Rompang ical

Rompang ical

Share

šŸ‘‰ Sukses dunia akhirat
šŸ‘‰ MOTIVASI, CERITA KEHIDUPAN
šŸ‘‰ Quotes kehidupan sehari-hari

13/05/2026

Kadang kita sibuk menutupi panasnya hidup… sampai lupa ada hal kecil yang bikin orang lain salfok šŸ˜­šŸ˜‚
Ibu ini nggak sadar kalau ada ā€œCDā€ nyangkut di helmnya pas di jalan. Auto jadi pusat perhatian warga 🤣🩲

08/05/2026

Viralll.. Seorang guru honorer bernama Dedi Mulyadi di Pandeglang, Banten, menjadi sorotan karena dedikasinya dalam dunia pendidikan. Sejak 2007, ia mengajar di sebuah sekolah dasar di pelosok desa dengan fasilitas terbatas. Mirisnya, ia hanya menerima upah sekitar Rp12.000 hingga Rp12.500 per hari, atau sekitar Rp300 ribu per bulan tergantung kehadiran.
Penghasilan tersebut pun tidak selalu diterima tepat waktu karena bergantung pada pencairan dana BOS, bahkan kerap dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengajar dan
mencerdaskan anak-anak di daerahnya. Dedikasi yang ditunjukkan menjadi gambaran nyata perjuangan guru honorer di Indonesia.
Semoga Pak Dedi dapat pejabat Negri Karna beliau lh pahlawan sesungguhnya,

08/05/2026

Kamu ini manusia atau hewan ...Pecahkan Rekor Raja Cabul! Aksi Gila Pengasuh Ponpes Pati Cabuli 50 Santriwati

Kasus dugaan pencabulan yang dilakukan pengasuh pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah, memicu kemarahan warga. Puluhan santriwati diduga menjadi korban selama bertahun-tahun dengan modus ancaman dan tekanan. Warga dan sejumlah organisasi menggeruduk lokasi, menuntut pelaku dihukum tegas dan proses hukum berjalan transparan.

08/05/2026

19 Tahun Mengabdi, Guru Honorer ini Hidup Terlunta-Lunta Tak Punya Tempat Tinggal
Memilukan! 19 Tahun Mengabdi, Guru Honorer Ini Kini Terancam Tak Punya Tempat Tinggal — Pak Ade (58), guru honorer yang digaji hanya Rp400 ribu per bulan, harus menghidupi istri dan 7 anak, termasuk satu anak disabilitas. Setelah anak bungsunya koma akibat kec*l*k**n dan biaya rumah sakit menghabiskan seluruh tabungan, kondisi keluarga ini makin terpuruk. Lebih pilu lagi, mereka selama ini hanya menumpang di ruang kosong bekas kelas yang kini sudah dirobohkan. Artinya, Pak Ade dan keluarganya kini kehilangan satu-satunya tempat berteduh dan terancam tidak punya tempat tinggal.
Seorang guru honorer bernama Pak Ade (58) harus menghadapi kenyataan pahit di usia senjanya. Setelah 19 tahun mengabdi sebagai pengajar dan guru ngaji sejak 2001, ia hanya menerima gaji sekitar Rp400 ribu per bulan.
Dengan penghasilan tersebut, Pak Ade harus menghidupi istri dan 7 anak, termasuk satu anak penyandang disabilitas. Sementara kebutuhan hidup keluarga mereka diperkirakan mencapai Rp2 hingga 3 juta per bulan. Keterbatasan ini membuat keluarga Pak Ade harus bertahan dalam kondisi serba kekurangan.
Cobaan semakin berat ketika anak bungsunya mengalami kec*lak**n hingga koma dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan yang membengkak memaksa keluarga ini menghabiskan seluruh modal usaha kecil yang sebelumnya menjadi penopang ekonomi tambahan.
Kini, kondisi ekonomi keluarga tersebut praktis lumpuh. Tak ada lagi pemas**an selain gaji honorer yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Lebih memprihatinkan lagi, selama ini Pak Ade dan keluarganya tidak memiliki rumah. Mereka menumpang tinggal di sebuah ruang kosong bekas kelas di sekolah tempat ia mengajar. Namun saat ini, ruang tersebut telah dirobohkan dan tidak lagi dapat digunakan.
Kondisi ini membuat Pak Ade, istri, dan ketujuh anaknya kehilangan satu-satunya tempat berteduh. Mereka kini dihadapkan pada ketidakpastian: harus tinggal di mana dan bagaimana melanjutkan hidup di tengah keterbatasan yang semakin berat.
Jika tidak segera mendapatkan bantuan, anak-anak Pak Ade berisiko putus sekolah, bahkan keluarga ini terancam kehilangan tempat tinggal secara permanen.

