Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang

Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang

Share

Semoga Cahaya Pengetahuan Menjadi Suluh Bagi sang Jiwa

01/09/2026

POHON BILWA DALAM SPIRITUAL HINDU

Pohon Bilva (atau Vilva, dikenal secara ilmiah sebagai Aegle marmelos dan di Indonesia sering disebut pohon bila/maja) memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi dalam tradisi Hindu, terutama pada mazhab Shaivisme.

​Makna Spiritual Pohon Bilva dalam Hindu
​Pohon Bilva dianggap sebagai salah satu tanaman paling suci karena manifestasi energi keilahian di dalamnya:

​Persembahan Utama untuk Dewa Siwa: Daun Bilva (Bilva Patra) adalah sarana pemujaan (upacara) paling utama bagi Dewa Siwa. Konon, mempersembahkan selembar daun Bilva dengan tulus setara dengan melakukan ribuan ritual atau pemujaan.

​Simbolisme Daun Trifoliate (Tiga Helai): Tiga helai daun dalam satu tangkai Bilva melambangkan berbagai konsep fundamental Hindu:
​Trimurti: Brahma (Pencipta), Vishnu (Pemelihara), dan Shiva (Pelebur).
​Tiga Guna: Sattwam, Rajas, dan Tamas.
​Trinetra: Tiga mata Dewa Siwa.
​Tiga Senjata Siwa: Trishula (Tombak cabang tiga).
​Dianggap Kediaman Para Dewa: Dalam literatur Purana dan Veda, pohon Bilva diyakini memancarkan energi positif (satvik) yang sangat murni. Daun dan akarnya dipercaya menjadi tempat bersemayam berbagai manifestasi energi keilahian, termasuk Dewi Lakshmi.

​Hubungan Pohon Bilva dengan Rsi Agastya
​Rsi Agastya adalah salah satu Saptarshi (tujuh maha rsi suci) yang memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran Veda, Shaivisme, dan ilmu pengobatan Siddha ke wilayah India Selatan (Siddha/Tamil) serta Nusantara. Hubungan antara Rsi Agastya dan pohon Bilva mencakup beberapa aspek utama:

​1. Pembikinan Bilvashtakam dan Gita Pujian
​Rsi Agastya diyakini dalam tradisi lisan dan manuskrip Shaiva sebagai salah satu Rsi yang menyusun atau mempopulerkan sloka-sloka pemujaan (stotram) yang mengagungkan keutamaan daun Bilva, seperti Bilvashtakam (delapan bait pujian untuk daun Bilva). Sloka terkenal yang sering dihubungkan dengan ajaran beliau menegaskan:

​"Tridalam Trigunakarham Trinetram Cha Triyadhusham, Trijanma Papa Samharam Eka Bilvam Shivarpanam"
(Aku mempersembahkan selembar daun Bilva berkeping tiga kepada Dewa Siwa, yang menghancurkan dosa dari tiga kelahiran).

​2. Pelindung Tradisi Siddha Medical/Ayurveda
​Selain makna ritual, Rsi Agastya dikenal sebagai bapak ilmu pengobatan Siddha Medicine. Dalam ajaran Agastya Siddha:
​Pohon Bilva dipandang sebagai tanaman obat (Aushadhi) yang luar biasa kaya akan manfaat pembersihan racun (detoxification), baik fisik maupun spiritual.
​Bagian buah, daun, dan akar Bilva digunakan oleh Rsi Agastya untuk penyembuhan pencernaan, pembersihan pikiran saat meditasi, serta penyeimbang energi Vata, Pitta, dan Kapha.

​3. Praktek Penataan Hutan Suci (Vilva Vanam)
​Saat Rsi Agastya melakukan perjalanan ke wilayah Selatan (pegunungan Podhigai/Malayagiri) atas perintah Dewa Siwa untuk menyeimbangkan bumi, beliau kerap mendirikan ashram di tengah hutan Bilva (Vilva Vanam). Beliau mengajarkan para pengikutnya untuk memuja Shivalinga di bawah naungan pohon Bilva sebagai tempat meditasi yang memiliki getaran spiritual paling stabil.

