Creepypasta Indonesian

Creepypasta Indonesian

Share

SIAPKAN MENTAL DULU YA.. Promote this page..
@+[741195089281561:]

Rumus internet ga pake "+" Ya..

20/09/2014

Posted & Translate by -^jane^
Sumber : Wiki 13th Friday

Jason Voorhees part 2

Lima tahun kemudian, sebuah grup pemuda-pemudi datang ke Crystal Lake untuk menghadiri training konselor yang nantinya akan ada di Crystal Lake juga. Ketika beberapa konselor kembali ke kota untuk membeli beberapa barang, Ralph muncul lagi dan memperingatkan mereka semua, dan tentu saja mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut. Paul Holt, pemimpin grup tersebut, menjelaskan bagaimana pekerjaan mereka sebagai konselor sangat pening, dan bahaya utama di area tersebut adalah beruang. Saat malam hari mengelilingi api unggun, Paul menceritakan teman-temannya tentang kejadian Jason Voorhees dan tentang Alice, juga serangkaian pembunuhan aneh yang terjadi disana. Beberapa orang yang tinggal diwilayah dekat Crystal Lake mempercayai bahwa Jason masih hidup berkat selamat dari danau dan "melindungi" wilayah Crystal Lake. Paul yang menceritakan tidak terlalu percaya dengan cerita tersebut.

Ketika Paul dan asistennya, Ginny Field, berhubungan seks, Ralph berdiri di jendela dan tiba-tiba ia dibunuh. Keesokan harinya, dua konselor lain, Sandra dan Jeff, pergi ke Tempat Kamping Crystal Lake yang sekarang sudah tidak dirawat lagi. Mereka menemukan bangkai anjing yang mereka asumsikan sebagai anjing Terry. Lalu mereka dibawa oleh seorang polisi yang mengatakan bahwa tempat itu berbahaya. Saat mobil polisi berjalan, serorang pria bertopeng berlari memasuki batas Tempat Kamping Crystal Lake. Sang polisi mengejar orang itu dan tidak menemukan dia, selain sebuah kabin tua uyang berisikan barang-barang menakutkan. Kemudian, saat ia ingin berjalan keluar, triplek kabin dibelakangnya tertebas ujung palu yang tajam dan tertancap ke kepala polisi itu.

Setelah saling berkenalan dan berpartisipasi dalam acara-acara pelatihan, para pelatih itu meninggalkan tempat kamping untuk berpesta di kota. Enam konselor yang tersisa, Vickie, Mark, Sandra, Jeff, Terry, dan Scott dibunuh satu persatu.

Terry pergi ke danau untuk berenang telanjang dan Scott mengambil bajunya. Scott kemudian terkena jebakan untuk binatang dan tergantung. Terry melihatnya, dan berjanji akan membantu Scott nanti setelah kembali ke tempat kamping. Ketika Terry kembali, dia melihat Scott telah meninggal dan saat ia berusaha kabur, ia turut dibunuh oleh orang yang sama.

Kembali ke kabin, Sandra dan Jeff pergi ke atas sementara Vickie pergi ke kabinnya untuk beristirahat. Mark menunggunya dan ingin kembali ke kabin karena tiba-tiba badai datang. Kemudian seseorang memukul wajahnya dengan golok dan Mark meninggal setelah terjatuh dari tangga di luar tempat kamping. Penyerang itu, memasuki kabin dan pergi ke atas dan melihat sebuah tombak. Tombak itu digunakannya untuk membunuh Sandra dan Jeff. Vickie kemudian kembali ke kabin dan melihat mayat Sandra dan Jeff, kaki Vickie ditusuk dan didorong paksa sehingga sendinya patah. Lalu penyerang itu menusukkan pisau ke dadanya.

Ginny dan Paul kembali ke tempat kamping dan pada saat yang sama sang pembunuh telah menyeret mayat Sandra, Jeff, dan Vickie. Ginny dan Paul menyadari bahwa kabin utama tidak mendapatkan pasokan listrik. Ginny dan Paul pergi keatas dan melihat darah sisa pembunuhan Sandra dan Jeff. Paul diserang oleh penyerang yang memakai karung goni untuk menutupi kepala dan wajahnya. Ginny kabur sambil berteriak dan melihat mayat Ralph, ia segera melompati sebuah jendela.