08/05/2026

Daftar Kuli4h Sembunyi2 M4lah Lol0s UI J4lur Be4sisw4šŸ‘
Kisah Margaret adalah salah satu cerita paling mengharukan dari seleksi mahasiswa baru tahun 2025. Ia adalah gadis asal pinggiran Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berhasil menembus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Ia tinggal di sebuah rumah kayu sederhana. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara kakaknya bekerja siang dan malam (seringkali hingga jam 2 pagi) untuk membantu biaya hidup keluarga

Keinginan Margaret untuk Kuliah di Kampus besar mendapatkan tanggapan negatif. Margaret sempat diremehkan oleh guru dan tetangganya karena kondisi ekonominya. Ia sering dicibir dengan kata-kata seperti

"misk!n kok ingin kuliah jauh"
dan bahkan sempat merasa trauma untuk mendaftar karena pernah disinggung soal tunggakan uang sekolahnya

Karena keraguan dan tekanan di sekitarnya, Margaret baru memberanikan diri mendaftar ke UI tepat dua hari sebelum penutupan SNBP pukul 02.00 dini hari tanpa sepengetahuan keluarganya. Hingga akhirnya keluarga tau setelah Margaret dinyatakan lolos di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. MasyaAllh 😳😯

Kisahnya menarik perhatian Dr. Sudibyo (dosen legendaris UI) dan Imam Santoso (influencer/dosen ITB) yang langsung terbang ke Kupang untuk menemuinya. Video Dr. Sudibyo yang menangis haru saat mendengar cerita Margaret di rumah kayu tersebut menjadi sangat viral di media sosial

Berkat kegigihannya, Margaret kini mendapatkan dukungan penuh berupa beasiswa, laptop, dan dana pendidikan dari berbagai pihak, termasuk kolaborasi dengan Paragon Corp. MasyaAllh 😭 šŸ„ŗā™„ļø

02/05/2026

Ini lagi... Ada2 aja kelakuan +62 ,niat becanda malah dibayar kontan


01/05/2026

Setiap baca kabar seperti ini rasanya hati ikut hancur.
Seorang ibu berangkat kerja membawa harapan untuk keluarga, menahan lelah, bahkan tetap memikirkan anaknya sampai membawa cooler bag ASI… tapi pulang hanya tinggal kabar dan rindu. 😭
Perjuangan seorang ibu memang tak pernah sederhana. Mereka pergi demi masa depan anak-anaknya, rela menahan capek, lapar, dan rindu. Namun ketika takdir berkata lain, yang tertinggal hanyalah air mata dan kenangan.

Semoga para korban husnul khatimah,ditempatkan di surga terbaik-Nya. šŸ¤²šŸ»
Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah beri keikhlasan menghadapi ujian seberat ini… Aamiin Ya Rabbal’alamin šŸ„€

01/05/2026

Miris rasanya melihat perjuangan seorang nenek yang tetap berjualan sayur di pinggir pasar sejak pukul 01.00 dini hari demi bertahan hidup.

Di tengah hujan deras dan udara dingin, beliau tetap setia menunggu pembeli meski tubuhnya basah kuyup. Sayurannya pun belum laku, bahkan banyak yang terkena air hujan.

Namun dengan penuh kesabaran, ia tetap bertahan… berharap ada rezeki kecil yang bisa dibawa pulang untuk kebutuhan sehari-hari.

Kisah seperti ini jadi pengingat sederhana bahwa di luar sana, ada orang yang berjuang jauh lebih keras hanya untuk bertahan hidup.

Kalau kita berada di posisi itu, sekuat apa kita untuk tetap bertahan dan tidak menyerah? šŸ„ŗšŸ’”

01/05/2026

Sering Dih1n4 dan Dibuang Ayah Ibunya, Fatan Menahan Sakit Bertahun-Tahun Tanpa Pengobatan😭
ā€œFathan s**a sedih kalau temannya b*lly perutnya yang terus membesar, tapi Fathan sudah maafkan teman-temannya..ā€
Fathan, bocah SD ini tumbuh tanpa ayah dan ibu di sisi. Ia hidup sedari kecil dengan nenek yang bahkan Fathan menyebutnya dengan panggilan ā€˜mamak’. Tak ada sosok ayah atau ibu yang hadir utuh. Yang ada hanyalah ā€˜mamak’, panggilan yang ia sematkan pada nenek yang menjadi satu-satunya pelindung dalam hidupnya.
Usia Fathan baru 8 tahun, tapi tubuhnya tak berkembang seperti anak-anak kebanyakan. Fathan kerap dib*lly karena perutnya kian membesar tak terkendali, kini capai 12 cm. Organ limpa dan hatinya terancam rusak. Malang Fathan tak pernah merasakan dekapan orang tuanya secara utuh, padahal ny*w*nya ter*nc*m tanpa pengobatan jangka panjang.
Kondisi Fathan tak bisa dibiarkan. Jika tak rutin transfusi, organ dalamnya akan makin terbebani dan jalan terakhirnya adalah operasi pengangkatan limpa. Ia butuh terus menjalani pengobatan, terapi, dan pemantauan medis secara rutin. Pilunya, keadaan ekonomi menutup semuanya.
Fathan didiagnosa derita Thalasemia Mayor, penyakit kelainan d*r*h berat uang membuat tubuhnya tak bisa membentuk hemoglobin dengan normal. Akibatnya, sejak bayi ia harus menjalani transfusi darah rutin, minimal dua minggu sekali. Jika terlambat, tubuhnya akan lemah, pucat, sulit bernapas, hingga perutnya membesar karena limpa dan hatinya bekerja terlalu keras.
Nasib kian perih sebab perjuangan Fathan dihadapi hanya berdua dengan sang nenek. Ayahnya tak pernah datang, ibunya jarang menjenguk. Neneknya hanya seorang buruh cuci. Penghasilan tak menentu, 20-70 ribu/hari, itu pun kalau ada yang memanggil.
Sementara kontrakan, ongkos ke Rumah Sakit di Pekanbaru dan kebutuhan sehari-hari Fathan tak bisa menunggu. Selama di Rumah Sakit, ia mencari pemas**an dengan membantu pasien lain, mencarikan d*r*h atau membelikan makan agar dapat imbalan sekedarnya.