​4. Penggunaan Kayu Bilva sebagai Tongkat Suci
​Dalam beberapa penggambaran teks kuno, para rsi tingkat tinggi seperti Rsi Agastya menggunakan tongkat meditasi yang dibuat dari kayu pohon Bilva (Bilvadanda), karena kayu tersebut dipercaya memiliki kemampuan alami untuk menghalau energi negatif dan memelihara daya pertapaan (tapasya).

​Penjelasan mengenai keutamaan daun Bilva dalam pemujaan Dewa Siwa disajikan dalam video berikut: Why Shiva is offered Bael Bilva leaf. Video ini relevan karena mengulas filosofi spiritual di balik pengagungan daun Bilva yang menjadi bagian penting dari tradisi Shaivisme yang diusung oleh Rsi Agastya.

30/08/2026

MAHA RSI AGASTYA SOSOK YOGI JAWA DWIPA DALAM AGASTYA PARWA

Rsi Agastya adalah salah satu Maha Rsi paling dihormati dalam tradisi Hindu, sastra Veda, Itihasa (Ramayana & Mahabharata), Purana, hingga dalam perkembangan ajaran Hindu di Nusantara (khususnya Jawa dan Bali).

​Keagungan, kesaktian, serta latar belakang mitologisnya membuat beliau memiliki berbagai nama, julukan, dan gelar spiritual:

​1. Gelar Utama & Penghormatan Spiritualitas
​Bhatara Guru: Di Nusantara (Jawa dan Bali), Rsi Agastya dihormati sebagai manifestasi/perwujudan Dewa Siwa di dunia yang bertugas mengajar kebenaran (Dharma), etika, dan ilmu pengetahuan rohani.
​Maha Rsi / Rsi Agung: Gelar kehormatan tertinggi sebagai salah satu penyebar agama Hindu dan penerima wahyu Veda.
​Saptarshi: Salah satu dari tujuh Rsi utama (orang suci terpilih) yang menjaga keseimbangan alam semesta.
​Agathiyar (அகத்தியர்): Nama sebutan beliau dalam tradisi Tamil (India Selatan), di mana beliau dihormati sebagai Bapak Pengobatan Siddha dan pencipta tata bahasa Tamil kuno (Agattiyam).

​2. Gelar Berdasarkan Legenda Mutakhir (Epithet Sakti)
​Vindhyakuta / Aga-mardi: "Penakluk/Penumbal Gunung Vindhya". Berasal dari kisah saat beliau memerintahkan Pegunungan Vindhya untuk menunduk dan berhenti tumbuh tinggi agar tidak menghalangi lintasan matahari dan bulan.
​Pitabdhi / Samudrachuluka: "Peminum/Pengering Samudra". Gelar ini didapat setelah beliau meminum seluruh air samudra dalam sekali teguk untuk membantu para dewa menemukan raksasa/daitya yang bersembunyi di dasar laut.
​Pitasagara (Pita Sagara): "Bapak dari Lautan". Julukan ini populer di Asia Tenggara (termasuk Nusantara) karena keberanian beliau mengarungi lautan luas demi mengemban misi penyebaran ajaran Dharma (Agastya Yatra).

​3. Nama Berdasarkan Asal-usul Kelahiran (Kumbha)
​Menurut Rigveda dan Purana, Rsi Agastya lahir secara ajaib di dalam sebuah kendi/ketiwul (kumbha) tempat bersemayamnya benih suci Dewa Mitra dan Dewa Varuna. Oleh karena itu beliau dijuluki:
​Kumbhajata / Kumbhaja: Yang lahir dari sebuah pot/kendi.
​Kumbhayoni: Yang rahimnya (yoni) berupa pot air.
​Kalasisuta / Ghatodbhava: Putra dari kendi suci.
​Maitravaruni: Putra dari Dewa Mitra dan Dewa Varuna.
​Aurvasiya: Yang lahir karena terpesona oleh ketampanan/kecantikan Apsara Urvasi.