Ginny kemudian dikejar oleh pembunuh itu. Ginny memasuki kabin tua untuk bersembunyi. Dikamar belakang ia melihat sebuah meja altar yang ditengahnya ada kepala Pamela Voorhees. Beberapa mayat korban terlihat disamping altar. Pembunuh itu ternyata adalah Jason Voorhees. Ia yang dikira telah mati, berhasil selamat dari ketenggelamannya dan hidup di hutan selama hidupnya. Ginny kemudian mengambil sweater Mrs. Voorhees

Lanjut part 3 :v

20/09/2014

Annyeong member kta bikin FP ini rame yuk.... kta main tebak tebakan yok....
Apa huruf dpan fb mimin, y tau mimin add

1004

20/09/2014

Bushido lo kemana....? Gw kangen urban langend lo

1004

Mobile uploads 19/09/2014

:v

^jane^

19/09/2014

-DS-

Rojas, 15, Sarawak



Malam itu di asrama anak laki-laki panas sekali. Dan Husein masih belum bisa tidur. Berkali-kali ia membalikkan badannya di tempat tidur sambil mengumpat-umpat.



"Kenapa aku harus tidur secepat ini? Aku kan sudah sehat!"



Sudah tiga hari ia menempati klinik asrama karena radang tenggorokan yang dideritanya. Sebenarnya sore itu dokter sudah menyatakan bahwa ia sudah sembuh, tapi ia hanya mengijinkan untuk kembali ke kamarnya esok paginya.



"Besok saja ya, sekarang kan tanggung, kamarmu yang dulu belum dibersihkan. Nanti kalau kamu sakit lagi gimana? Kamu nggak mau penyakitmu bertambah parah kan?" Dokter Hamed berujar sambil tersenyum. Suster Ema yang berdiri di samping pak dokter ikut mengiyakan sambil mengacak-acak rambut Husein.



“Betul, Nak. Tadi waktu saya ke sana ternyata dinding sebelah kananmu masih dicat, dan kemungkinan baru selesai besok pagi. Sabar ya, Nak. Lagipula kamarmu yang ini kan jauh lebih luas dan jendelanya pun jauh lebih besar. Besok saja ya, Nak?”



Husein terpaksa menurut sambil bersungut-sungut. Sialan, umpatnya, bisa mati kebosanan aku di sini. Tinggal selama tiga hari di klinik asrama itu sendirian yang letaknya bersebelahan dengan kamar ibu asrama terasa tiga tahun baginya. Tidak ada televisi dan radio. Sungguh membosankan! Setiap hari yang dikerjakannya hanyalah membaca buku-buku cerita usang yang dipinjamnya dari Syahril, anak tukang kebun di asrama tersebut.



“Anak Kancil Bertemu Dengan Berry si Beruang Coklat..” Husein menggumam sambil jari jemarinya menyeruak halaman demi halaman buku cerita lusuh yang dipegangnya tersebut. Apa remaja seumur dia masih s**a membaca buku cerita anak-anak seperti ini? Husein menggeleng-gelengkan kepalanya sambil diam-diam menertawakan Syahril yang memang penampilannya lugu dan polos. Pantas dia masih menjomblo, Husein tersenyum sambil membayangkan Syahril dengan sandal jepit biru dan kaos oblong kedodoran yang hampir setiap hari dikenakannya tersebut.



Hawa di ruangan kecil di samping kamar ibu asrama tersebut masih terasa panas. Tetapi Husein sudah tidak mengindahkannya lagi. Ia sedang asyik dengan cerita Kancil dan Beruang yang terdapat di hadapannya. Baginya tiada jalan lain untuk membunuh waktu yang membosankan tersebut dengan memaksakan dirinya memahami dan terlarut dengan setiap aluran cerita yang terpaksa direguknya kata demi kata.



Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah satu pagi. Sayup-sayup terdengar suara binatang malam bersahutan dari luar jendela kamarnya diiringi sesekali suara lembut hembusan angin yang bertiup di sela-sela cabang pepohonan akasia di samping kanan jendela kamar bercat putih tersebut.



Husein memandang ke arah jendela di sampingnya yang terbuka setengah. Angin malam berhembus masuk ke dalam kamarnya yang juga dicat putih. Huh, masih terasa panas, keluhnya sambil mengusap keningnya yang agak berkeringat. Kipas angin di atas kepalanya sudah lama tidak berfungsi lagi. Tangannya bergerak untuk membuka jendela itu lebih besar lagi ketika ia menangkap sesosok bayangan putih berkelebat di atas pohon tepat di seberang kamarnya.



