Biro Training Motivasi Guru

Biro Training Motivasi Guru

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Biro Training Motivasi Guru, Alun Alun Taman Merdeka, Pangkalpinang.

Outbond & Motivation Training For Ganesha Operation 12/04/2016

Sunday, 10 April 2016

Photos from Biro Training Motivasi Guru's post 19/09/2015
27/08/2015

FamilyGuide

:: Hutang Kepada Anak-Anak Kita ::

Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiaka. Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita. Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.

Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan. Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya. Lebih baik dari sebelumnya." (Sumber: Fahd Pahdepie, http://kisah-renungan.blogspot.com/)

Please like and share!

23/08/2015

Empat Dosa Orang Tua Terhadap Anak

Kebanyakan kita mendidik anak seperti orang tua kita dulu mendidik kita. Ada yang berhasil, tapi tidak sedikit p**a yang gagal. Hanya saja orang tua banyak yang mengulang kesalahan yang dibuat orang tuanya dulu dalam mendidik anak. Setidaknya terdapat empat kesalahan atau dosa orang tua terhadap anak yang seringkali kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Memberi Label Buruk
Dosa yang pertama adalah memberikan label buruk pada anak. Secara tidak sadar orang tua sering melontarkan kata-kata yang merendahkan anaknya. Ungkapan “kamu malas, kamu bodoh, kamu tidak bisa diharapkan” adalah hal yang biasa kita temukan dalam keseharian. Orang tua secara tidak langsung memberi cap anaknya dengan cap yang sangat buruk yang mereka sendiri tidak berharap seperti itu. Namun kita adalah apa yang kita dan orang lain labelkan pada diri kita. Jika anak sering mendengar kata-kata yang merendahkan, ia akan hidup dengan membawa rasa rendah diri. Jika ia sering diberi cap pemalas, cepat atau lambat dia akan percaya bahwa dirinya memang malas. Bahkan yang lebih parah dia seringkali membuktikan pada sekelilingnya bahwa dia memang anak yang malas. Meski suatu kali dia berperilaku rajin, dia sendiri akan menganggapnya sebuah hal yang kebetulan.

Bayangkan betapa malangnya anak yang tumbuh dengan pikiran negatif seperti ini. Ia akan membawa seumur hidupnya label buruk pada dirinya tersebut. Padahal yang dibutuhkan seorang anak adalah kata-kata yang menyemangati dan membesarkan hatinya. Bukan sebaliknya. Mestinya anak diperlihatkan sisi positif dirinya, bukan bagian negatifnya. Anak yang menurut kita malas, barangkali punya kelebihan fisik yang kuat atau tangkas berolahraga. Harusnya bagian positif itulah yang sering kita ingatkan setiap saat kepadanya. Jangan lupa, setiap anak itu cerdas dan cerdas jangan selalu diartikan harus selalu rangking satu di kelas.

Membandingkan
Ini dosa lain yang tidak kalah berbahayanya bagi perkembangan anak. Orangtua teramat sering membandingkan salah seorang anaknya dengan saudaranya yang lebih baik atau anak tetangga yang lebih berprestasi. Ada orang tua yang mengatakan “Lihat tuh kakakmu, selalu juara kelas. Kamu 10 besar pun tidak.” Atau “ Tuh contoh anak Om Anton, diterima di UI. Kamu? Kuliah di jurusan nggak jelas!.”

Kita bisa bayangkan anak yang selalu dibandingkan dengan saudaranya yang menurut kita lebih baik. Ia akan hidup dalam perasaan tidak diterima oleh orang tuanya sendiri. Jika anak merasa seperti itu, dimana lagi mereka bisa berharap akan diterima. Sebab, orang yang tidak bisa bahagia di tengah keluarganya sendiri, maka dia tidak akan pernah bisa bahagia dimanapun. Kalau pun dia mencoba mencari sumber kebahagiaan di tempat lain, maka tempat lain itu biasanya adalah tempat yang berbahaya baginya. Maka jangan heran jika anak mencari kebahagiaan dengan alkohol, narkoba, seks bebas dan lain-lain. Sebab ia tidak pernah memperolehnya di rumah sendiri.

Memaksakan Kehendak
Mungkin kita punya tetangga yang anaknya les tujuh hari seminggu. Senin-Kamis les matematika, Selasa-Jum’at les bahasa Inggris, Rabu-Sabtu les piano. Sorenya bikin PR. Malam belajar lagi. Begitulah setiap hari. Anak yang masih usia SD atau SMP memiliki kehidupan seperti orang dewasa yang berkarir. Ia seperti punya kehidupan sendiri. Layaknya miniatur orang dewasa. Bahkan waktu bermainnya telah dirampas oleh berbagai les yang sebenarnya belum tentu bermanfaat ketika ia besar nanti.