​4. Nama Berdasarkan Astronomi & Kosmologi
​Canopus (Bintang Agastya): Dalam navigasi dan astronomi Hindu kuno, nama Agastya diabadikan menjadi nama bintang Canopus (bintang terterang kedua di langit malam). Bintang ini dianggap sebagai penanda pembersih air dan navigasi para pelaut.

30/08/2026

BHAGAWAD GITA 18.18

I GEDE ADNYANA

Bhagavad Gita Bab 18 Sloka 18 (18.18) membahas tentang faktor pendorong perbuatan (karma-codanā) dan unsur pembentuk perbuatan (karma-saṁgraha). Sloka ini menjelaskan bagaimana suatu tindakan berproses dari tahap pemikiran hingga menjadi aksi nyata.
​Berikut adalah isi Sloka Bhagavad Gita 18.18:
​Teks Sansekerta (Aksara Devanagari):

ज्ञानं ज्ञेयं परिज्ञाता त्रिविधा कर्मचोदना |
करणं कर्म कर्तेति त्रिविध: कर्मसङ्ग्रह: || १८ ||
​Transliterasi:

jñānaṁ jñeyaṁ parijñātā
tri-vidhā karma-codanā
karaṇaṁ karma karteti
tri-vidhaḥ karma-saṅgrahaḥ

​Terjemahan
​Sri Bhagavan (Krsna) bersabda:
"Pengetahuan (jnana), objek pengetahuan (jneya), dan si pengenal (parijnata) — ketiganya merupakan faktor pendorong perbuatan (karma-codanā). Alat perbuatan (karana), perbuatan itu sendiri (karma), dan si pembuat (karta) — ketiganya merupakan unsur pembentuk perbuatan (karma-saṁgraha)."
​Makna dan Penjelasan

​Sloka ini membagi proses terjadinya suatu tindakan (karma) menjadi dua tahapan utama:

​1. Tiga Pendorong Perbuatan (Karma-Codanā) — Tahap Mental/Niat
Sebelum suatu perbuatan terjadi secara fisik, ada dorongan internal yang memicunya. Dorongan ini terdiri dari tiga komponen:

​Jñāna (Pengetahuan): Pemahaman atau kesadaran akan sesuatu.

​Jñeya (Objek Pengetahuan): Sasaran atau hal yang ingin diketahui/dicapai.

​Parijñātā (Si Pengenal/Pelaku Jiwa): Diri atau subjek yang menyadari dan mengamati.

​Contoh: Ketika seseorang hendak menolong orang lain, ada individu yang sadar (parijnata), ada ide/rasa empati (jnana), dan ada kondisi orang yang membutuhkan pertolongan (jneya). Ketiganya bertemu menciptakan niat/dorongan untuk bertindak.

​2. Tiga Unsur Pembentuk Perbuatan (Karma-Saṁgraha) — Tahap Pelaksanaan Fisik
Setelah ada dorongan mental, aksi nyata terbentuk melalui tiga akumulasi komponen:

​Karaṇa (Alat/Instrumen): Indrawi dan organ tubuh (seperti tangan, mata, pikiran) yang digunakan untuk bertindak.

​Karma (Perbuatan): Aktivitas atau aksi fisik yang sedang berlangsung.

​Kartā (Si Pelaku): Agen atau individu yang menggerakkan instrumen untuk melakukan tindakan tersebut.
​Kesimp**an

​Melalui sloka 18.18, Sri Krsna mengajarkan bahwa tidak ada perbuatan yang terjadi secara kebetulan. Setiap tindakan selalu diawali oleh persepsi mental (karma-codana) sebelum akhirnya dieksekusi melalui instrumen fisik (karma-samgraha).