Husein menggosok-gosokkan matanya. Apa itu, pikirnya penasaran.



Husein kini duduk dengan tegak di atas ranjangnya yang berderit-derit setiap kali ia menggerakkan tubuhnya yang sedikit gempal. Sosok itu kini terlihat jelas. Ia adalah sesosok wanita muda cantik yang sedang duduk duduk di atas dahan yang tinggi sambil menggerak-gerakkan kakinya dan bersenandung pelan. Seolah-olah ia sedang berayun-ayun di atas ayunan. Rambutnya terlihat hitam lurus ikut bergerak-gerak ditiup angin yang berhembus pelan. Parasnya lembut dan cantik. Wanita misterius itu terus saja asyik bersenandung seolah tak memperhatikan sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.



Husein menatapnya tak berkedip. Jantungnya berdegup keras. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Tangannya gemetaran. Otaknya seakan berhenti berputar. Dia hanya duduk terpaku menatap pemandangan di depannya.



Sekonyong-konyong wanita itu berhenti bersenandung dan dengan tiba-tiba menatap lurus ke arah Husein yang masih duduk terpaku di dalam kamarnya. Tatapannya tajam dan menusuk. Setajam tatapan elang yang hendak menerkamnya bulat-bulat dari atas pohon. Suasana bertambah hening mencekam. Husein merasakan seolah darahnya berhenti mengalir.



Sebelum Husein sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, tiba-tiba wanita itu ‘terbang’melayang dari atas pohon tempatnya bertengger dan detik berikutnya wajahnya sudah berada dekat sekali di jendela. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain. Wanita itu berdiri begitu dekat dengan wajahnya sehingga Husein bisa merasakan hembusan hawa dingin dari sosok di hadapannya itu. Saat berikutnya tiba-tiba saja wanita itu tersenyum menyeringai. Wajah ayunya digantikan oleh paras yang tiba-tiba terlihat begitu menyeramkan. Taringnya yang panjang dan runcing menyeruak dari senyumnya yang jahat!



Husein tersentak! Dengan refleks ia menutup jendela dan meguncinya serta menutup tirainya rapat-rapat. Tubuhnya gemetaran hebat di atas ranjang. Detik berikutnya ia menjerit sekuatnya sambi berteriak-teriak minta tolong dan menyelubungi dirinya dengan selimut bergaris hijau yang selama ini tidak pernah dipakainya. Tapi kemudian ia teringat bahwa ibu asrama sedang keluar kota dan ia tidak tahu ke mana suster centil yang seharusnya berjaga di kamar sebelah. Sial! Sial! Sial! Sejuta kali SIAL! Ia berkali-kali mengumpat dalam hati.



Kemudian ia berusaha mengucapkan doa-doa yang pernah dipelajarinya selama ini. Entah karena gugup atau lupa, tidak satu pun doa-doa yang sempurna diucapkannya.



Tapi ia tidak peduli. Ia terus berusaha keras mengucapkan doa-doa sebisanya sampai ia kelelahan dan jatuh tertidur di balik selimutnya yang tebal. Beberapa saat kemudian ia terbangun karena merasa kegerahan. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Pelan-pelan ia membuka selimut yang menyelubungi kepalanya sedikit demi sedikit dan mengintip keadaan kamarnya. Keadaan sunyi senyap. Jam dinding berdetak pelan dan lembut. Husein melirik ke arah jam tersebut. Sudah pukul 2.15 pagi.



Ia menyibakkan selimutnya dan berusaha untuk tidur lagi ketika ia mendengar suara langkah sepatu berhak tinggi di koridor di depan kamarnya. Mungkinkah itu ibu asrama yang baru datang dari luar kota?



Husein baru saja memejamkan matanya ketika ia mendengar seseorang membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk ke dalam.



"Bagaimana keadaanmu hari ini, Sayang?" Suara suster Jane yang genit yang dikenalnya selama ini menenangkannya. Mendadak ia merasa lega karena ia tidak sendirian lagi di kamarnya. Parfum suster Jane mulai menyeruak memenuhi ruang tersebut.