30/04/2026

Di tengah gelap yang tak bisa ia lihat, Bu Risnawati justru menunjukkan cahaya keteguhan yang luar biasa.
Ia adalah seorang ibu tunggal dengan keterbatasan penglihatan, yang kini harus membesarkan dua anaknya seorang diri—Nur Akifah yang berusia 7 tahun dan adiknya yang masih balita. Hidupnya berubah sejak berpisah dengan suami pada awal tahun 2024, tepat saat sang bayi baru berusia tiga bulan. Sejak itu, tak ada lagi tempat bersandar selain dirinya sendiri.
Tak banyak yang tahu, perempuan sederhana ini pernah mengharumkan nama daerah sebagai Juara 1 Tilawatil Qur’an tingkat Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2022.

Namun hari ini, panggung yang ia hadapi bukan lagi perlombaan, melainkan kerasnya kehidupan.
Dengan kondisi tun4netra, ia tetap berusaha mencari nafkah. Setiap hari, ia berjalan kaki sejauh belasan kilometer, menjajakan snack dari satu tempat ke tempat lain. Dalam satu perjalanan, ia hanya membawa puluhan bungkus kecil dengan keuntungan yang sangat minim.
Perjuangan itu tak ia jalani sendiri—kedua anaknya selalu ikut bersamanya. Bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan. Tak ada yang bisa menjaga mereka di rumah.

Di sepanjang perjalanan itu, Nur Akifah menjadi mata bagi ibunya. Di usia yang seharusnya dipenuhi bermain dan belajar, ia justru memikul tanggung jawab besar—menuntun langkah ibunya, menjaga adiknya, dan membantu pekerjaan rumah.
Penghasilan yang didapat sering kali tak mencukupi. Ada hari-hari di mana mereka harus menahan lapar, menunggu hingga semua dagangan habis terjual baru bisa makan. Meski begitu, langkah Bu Risnawati tak pernah berhenti—ia terus berjalan, bahkan saat hujan turun atau tubuhnya kelelahan.
Yang membuat kisah ini begitu kuat bukan hanya tentang kesulitan yang mereka hadapi, tetapi tentang ketabahan dan cinta yang tak pernah luntur.
Nur Akifah tak pernah mengeluh. Ia menerima keadaan dengan hati yang lapang, setia mendampingi ibunya dalam setiap langkah.
Dan Bu Risnawati…
meski hidup dalam keterbatasan dan kegelapan, ia tetap berjalan tanpa ragu—
karena bagi seorang ibu, harapan anak-anaknya adalah cahaya yang tak pernah padam.

30/04/2026

Ya Allah, ini adalah tetes ASI terakhir dari malaikat-Mu yang telah pulang ke surga.

Mungkin saat melihat berita ini, hal pertama yang terlintas di pikiran kita adalah, "Kasihan bayinya, masih sekecil itu sudah ditinggal ibunya." Namun, jika kita melihat lebih dalam, luka yang dirasakan sang suami juga sungguh luar biasa hancurnya

Betapa berat beban yang kini ia pikul di pundaknya. Ia harus berjuang menata hatinya yang remuk karena kehilangan belahan jiwa, sembari berusaha tetap kuat demi membesarkan buah hati mereka sendirian.

Dunia seolah runtuh saat melihat ayah ini memeluk erat cooler bag berisi ASI milik mendiang istrinya. Di dalam tas kecil itu, tersimpan sisa perjuangan terakhir sang istri sebelum ajal menjemput—nutrisi kehidupan untuk bayi mereka yang kini takkan lagi bisa merasakan hangatnya pelukan ibu.

"Setiap tetes ASI itu adalah cinta yang ia titipk
an, sebuah janji yang ia jaga hingga napas terakhirnya."

Pasti hancur sekali hati bapak ini. Tas itu bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan jejak terakhir pengabdian seorang istri dan ibu yang sangat hebat. Semoga sang ayah diberikan kekuatan yang berlipat ganda, dan sang ibu mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya.

Surga yang indah untukmu, Ibu. Terima kasih telah berjuang hingga detik terakhir. ā¤ļø

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Tangerang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address

Tangerang