​Pemahaman ini menjadi dasar penting sebelum Sri Krsna menjelaskan bagaimana Pengetahuan, Perbuatan, dan Pelaku dipengaruhi oleh Tri Guna (Sattvam, Rajas, Tamas) pada sloka-sloka berikutnya (18.19–18.28).

30/08/2026

PENCIPTAAN DALAM JNANA SIDDHANTA

Dalam teks Jñānasiddhānta, proses penciptaan alam semesta (sṛṣṭi) dijelaskan melalui konsep emanasi atau pemancaran bertahap dari Kesadaran Agung (Paramāśiva). Alam semesta tidak diciptakan dari "ketadaan", melainkan dipancarkan dari wujud murni Tuhan melalui perubahan (pariṇāma) tingkat kesadaran.

​1. Sumber Utama: Paramāśiva (Nirguṇa)
Sebelum ada penciptaan, yang ada hanyalah Paramāśiva—realitas tertinggi yang bersifat Nirguṇa (tanpa wujud, tanpa sifat, Maha-Adikodrati, dan sunya). Dalam keadaan ini, potensi penciptaan masih berada dalam kondisi tertidur (niskala).

​2. Pemancaran Tiga Wujud Utama Śiva (Śiva-Tattwa)
Penciptaan dimulai ketika Paramāśiva menggerakkan energi-Nya (Śakti). Pemancaran ini melalui 3 tingkatan wujud:
​Niṣkala (Paramāśiva): Wujud murni yang belum terwujud, tanpa batas.
​Sakala-Niṣkala (Sadāśiva): Wujud antara—mulai munculnya kesadaran untuk mencipta. Di tahap ini timbul manifestasi suara halus (Nāda) dan titik energi (Bindu).
​Sakala (Bhaṭāra Śiva / Maheśvara): Wujud yang sudah memiliki sifat, personalitas, dan berinteraksi langsung dengan alam fisik.

​3. Munculnya Śakti dan Prapañca (Materi)
Energi kreatif Tuhan yang disebut Śakti terbagi menjadi beberapa aspek untuk menggerakkan penciptaan:
​Jñāna-Śakti: Energi pengetahuan untuk merancang ciptaan.
​Icchā-Śakti: Energi kehendak untuk memunculkan ciptaan.
​Kriyā-Śakti: Energi aksi/tindakan yang mewujudkan alam fisik.
​Dari interaksi Śakti ini, terbentuklah Pradhāna atau Prakṛti (unsur material dasar).

​4. Pembentukan Unsur-Unsur Pembentuk Alam (Tattwa)
Dari Prakṛti, penciptaan berlanjut ke tingkatan yang lebih padat hingga membentuk alam semesta fisik (bhuwana agung) dan tubuh manusia (bhuwana alit).

5. Prinsip Makrokosmos dan Mikrokosmos
Jñānasiddhānta menekankan bahwa proses penciptaan Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (tubuh manusia) adalah serupa dan saling mencerminkan:

​Unsur-unsur Pañca Mahābhūta yang membentuk bintang, bumi, dan laut adalah unsur yang sama yang membentuk tulang, darah, napas, dan panas tubuh manusia.

​Karena alam semesta dipancarkan dari Śiva, maka di dalam diri setiap makhluk hidup (mikrokosmos) juga bersemayam inti kesadaran Śiva tersebut.

30/08/2026

POHON PILIHAN UNTUK PROGRAM EKOTEOLOGI
PANCAWATI: LIMA POHON SUCI PERINTAH MAHA RSI AGASTYA

Istilah Panca Wati (Panchavati) secara harfiah berarti "lima pohon banyan/beringin suci" (dari kata Pancha = lima, dan Vata = pohon banyan/ara). Dalam tradisi Hindu dan kisah Ramayana, Panca Wati merujuk pada sebuah tempat suci di tepi Sungai Godavari (sekarang daerah Nasik, Maharashtra) di mana Sri Rama, Dewi Sita, dan Laksmana tinggal selama masa pengasingan di hutan (Dandakaranya).