"Eh, baik, Sus. Suster dari mana? Kok sudah selarut ini belum tidur?" Husein berkata. Matanya terkesima tatkala melihat tubuh suster Jane yang terbalut erat di balik seragam putihnya yang terlihat sangat ketat dan sesak. Ia kelihatan lebih cantik dari biasanya.



"Aku baru saja menemai Bu Christin menonton telivisi dan lalu aku jalan-jalan di luar sebentar, soalnya udara panas sekali sih hari ini," Suster Jane berkata pelan sambil mengusap-usap dahi Husein yang basah oleh keringat.



“Kamu sendiri kok belum tidur, Sayang?” Suster muda yang terlihat sangat cantik dan seksi itu tersenyum lagi. Ia begitu lembut dan penuh perhatian. Tangannya yang halus terasa sangat menentramkan hati Husein yang segera melupakan kejadian menyeramkan sebelumnya. Kini jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Bukan karena takut. Tapi karena tubuh Suster Jane terlihat semakin indah tatkala ia mendekat untuk mengecup keningnya. Tak lama Husein pun merasa mengantuk dan ia mulai menutup matanya.



"Tidurlah, Sayang..." Suster Jane berkata lembut. Rambutnya yang harum menyapu lembut wajah Husein.



Husein membuka matanya kembali untuk mematikan lampu baca yang ada di samping tempat tidurnya ketika tanpa sadar ia melihat ke arah lantai dan menyadari bahwa yang selama ini dikiranya Suster Jane ternyata kakinya tidak menapak pada tanah melainkan melayang di udara!



Seketika Husein menjerit dan meloncat dari tempat tidurnya dan segera berlari di koridor sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Ia berlari ke arah kamar Pak Singh, tukang kebun, yang kebetulan berada tidak jauh dari kamarnya. Ia menggedor-gedor kamarnya sambil berteriak-teriak ketakutan. Matanya nanar dan nafasnya terasa sesak.



Sesaat kemudian Husein sudah berada di dalam kamar Pak Singh, yang masih berusaha menenangkannya. Sementara itu guru-guru dan teman-temannya yang lain yang terbangun oleh teriakannya ikut berdesak-desakan di kamar Pak Singh yang sempit dan mengerubunginya. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi.



"Tenang, tenang... Biarkan ia minum dulu," kata Pak Ahmad sambil menyodorkan segelas air putih. Husein menerima air yang disodorkan dan segera meminumnya. Tanpa disadarinya tiba-tiba ia merasa sangat haus, dan ia segera menghabiskan air tersebut. Pak Ahmad dan beberapa staf lain yang sedang bertugas malam itu memandanginya dengan cemas.



“Kamu tidak apa-apa, Nak?”



Husein menggelengkan kepalanya lemah. Kini ia sudah jauh merasa lebih baik dari sebelumnya. Beberapa saat kemudian setelah ia tenang, ia menceritakan apa yang telah dialaminya malam itu. Semua berpandang-pandangan.



"Pasti itu Aisyah. Ya, itu pasti dia...," orang-orang ribut menggumam.



“Aisyah? Siapa dia?” Dahi Husein berkerut.



Kemudian Pak Singh menceritakan bahwa beberapa tahun yang silam terdapat seorang siswa yang dikeluarkan dari asrama karena berpacaran dengan anak salah seorang tukang kebun waktu itu. Hubungan mereka tidak direstui oleh kedua belah pihak sehingga pihak asrama terpaksa mengeluarkan siswa tersebut dari sekolah. Sejak saat itu anak laki-laki itu tak lagi menunjukkan batang hidungnya di asrama tersebut sehingga Aisyah merasa putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di atas pohon tepat di depan kamar klinik asrama. Tubuhnya yang telah dingin dan kaku ditemukan pada pagi hari keesokan harinya oleh ayahnya sendiri yang telah mencarinya ke mana-mana malam sebelumnya.



Tak lama setelah peristiwa tersebut beberapa siswa dan guru menemui hal-hal ganjil dan menyeramkan di sekitar pohon tersebut, terutama pada malam bulan purnama seperti apa yang dialami Husein pada malam itu.



