan oleh siapa yang menjalankannya. 😊📚✨


— — —
Cintai otakmu, baca buku tiap hari…
Cintai mentalmu, menulislah tiap hari…

Photos from Pataba Press's post 05/01/2026

MASTOER BAPAK KAMI

Ketika kita membaca atau mendengar nama Toer ingatan kita akan tertuju kepada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia. Toer, atau secara lengkap Mastoer, merupakan ayahanda dari Pramoedya Ananta Toer. Beliau merupakan tokoh pendidikan Blora yang telah melahirkan keluarga penulis di Indonesia yang hari-hari terakhir hidupnya Pramoedya Ananta Toer abadikan dalam novel Bukan Pasar Malam.

Buku ini merupakan kumpulan wawancara, surat, pernyataan, dan kenangan orang-orang yang mengenal Toer secara langsung, baik itu anak, rekan kerja, tetangga, maupun saudara. Semua data itu
dikumpulkan kemudian disusun menjadi buku ini.

Dalam buku ini kita akan mengetahui bahwa ternyata sebelum melahirkan Pram sang ibu sempat keguguran, Pramoedya Ananta Toer juga tidak lahir di Jetis, yang sekarang menjadi Rumah Masa Kecil Pramoedya Ananta Toer sekaligus Perpustakaan Pataba, dan banyak hal-hal baru lain yang selama ini belum banyak khalayak ketahui, baik yang menyangkut sejarah lokal Blora pada khususnya maupun sejarah nasional pada umumnya sejak zaman Belanda, zaman Jepang, kemerdekaan, dan revolusi di mana Toer
ikut ambil bagian.

Penulis: KOESALAH SOEBAGYO TOER
Penyunting: BENEE SANTOSO
Penerbit: PATABA PRESS
Bahasa: Indonesia
Cetakan pertama: Mei 2022
Tebal buku: x + 198 halaman | bookpaper
Ukuran: 14 x 20,5 cm | soft cover
ISBN: 978-602-5604-63-8
Berat: 210 gram
Harga: Rp 70.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Photos from Pataba Press's post 22/08/2024

with .repost
・・・
[Post-It Bookstagram]

Tentang program baca karya terjemahan Koesalah Soebagyo Toer, buku-buku yang sudah kubaca dari sana, dan setumpuk buku lain yang belum sempat dibaca.

Ngomong-ngomong, baru ngeh kalau nama Anton Chekhov salah tulis (maaf).

****
I'm going to take a break from posting for a while starting tomorrow. My days have been super packed with outside events and data projects, I'm running out of things to share 😅 Hopefully I'll actually have something to share by next Tuesday! Godspeed 🙏🏻🤞🏻

pen: Sarasa 1.0

16/06/2023

with .repost
・・・
SANG FLAMBOYAN

Judul Buku: Sang Flamboyan
Pengarang: Nila Auriga
Penerbit:
Tahun Terbit: 2020
Halaman: 204
ISBN: 978-602-5604-21-8

Kalian mau membaca buku dengan kisah yang lumayan ekstrem? Ekstrem bagaimana? Jadi seperti ini….

Sang Flamboyan menggunakan sudut pandang orang pertama dengan paduan alur campuran, jadi pada bagian awal kalian akan dihidangkan jamuan kisah dengan tanda tanya besar. Ini seriusan. Saya saja sampai hah heh hoh, setiap akhir bab selalu menggantung, rasanya tidak ingin berhenti membaca. Sampai akhirnya kisah dijelaskan secara eksplisit melalui kilas balik sampai masa depan, saya tambah hah heh hoh.

Ada isu warna kulit (sedikit), biseksual, ketertarikan dengan usia berbeda, problem rumah tangga (implisit), dan hal yang tidak asing lainnya.