​Untuk menjaga kesucian, energi spiritual, serta memberikan perlindungan di sekitar tempat tinggal tersebut, Rsi Agastya menyarankan Sri Rama untuk menanam/memanfaatkan lima jenis pohon suci di area tersebut.

​Lima Pohon Suci dalam Panca Wati
​Berikut adalah lima jenis pohon suci yang membentuk Panchavati beserta simbolisme spiritualnya:

1. ​Pohon Vata / Banyan (Beringin - Ficus benghalensis)
​Arah: Timur
​Simbolisme: Melambangkan keteguhan, umur panjang, dan perlindungan spiritual. Pohon ini diasosiasikan dengan Dewa Shiva dan Dewa Vishnu.

2. ​Pohon Ashwattha / Pipal (Ara Suci - Ficus religiosa)
​Arah: Barat
​Simbolisme: Melambangkan pengetahuan tertinggi (Jnana) dan keberadaan Ilahi. Menurut Bhagavad Gita, Dewa Krishna menyatakan Diri-Nya hadir di antara para pohon sebagai pohon Ashwattha.

3. ​Pohon Bilva / Maja (Aegle marmelos)
​Arah: Utara
​Simbolisme: Sangat disucikan untuk pemujaan Dewa Shiva. Daunnya yang berhelai tiga melambangkan Trimurti (Brahma, Vishnu, Shiva) serta menghilangkan energi negatif.

4. ​Pohon Dhatri / Amalaka (Malaka/Amla - Phyllanthus emblica)
​Arah: Selatan
​Simbolisme: Berhubungan erat dengan Dewi Lakshmi dan Dewa Vishnu. Pohon ini melambangkan kesehatan, kesucian, dan kemakmuran.

5. ​Pohon Ashoka (Saraca asoca)
​Arah: Tenggara / Pusat
​Simbolisme: Kata Ashoka berarti "bebas dari kesedihan". Pohon ini melambangkan kedamaian hati, keindahan, dan perlindungan dari duka.
​Makna dan Manfaat Spiritual Panca Wati
​Dalam ajaran Ayurveda dan Vastu Shastra, kombinasi penanaman kelima pohon ini membentuk medan energi positif (prana) yang sangat kuat, menyerap radiasi negatif, memurnikan udara secara maksimal, serta menciptakan suasana ideal untuk meditasi dan kehidupan rohani.



30/08/2026

PANCAWATI: LIMA POHON SUCI PERINTAH MAHA RSI AGASTYA

Istilah Panca Wati (Panchavati) secara harfiah berarti "lima pohon banyan/beringin suci" (dari kata Pancha = lima, dan Vata = pohon banyan/ara). Dalam tradisi Hindu dan kisah Ramayana, Panca Wati merujuk pada sebuah tempat suci di tepi Sungai Godavari (sekarang daerah Nasik, Maharashtra) di mana Sri Rama, Dewi Sita, dan Laksmana tinggal selama masa pengasingan di hutan (Dandakaranya).

​Untuk menjaga kesucian, energi spiritual, serta memberikan perlindungan di sekitar tempat tinggal tersebut, Rsi Agastya menyarankan Sri Rama untuk menanam/memanfaatkan lima jenis pohon suci di area tersebut.

​Lima Pohon Suci dalam Panca Wati
​Berikut adalah lima jenis pohon suci yang membentuk Panchavati beserta simbolisme spiritualnya:

1. ​Pohon Vata / Banyan (Beringin - Ficus benghalensis)
​Arah: Timur
​Simbolisme: Melambangkan keteguhan, umur panjang, dan perlindungan spiritual. Pohon ini diasosiasikan dengan Dewa Shiva dan Dewa Vishnu.