Bahkan tahun sebelumnya ada dua orang siswa yang sedang melewati koridor di dekat klinik asrama secara kebetulan melihat seorang gadis berpakaian suster yang wajahnya mirip dengan Aisyah. Tetapi waktu didekati, gadis itu tiba-tiba menghilang. Atau, beberapa orang tukang yang sedang membetulkan p**a di halaman belakang kadang-kadang melihat sesosok wanita muda berpakaian putih sedang duduk berayun-ayun di atas pohon sambil bersenandung riang dan tertawa-tawa kecil. Tapi wajah pucatnya menunjukkan kesedihan hatinya yang entah kapan dapat terobati…

H.P. Lovecraft, Guru Para Sineas Film Horor | Cerpen Horor 19/09/2014

-DS-


H.P. Lovecraft, Guru Para Sineas Film Horor

Jika, Anda sudah khatam membaca buku-buku horor novelis Stephen King, menyaksikan film "Prometheus" atau "Alien", atau mendengar tentang fiksi Arkham Asylum di film "Batman", ucapkan terima kasih kepada H.P. Lovecraft. Ya, penulis buku horor yang karya-karya masyur awal abad 20, kini menjadi inspirasi bagi orang lain sekurun waktu satu abad. Tak cuma sesama penulis, melainkan juga para pembuat film horor.

Lovecraft memang jenius horor, yang pandai meramu cerita horor. Di mana, semua itu tertuang dalam karya-karyanya seperti "The Call of Cthulhu", "The Case of Charles Dexter Ward" dan "At the Mountains of Madness". Karya-karya itu sedemikian populer, sehingga menginspirasi dan munngkin lebih dikenal ketimbang penulisnya sendiri.

H.P. Lovecraft, Guru Para Sineas Film Horor
Credit: PikiranRakyat.com

Tak mengherankan, para fans Lovecraft hendak menganugerahkan penghargaan terhadapnya. Bulan Agustus ini adalah saat yang tepat untuk itu - merayakan karya dan pengaruh terbesarnya. Untuk itu bakal digelar konvensi bertajuk "NecronomiCon" yang berlangsung selama 22-25 Agustuss di Providence. Tempat sang penulis hidup dan wafat di usia 46 tahun pada 1937.

Howard Phillips Lovecraft lahir pada 1890. Kedua orang tuanya meninggal di sebuah rumah sakit jiwa, saat Lovecraft menginjak umur 8 tahun, menurut ST Joshi, yang menulis biografi Lovecraft dan menyunting beberapa koleksi karyanya. Dia hanya tiga tahun mengenyam sekolah menengah atas, keluar karena gangguan saraf, menurut Joshi seperti dikutip Daily Mail, Selasa (20/8/2013).

Selain pernikahan singkatnya yang tidak bahagia yang membawanya ke New York pada 1924-1926, Lovecraft sebagian besar hidupnya tinggal di East Side, Providence dekat dengan Universitas Brown. Dia menulis karya yang paling signifikan setelah kembali ke Providence, dan menerbitkan banyak cerita di majalah Weird Tales.[]

H.P. Lovecraft, Guru Para Sineas Film Horor | Cerpen Horor H.P. Lovecraft, guru para sineas film horor telah menginspirasi sekurun 1 abad.

19/09/2014

-DS-
Kutukan Kucing Hitam

“Pa, nggak sarapan dulu?” Hana, istri Joon, bertanya saat melihat Joon sudah keluar.

“Nggak, aku udah telat. Bang Abi minta kita semua kumpul jam 7 pagi. Soalnya ada meeting!” Joon berkomentar seraya memakai sepatunya.

Hana hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasan Joon, toh dia juga tidak mengerti apa yang Joon katakan. Dia hanya bisa melihat suaminya itu seperti orang terburu-buru. Tidak seperti biasanya.

Tanpa memanasi motor terlebih dulu, Joon langsung ngacir begitu mesin motornya menyala. Dia langsung ngebut walau masih berada di dalam gang rumahnya. Akibatnya, begitu seekor kucing hitam meloncat turun dari atas pohon, tepat di depan track jalan Joon, Joon terkejut dan langsung mengerem motornya. Sayangnya, rem yang diinjak Joon telat menghentikan laju motornya. Kucing hitam itu sudah terlindas, dan lebih parah lagi sudah hilang nyawa.

“Aduh, sial!” pekik Joon, demi melihat kucing hitam yang isi perutnya sudah terburai ke mana-mana. Bau amis mulai menguar-nguar ke udara.