Jadi, tokoh utama ini s**a dengan teman ayahnya, usia mereka berbeda jauh, d**g, ya, that’s why saya bilang “lumayan ekstrem”. Belum lagi plot twist tentang biseksualnya. By the way hal tidak asing yang saya maksud itu seperti, ibu-ibu tukang banding antar anak si A dengan si B, si tukang komentar tentang mimpi seseorang, percintaan anak sekolah, ya kurang lebih seperti itu.

Lalu, kalian tahu, kan, biseksual? Ketertarikan dengan dua gender, jadi dia s**a perempuan, s**a laki-laki juga gitu, lho. Menarik banget, deh, pokoknya buat dibaca. Kalian bakal dibuat bertanya-tanya, berhah-heh-hoh ria, sampai mendapatkan akhir yang menurut saya realistis.

Penasaran? Gas langsung baca. Saya jamin tidak akan menyesal.

4⭐️

10/09/2022

with .repost
• • • • • •
Suatu ketika, pada suatu malam, kala pandemi belum menyerbu Merjosari Empire, kami berdiskusi asyik bersama Mbah di Oase lantai 3. Tampak beliau sedang meminum wedang uwuh khas Oase.

Pada meja yang sama ada Bang dan (pegiat literasi nasional). 😁

Ada yg kangen suasana kayak gini lagi nggak ges? 😁

08/09/2022

with .repost
• • • • • •
Mastoer berpulang ketika usianya 54 tahun. Mastoer termasuk orang yang keras bicaranya, ketawanya, bersinnya, dan dengan sendirinya juga batuknya. Pada suatu malam Mastoer kaget, batuk yang ia muntahkan keluar jendela barat adalah darah.

Ia harus masuk rumah sakit di Tempelan, satu-satunya di Blora. Kondisinya terus merosot. Ia menyadari tak ada kesembuhan baginya. Mastoer minta dibawa pulang. Selanjutnya dapat dibaca buku 'Bukan Pasar Malam'. Tulisan Pramoedya Ananta Toer, yang sengaja ditulis agar tidak lupa semua ucapan Mastoer. Agaknya buku itu bukan sekadar dokumentasi keluarga.

Adapun Pak Soeripan mengatakan, "Dalam pandangan politik, Pak Toer orang yang taat dan kokoh. Tidak gampang ikut sini ikut sana. Karena itu pandangan orang kepadanya tak pernah berubah. Tidak mengherankan kalau waktu Pak Toer meninggal begitu banyak orang melayat […] di Blora ini cuma ada tiga orang yang dilayat begitu banyak orang, yaitu Pak Toer, Pak Ratmodjo bekas guru Zending, dan Nyah Atak."

Mastoer meninggal pada Jumat Wage, 25 Mei 1950 dan dimakamkan di Sasana Lalis, Kunden, Blora.

Koesalah Soebagyo Toer, Mastoer Bapak Kami, , 2022

Photos from Pataba Press's post 07/09/2022

with .repost
• • • • • •

***
Sinopsis:

Kuteks Merah
Aku ini seperti kuteks merah,
merona berapi-api.
Memperelok jemari genitmu.
Untuk kepesta atau ke pasar pun cocok-cocok saja.
Namun, jika kau sudah bosan,
semudah itu kau hapus dengan aseton!

Selengkapnya coba baca karya terbitan

03/09/2022

Tamu Impian
Oleh
28 Agustus 2022, 08:52:58 WIB

Saya lahir ketika keluarga dalam keadaan bangkrut. Waktu itu dunia terancam oleh perang. Kelaparan merajalela. Efek yang utama buat diri pribadi adalah jadi anak yang bodo, nggrangsang, dan gudikan.

Ketika kelas IV SD saya tidak naik karena penyakit patek dan ketika kelas III SMP (Taman Siswa) tidak lulus ujian. Waktu itu persentase kelulusan ujian negeri sekitar 40 persen. Tahun 1954 saya mau ujian lagi. Kalau tidak lulus lagi, saya berencana mau keliling Indonesia naik sepeda. Termotivasi zamannya.