2. ​Pohon Ashwattha / Pipal (Ara Suci - Ficus religiosa)
​Arah: Barat
​Simbolisme: Melambangkan pengetahuan tertinggi (Jnana) dan keberadaan Ilahi. Menurut Bhagavad Gita, Dewa Krishna menyatakan Diri-Nya hadir di antara para pohon sebagai pohon Ashwattha.

3. ​Pohon Bilva / Maja (Aegle marmelos)
​Arah: Utara
​Simbolisme: Sangat disucikan untuk pemujaan Dewa Shiva. Daunnya yang berhelai tiga melambangkan Trimurti (Brahma, Vishnu, Shiva) serta menghilangkan energi negatif.

4. ​Pohon Dhatri / Amalaka (Malaka/Amla - Phyllanthus emblica)
​Arah: Selatan
​Simbolisme: Berhubungan erat dengan Dewi Lakshmi dan Dewa Vishnu. Pohon ini melambangkan kesehatan, kesucian, dan kemakmuran.

5. ​Pohon Ashoka (Saraca asoca)
​Arah: Tenggara / Pusat
​Simbolisme: Kata Ashoka berarti "bebas dari kesedihan". Pohon ini melambangkan kedamaian hati, keindahan, dan perlindungan dari duka.
​Makna dan Manfaat Spiritual Panca Wati
​Dalam ajaran Ayurveda dan Vastu Shastra, kombinasi penanaman kelima pohon ini membentuk medan energi positif (prana) yang sangat kuat, menyerap radiasi negatif, memurnikan udara secara maksimal, serta menciptakan suasana ideal untuk meditasi dan kehidupan rohani.

30/08/2026

PENYELARAS KOSMO DARI ZAMAN KUNO SEJALAN DENGAN FISIKA KWANTUM

I GEDE ADNYANA

Pandangan dunia organis yang dianut paham Fisika Kwantum menjelaskan segalanya bersumber dari energi. Alam ini terbentuk dari energi yang kekal itu, mulai dari tataran atom,sub atom hingga terciptanya jagat raya.

Leluhur kita sudah dari dulu memandang dunia ini bukan benda mati, ada kekuatan yang menggerakkan segalanya yang disebut hukum RTA. Dalam masyarakat tradisional hukum RTA diterjemahkan dengan kekuatan yang menghuni setiap tempat yang dianggap sakral atau disakralkan.

Lingga kancing Gumi adalah benda sakral yang dibuat oleh ilmuan-rohaniwan Hindu yaitu para Rsi untuk menyelaraskan frekwensi alam sehingga meminimalisir bencana. Demikian p**a candi, seperti candi Sukuh yang didalamnya terdapat Spatika Lingga sebagai jantungnya, adalah benda sakral yang dianggap memiliki kekuatan hidup untuk menjaga keseimbangan alam.
**********************************************"*"

LINGGA KRISTAL SEBAGAI TITIK PUSAT CANDI
Karṇikaṁ sphaṭikaṁ lingam

Hal menarik bahwa di dalam Candi Sukuh ditemukan lingga dari kristal (sphaṭika) pada tahun 2012 bersama dengan mangkok dan air. Kristal identik dengan Siwa dalam pujian Yama Raja Stawa sebagai pelindung dalam bahaya (padmāyudhādi-samare, sphaṭikaya bhaye namaḥ).

Mengapa ada lingga kristal dan mangkok air, terjaab dalam mantra Stuti Stava bagian Śivālaya Tattva 19 disebutkan:
Karṇikaṁ sphaṭikaṁ lingam, tathà ’sya kanakaṁ raja[ḥ]
su-gandhī-kṛtam àkhyàtaṁ, pàpànàm darśanena ca.