Joon terdiam meragu. Di benaknya muncul dua pilihan, menguburkan bangkai kucing atau meneruskan perjalanan menuju kantor. Mau tak mau, akhirnya, Joon memilih opsi kedua. Joon kasihan dengan kucing itu, yang sudah mati mengenaskan. Karena itu, Joon merasa memiliki tanggung jawab untuk mengubur bangkai kucing itu sendiri, sehingga pasti membuat dirinya telat sampai ke kantor. Dia berinisiatif menelepon Bang Abi dan mengatakan dengan sejujur-jujurnya apa yang tengah menimpanya.

“Halo, Bang,” tukas Joon begitu hapenya telah terkoneksi dengan hape Bang Abi.

“Ya, gimana Joon?” sahut Bosnya.

“Bang, sorry nih, kayaknya gue bakal telat ngantor.”

“Kenapa emangnya?”

“Gue barusan ngelindes kucing. Mau gue urusin dulu.”

“Emang ngelindes kucing dimana lo?”

“Di gang keluar rumah gue, Bos.”

“Oh yaudah, lo urusin dulu itu kucing, nanti kalo udah selesai secepatnya lo kemari, okay?”

“Okay, Bos.”

***

Sesampainya di kantor, Joon memang telat. Meeting telah selesai. Dia cuma bisa mengabsen dirinya dan melanjutkan jalan ke toko. Sewaktu hendak keluar dari pintu, Joon bertemu dengan Mbak Indri, karyawan paling senior di bagian sales. Mbak Indri menanyakan apa yang telah terjadi secara detail pada Joon karena tadi sewaktu meeting Bang Abi—Bos mereka berdua—mengatakan jika Joon telah menabrak seekor kucing waktu berangkat. Makanya, dia akan telat ke kantor karena mengurusnya terlebih dulu.

Mbak Indri pun bertanya, “Terus apa yang lo lakuin sama tuh kucing?”

“Gue kuburinlah, makanya gue telat.”

“Bagus, lo udah ngelakuin hal yang bener,” komentar Mbak Indri, “Eh tapi, lo nguburinnya pake baju yang lo pake pas nabrak kan, Joon?”

“Nggak tuh. Gue nguburinnya pake kain bekas.”

“Duh,” Mbak Indri menepuk jidatnya, “Kenapa nggak pake salah satu pakaian yang lo pake pas nabrak?”

“Gile aja lo, baju baru dibeliin bini buat ngubur kucing!”

“Bukan gitu masalahnya, Joon. Menurut mitos, kalo ada orang yang nabrak kucing sampai mati, emang harus mengubur bangkai kucing itu secara layak. Dan dibungkus dengan kain atau pakaian yang dipakai orang itu pas nabrak si kucing. Kalo nggak, bisa-bisa yang nabrak dapat musibah.”

“Ah, lo, Mbak, masih aja percaya mitos-mitosan kayak gitu. Gue nguburin juga karena kasihan aja ngelihat kucing itu,” Joon menimpali perkataan Mbak Indri.

“Ya, gue cuma ngasih tauk lo kalau adatnya emang biasa begitu. Percaya nggak percaya sih.”

Joon mengedikkan bahu. Tampaknya dia memilih tak mempercayai mitos itu. ‘Bagaimana bisa arwah kucing mati menuntut balas?’ gerutunya dalam hati. ‘Aneh-aneh aja, urusan hidup dan mati kan sepenuhnya milik Tuhan. Lagian, hare gene masih percaya sama mitos, ck… katrok!’

Keduanya kemudian berpisah untuk pergi ke toko masing-masing. Joon memasukkan kunci motor dan setelah menyala, dia langsung bablas keliling ke toko langganannya.

Baru jalan sekitar 5 menit, Joon merasakan hape yang diletakkan di saku celana jeansnya bergetar-getar—tanda ada seseorang yang menghubunginya. Dia menepikan motornya untuk mengangkat telepon. Sebelum mengangkat, Joon sempat melihat layar hapenya sekilas. Di situ tertera nama istrinya, Hana.

“Halo, Ma.” Dari seberang telepon, terdengar suara Hana menangis sesenggukan. “Maaa… ada apa?” tanya Joon kebingungan.

“Pa, huuhuu huuhuu… Bapak nggak ada.”

“Nggak ada gimana?” Joon makin penasaran. Karena, tidak ada kabar yang mengatakan jika Bapak mertuanya itu sakit keras sebelumnya.

“Huuhuu… Bapak meninggal tadi.”