Waktu itu ada empat orang Indonesia yang mau keliling dunia jalan kaki, yang dipimpin oleh pejantan dari Sulawesi bernama Lawalata. Kabar terakhir yang saya tahu dari surat kabar, Lawalata terdampar di Jerman Barat dan kawin dengan janda de oude afroditen, pengusaha sapi perah. Seorang anggota lain sampai di New York dan mendapat kesempatan bicara di suatu sidang WHO. Kalau tidak salah dia bernama Haryono.

Kalau Lawalata gagal, saya justru membatalkan diri karena lulus dengan nilai matematika hebat. Waktu itu saya berumur tujuh belas tahun. Kepingin kawin dengan babu yang berusia dua puluh tahun lebih tua, seperti Maxim Gorky dari Rusia yang kisahnya bisa kita baca dalam Cinta Pertama, atau Gustave Flaubert dari Prancis. Pengalaman tragis-romantis itu telah saya tulis menjadi buku anak-anak berjudul Indra Tualang Si Doktor Kopi yang lumayan laku.

Selengkapnya baca di https://www.jawapos.com/minggu/halte/28/08/2022/tamu-impian/

Photos from Pataba Press's post 27/08/2022

with .repost
• • • • • •

***
Sinopsis:

“Cinta adalah sesuatu yang agung, dan keagungan cinta setiap orang mengartikannya sendiri-sendiri. Kalua pandangan seseorang terhadapnya lain, itu bukan berarti ia tidak benar. Cinta adalah sesuatu yang relatif. Namun ia bersemayam di mana pun juga selama
manusia masih hidup. Kematian adalah akhir dari manusia, akhir dari cintanya. Karena itu peliharalah ia selama masih hidup.”

Mungkin ini adalah novel terbaik karya Soesilo Toer. Ekspresif, romantis, humoris, sekaligus tragis. Berisi banyak renungan kehidupan dan tentu saja CINTA…

Selengkapnya di buku karya terbitan

24/08/2022

with .repost
• • • • • •
Haloo sahabat Huda👋
Ilmu merupakan investasi di waktu mendatang yah. Silakan mencari ilmu sampai ke negeri Cina!!





Beradab-Berilmu-Beramal

23/08/2022

with .repost
• • • • • •
Rumpang nilai adalah gejala yang harus dimamah biak kritikus maupun penggemar sastra. Hal itu karena ketiadaan standar dalam menilai hasil karya seseorang.

Kritikus, selain jumlahnya sedikit, diragukan kepiawaiannya dalam menilai. Sedangkan nilai sastra makin tak menentu. Ada yang menyatakan kebebasan berkreasi menjadi syarat mutlak bagi kelahiran karya bermutu. Sebaliknya, banyak karya besar lahir ternyata dalam ketiadaan kebebasan, penindasan, pengucilan dan ketidakmampuan fisik.

Mereka antara lain, Dostojevski, Ostrovski, Boris Pasternak, Aleksandr Solzhenitsyin, Braille, Thomas Alva Edison, Stephen William Hawking, dst.

Rumpang nilai pun tak hanya dilakukan kritikus baik karena sentimen profesi dan dendam pribadi turut bicara, belum lagi unsur kekuasaan ikut campur. Jadi sampai sekarang belum banyak kritik yang mengemuka terhadap karya-karya Pramoedya. Paling banter bunga rampai yang cepat menghasilkan karya populer yang artinya tentu saja soal uang.

Bunga rampai tersebut memadai secara jumlah namun memprihatinkan dalam skala mutu. Dalam altar kesusastraan Indonesia sulit menjumpai pendapat mandiri dan asli. Di samping s**ar mengakumulasi semua karya Pramoedya.

Pram Dalam Kelambu, Soesilo Toer, Pataba Press Blora, cetakan pertama Februari 2015.

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Blora?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Jalan Pramoedya Ananta Toer (ex Jalan Sumbawa) No. 40
Blora
58214