Terjemahan:
Yang titik pusatnya adalah sebuah lingga berwarna seperti kristal (berwarna bening); tepung-sarinya adalah emas (terbuat dari emas); ia harum dan tidak-ternoda oleh pelaku jahat.

Śivālaya artinya kediaman Siwa yang sama artinya dengan Siwa Graha. Jadi salah satu ciri dari Siwa Laya adalah sebuah lingga berwarna seperti kristal sebagai titik pusatnya (Karṇikaṁ: titik pusat; sphaṭikaṁ lingam: Lingga Kristal). Candi bercorak Siwa, dibangun dengan dedikasi tertinggi kepada Siwa untuk kesejahteraan dan keselamatan (rahayu) dengan titik pusatnya sphaṭika lingam.

29/08/2026

ATMAN DALAM JNANA SIDDHANTA

I GEDE ADNYANA

Dalam teks Jñānasiddhānta (kitab Siwa-Siddhanta/Tattwa Nusantara), pandangan mengenai Ātman sangat kental dengan teologi Śiva-Tattwa (monisme-pantheisme khas Jawa Kuno/Bali).
​Ātman dalam Jñānasiddhānta dipahami bukan sekadar sebagai jiwa individu yang terpisah, melainkan sebagai bentuk manifestasi dari Kesadaran Agung itu sendiri yang sedang terbungkus oleh batasan-batasan material.

​1. Hakikat Asli Ātman adalah Śiva (Śivātman)
Dalam kondisi murninya, Ātman tidak berbeda dengan Paramāśiva (Tuhan Yang Mahakuasa dan Tanpa Wujud). Teks ini menyebutkan bahwa sifat dasar Ātman adalah Caitanya (kesadaran murni), Nirguṇa (tanpa sifat material), dan Nityātman (kekal).
​Ātman dipandang sebagai percikan atau pancaran langsung (aṁśa) dari Śiva yang meresapi seluruh keberadaan.

​2. Kenaikan Tingkatan Kesadaran Ātman
Jñānasiddhānta menguraikan hierarki kesadaran atau tingkatan jiwa dalam proses spiritual:
​Jīvātman: Ātman yang masih terikat oleh badan jasmani, karma, dan kegelapan (māya / mala).
​Sadāśivātman: Ātman yang mulai menyadari hakikat spiritualnya melalui jalan jñāna (pengetahuan) dan yoga.
​Paramātman / Śivātman: Ātman yang telah bebas sepenuhnya dari belenggu material dan kembali bersatu dengan Paramaśiva.

​3. Belenggu yang Menutupi Ātman (Tri Mala)
Mengapa Ātman tidak menyadari identitas ke-Śiva-annya? Jñānasiddhānta menjelaskan bahwa Ātman diselimuti oleh belenggu kekotoran (pāśa atau mala):
​Āṇavamala: Ketidaktahuan mendasar yang membuat Ātman merasa dirinya terbatas dan terpisah dari Tuhan.
​Māyāmala: Keterikatan pada dunia fisik dan ikatan material.
​Kārmamala: Belenggu dari akibat perbuatan (karma) yang terus melahirkan lingkaran kelahiran kembali (saṁsāra).

​4. Pencapaian Pembebasan (Kalêpasan / Mokṣa)
Tujuan utama pengajaran Ātman dalam Jñānasiddhānta adalah Mokṣa atau Kalêpasan.
​Melalui pemahaman pengetahuan sejati (Jñāna) dan praktik Sad-Aṅga-Yoga, ketiga belenggu (mala) meluruh.
​Ketika belenggu lenyap, terwujudlah kondisi Śivasāyujya atau Śivatva—yaitu keadaan di mana Ātman menyatu kembali secara utuh ke dalam Paramaśiva, seperti air yang kembali menyatu ke dalam samudera.

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Samarinda?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Jalan Kapten Piere Tendean No 20 B, Kel. Bontang Kuala, Kec. Bontang Utara, Kota Bontang Kaltim
Samarinda
75312