“Apa?!” Deg. Degub jantung Joon serasa berhenti sejenak mendengar pernyataan istrinya. “Inalillahi, kapan?”

“Belum lama. Katanya ditabrak motor gara-gara mau nyelamatin kucing.”

Joon mengernyit, ‘Kucing?’ Pikirannya segera melintas pada kejadian tadi pagi sewaktu dia berangkat ke kantor dan omongan Mbak Indri barusan sebelum dia jalan ke toko. ‘Kutukan kucing hitam?’

“Paaa…” Panggilan Hana memecah lamunan Joon.

“Ya?”

“Yaudah, cepet pulang. Kita ke rumah Bapak.”

“Ya, ya. Papa langsung pulang. Nih mau izin dulu sama kantor. Kamu tunggu sebentar ya?”

Joon segera mengurungkan niatnya untuk pergi ke toko dan menghubungi kantor untuk minta izin. Kemudian, dia mengarahkan laju motornya, pulang.

Mobile uploads 18/09/2014

Posted & Translate by –^jane^kawai
Sumber :Wiki 13th Friday

Jason Voorhees part 1

Pada tanggal 13 Juni 1980, Jason Voorhees kecil menjadi saksi saat ibunya sedang dipenggal oleh seorang konselor kamp di sekitar Camp Crystal Lake. Sekitar 30 tahun kemudian, sekelompok teman berlibur - Wade, Richie, Mike , Whitney dan Amanda tiba di Crystal Lake dalam acara berkemahnya untuk menemukan beberapa g***a yang ditanam di hutan. Ketika Mike dan Whitney menjelajahi kamp Crystal Lake yang terlantar, Jason mulai membunuh sisa kelompok satu per satu. Jason juga membunuh Mike, tapi dia membawa Whitney dan memutuskan untuk menculiknya karena dia mirip seperti ibunya di usia muda.

Enam minggu kemudian, Trent, bersama dengan pacarnya, Jenna dan teman-teman mereka yakni Chelsea , Bree , Chewie , Nolan , dan Lawrence tiba di pondok musim panas Trent di pinggir Crystal Lake. Kelompok ini tidak menyadari peristiwa yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Clay Miller tiba di kota dalam pencarian Crystal Lake untuk saudara perempuannya Whitney, yang dia yakini masih hidup. Clay akhirnya membuat perjalanan ke pondok Trent, disana dia bertemu dengan Jenna yang setuju untuk membantunya mencari adiknya di sisi lain danau. Sementara Clay dan Jenna mencari petunjuk, Jason membunuh Chelsea dan Nolan, yang sedang berselancar papan di danau. Clay dan Jenna sampai di suatu perkemahan tua Crystal Lake, dimana mereka menyaksikan Jason mengangkut mayat ke salah satu rumah perkemahan yang terlantar tersebut.

Pasangan ini kembali untuk memperingatkan yang lain tentang
Jason, yang segera tiba dan memotong kabel listrik pondok Trent. Setelah membunuh Chewie dan Lawrence yang berkelana di luar rumah, Jason menyelinap ke dalam pondok dan membunuh Bree. Trent, Clay, dan Jenna lari dari rumah tersebut, tapi Trent tewas ketika dia mencapai jalan utama. Jason kemudian mengejar Clay dan Jenna kembali ke perkemahan, dimana Clay menemukan sarang Jason dan menemukan adiknya dirantai ke dinding. Clay pun membebaskan Whitney, dan upaya ketiganya untuk melarikan diri saat Jason tiba. Ketiganya menemukan jalan keluar, tapi Jenna terbunuh sebelum dia bisa keluar. Jason datang setelah Clay dan Whitney, tapi Whitney dengan berpura-pura menjadi Nyonya Voorhees, menggunakan cinta Jason dan memori ibunya untuk mengalihkan perhatiannya cukup lama untuk menikamnya di bagian dada dengan parang milikny sendiri. Setelah itu, Clay membuang tubuh Jason yang tak bernyawa tersebut ke dalam danau. Sebelum dia dan Whitney dapat meninggalkan tempat itu, Jason muncul melalui dermaga kayu dan menarik Whitney.

The End part 1

18/09/2014

SECURITY GUARD

Larut malam, dua orang mahasiswi sedang sibuk mengerjakan tugas mereka di perpustakaan. Ketika mereka sedang sibuk di depan laptop mereka, seorang satpam mendekati mereka dari belakang.