Lucunya, orangtua berkilah bahwa itu keinginan si anak. Padahal menurut ahli psikologi, anak yang belum berusia 9 tahun, sebenarnya belum memiliki keinginannya sendiri. Keinginan mereka adalah keinginan orang tua nya. Celakanya, orangtua seringkali menuangkan keinginannya pada anak tanpa ia sadari. Bahkan secara tidak sadar, keinginan orangtua yang tidak kesampaian dalam kehidupannya di masa lalu, di balaskan kepada anak. Ada orangtua yang gagal kuliah di kedokteran, maka berharap sangat anaknya ada yang jadi dokter. Maka si anakpun dipersiapkan dari kecil. Memasukkan ke berbagai les, memanjakan dengan fasilitas mewah serta menyekolahkan ke sekolah-sekolah elit. Jika si anak tidak mampu, maka orangtuapun menggunakan berbagai cara agar cita-citanya tadi tercapai.

Apalagi sistem pendidikan kita memungkinkan untuk itu. Lihatlah berapa banyaknya pilihan les yang ada. Sekolahpun biayanya selangit. Di universitas juga lebih parah lagi. Konon untuk masuk kedokteran di Universitas Airlangga calon mahasiswa dikenakan biaya 800 juta. Biasanya inilah yang diinginkan sebagian orangtua. Dengan uang, mereka bisa membuat anak seperti keinginannya.

Menyuruh yang Tidak Dilakukannya
Perintah orang tua kepada anak sering tidak bermakna karena tidak adanya keteladan. Ada bapak yang melarang anaknya yang masih SMP merokok. Padahal ia sendiri menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari. Ada ibu yang menyuruh anaknya belajar dan rajin membaca, sementara si ibu sendiri nyaris tak pernah lepas dari sinetron kesayangannya. Atau ada orangtua yang ingin anaknya menjadi anak yang shaleh, rajin shalat dan selalu mendoakan ibu bapaknya. Si anakpun disekolahkan di sekolah Islam yang bagus dan mahal. Namun di rumah si anak tidak pernah melihat ayahnya shalat. Paling sekali seminggu, Jum’atan.

Kalau seperti ini, tentu anak tak akan pernah seperti yang kita inginkan. Bagi mereka sebuah contoh nyata jauh lebih berpengaruh dari seribu kata-kata perintah tanpa keteladanan. Para pemimpin yang berhasil dalam sejarah adalah mereka yang satunya kata dan perbuatan. Lidahnya adalah hatinya, ucapannya adalah perbuatannya. Orang tua yang berhasil dalam sejarah juga adalah orang tua yang mengutamakan keteladan dalam mendidik anak.

Jadi, mari kita didik anak dengan hati serta keteladanan. Di kehidupan yang penuh dengan kebohongan dan ketidakjujuran, keluarga menjadi tempat utama anak-anak akan menjadi pelopor kebaikan. Baik bagi orang tuanya, bangsanya dan juga agamanya.

Math, English, and Science Training for Active Learning 17/06/2015
Photos 14/12/2014

Jika Anak

Photos from Biro Training Motivasi Guru's post 14/12/2014

TAMT's Inspirational Pictures (Like & Share it )

09/12/2014

Ia yang merasa paling benar, bahkan tidak perlu lagi melihat kebenaran yang ada untuk menyalahkan.

Ia yang merasa paling benar, cenderung akan arogan untuk menolak kebenaran dari orang lain.

Ia yang merasa paling benar, menjadi sibuk untuk melihat kesalahan dan menghakimi selain dirinya.

Ia yang merasa paling benar, hidup dalam kebenarannya sendiri, sehingga tak dapat menemukan kesalahannya.

Sungguh kasihan bila demikian. Kebenarannya: Tidak perlu merasa paling benar untuk hidup dalam Hakekat Kebenaran

^^^Selamat Pagi,
Semangat yah mencari Rezeki yang Berkah hari ini^^^
(Salam TAMT, Salam Super Guru Luar Biasa)

08/12/2014

"Kita semua memiliki kekuatan dalam batin kita. Jadi apa yang kurang? jika kamu punya tekat, kamu dapat mengubah apapun. kamu adalah guru bagi dirimu sendiri." (Dalai Lama)
^^^Selamat Malam, Selamat Beristirahat^^^
(Salam TAMT, Salam Super Guru Luar Biasa)

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Pangkalpinang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Alun Alun Taman Merdeka
Pangkalpinang
33684