“Perpustakaan sudah hampir tutup.” Kata satpam itu, “Kenapa kalian belum pulang?”

“Kami harus mengumpulkan tugas ini besok pagi jam 7 pak.” Jawab salah satu mahasiswi itu, “Maaf, bisakah kami berada di sini sejam lagi? Kami yakin kami akan menyelesaikannya sebentar lagi.”

“Baik, kalau begitu ada baiknya aku menemani kalian di sini sampai tugas kalian selesai,” jawab satpam tersebut, “Aku akan berdiri di sini untuk memastikan kalian aman.”

Kedua gadis itu merasa sangat berterima kasih pada satpam tersebut. Mereka bisa menyesaikan tugas mereka tanpa takut suatu apapun karena satpam tersebut berjaga di belakang mereka. Hingga saat mereka akan menulis kesimpulan, tiba-tiba ...

“Tok ...”

Salah satu gadis tersebut menjatuhkan pensilnya. Pensil itu menggelinding hingga ke dekat tempat dimana satpam itu berdiri. Ketika gadis itu membungkuk untuk mengambil pensil tersebut, ia melihat sesuatu yang sangat menakutkan.

Dalam keadaan ketakutan, gadis itu memungut pensilnya dan segera mengepaki barang-barangnya.

“Ayo kita pulang!” kata gadis itu pada temannya.

“Kenapa, kita kan belum selesai?”

“Pokoknya kita pulang sekarang!” gadis itu memaksa.

“Tidak! Aku mau menyelesaikannya dulu.”

“Terserah kamu lah.” Ia segera pergi dari sana dengan terburu-buru, tanpa sedikitpun menoleh pada satpam itu. Dengan terpaksa ia meninggalkan temannya itu sendirian di sana bersama petugas keamanan itu.

Dengan keheranan dan agak kesal, gads satunya meneruskan pekerjaannya. Dua menit kemudian, telepon genggamnya berbunyi. Ada pesan SMS masuk dari nomor temannya yang barusan pergi itu.

“Jatuhkan pena ke belakangmu lalu ambil. Kamu akan mengerti.”

Gadis itu kebingunan menerima SMS, tapi tetap saja ia melakukannya. Ia menjatuhkan penanya dan membungkuk untuk mengambilnya.

Lalu iapun melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

Kaki sang satpam itu melayang tanpa sedikitpun menyentuh tanah.

Gadis itu hendak berteriak karena ketakutan, namun ia menutup erat mulutnya dengan kedua tangannya. Setelah menenangkan dirinya, iapun menaruh kembali penanya ke atas meja lalu segera mengepaki barang-barangnya.

“Kamu mau pulang? Bukannya tugasmu belum selesai?”

Suara sang satpam itu membuat gadis itu bergidik ngeri.

“Ya...ya pak, tapi saya harus pulang...tadi ada SMS ada ibu saya menyuruh saya segera pulang...” gadis itu mencoba menyembunyikan ketakutannya.

Saat gadis itu hendak pergi, satpam itu mendekat dan membungkuk di belakang gadis itu.

Ia berbisik tepat di telinga gadis itu.

“Jadi kamu pulang bukan karena kamu tahu aku ini apa?

Sang gadis pun pingsan and tamat.......

^jane^kawai ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

Mobile uploads 18/09/2014

Jangan sebut anda pencinta creepy klo g tau mereka

1004

18/09/2014

Psychotes versi min ^jane^ ↖(^ω^)↗

-ada seorang anak kecil di tengah malam bertemu seorang di jalan.seseorang itu pun memberikan permen kepada nya tapi tiba2 si anak menyerang dan membunuh orang itu kenapa.!!!!

-ada insiden dimana ada wanita tak sengaja melihat pacar nya membunuh seseorang nah setelah elihat si cewek menghampiri pacarnya dan tanpa basa basi si cwek itu membunuh pacar nya sendiri kenapa..!!

Jawab yah. Kalo enggak jawab sayah timpuk nanti.

^jane^ kawai ↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗↖(^▽^)↗↖(^▽^)↗╮(╯▽╰)╭

18/09/2014

Admin of the month.

1. Bushido
2. Jack~
3. 1004
4. ^Jane^
5. -DS-

Pilih.

Jack~

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Hamilton?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Hamilton
HAMILTON,BERMUDA