Komunitas Akhwat Sehat

Komunitas Akhwat Sehat

Share

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم "نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ" (رواه البخاري)

29/12/2013

Bangun pagi, tubuh lebih sehat.. ^_^

اللهم بك اصبحنا و بك أمسينا و بك نحيا و بك نموت و إليكاً نسيور

Ya Allah, karena engkau kami mengalami waktu pagi dan sore, karena engkau p**a kami hidup, karena engkau p**a kami mati, dan karena engkau p**a kami dibangkitkan"

Jika Anda terbiasa bangun siang, mulai besok cobalah untuk bangun lebih pagi. Penelitian di Jerman mengungkapkan, di waktu subuh kadar gas ozon yang mengandung oksigen mencapai puncaknya dan akan menipis seiring terbitnya matahari.

Ga ozon ini ampuh untuk mencegah kerusakan paru-paru, tersumbatnya urat nadi, memperlancar peredaran darah, penyakit gula, asma, penuaan, alergi, penyakit jantung, meningkatkan kekebelan tubuh, serta merangsang urat saraf untuk bekerja lebih baik.

Nikmati juga kebaikan udara pagi dengan menghirup napas panjang karena hal itu akan merangsang aliran darah yang menuju otak lebih baik.

28/12/2013

Pilih Tulisan “Allah” atau “Alloh”…

menurut Anda mana yang benar, tulisan “Allah” atau
“Alloh”…?

Sebagian Muslim tidak mau menulis “Allah”, sebab
katanya seperti tulisan yang dipakai oleh orang
Nahrani. Maka mereka menulis “Alloh” (dengan memakai
huruf “o”) untuk membedakan dari Nashrani.
Tapi disini ada sedikit catatan kritis:
- Orang Nashrani membaca kata “Allah” dengan ucapan: A – l – a – h. (Disini tidak terdengar bunyi “o”
dan huruf “l” tidak dibaca double).

- Dalam ejaan Arab, tidak dikenal huruf vokal “o”. Yang ada ialah bunyi “a” atau fat-hah. Asma Allah
disana ditulis “Allah”, meskipun membacanya:
Alloh.

- Dalam Injil berbahasa Arab pun, Allah ditulis dengan huruf yang sama persis dengan kita, yaitu:
“Allah”. Kaum Nashrani Arab membacanya juga:
Alloh (seperti kita).

- Menurut EYD di Indonesia, tulisan yang disepakati memang “Allah”.

- Bahkan, dalam literasi internasional, seperti bahasa Inggris, juga tertulis “Allah”, bukan “Alloh”.

Singkat kata, penulisan “Allah” itu sudah tepat, tidak
perlu diubah. Tetapi pengucapannya tetap “Alloh”,
bukan “Al-lah”, apalagi “A-lah”. Kalau kita ganti menjadi tertulis “Alloh”, seakan kita
mengalah terhadap cara penulisan orang Nashrani.

Padahal kenyataannya, mereka meniru kita, bukan kita
meniru mereka. Kalau kita mengalah, lalu menulis
“Alloh”, nanti orang Nashrani akan merasa menang dan
mampu mendesak kita ke pinggir.

Padahal, Ummat Islam adalah pemegang “hak legal” atas segala sesuatu yang
berhubungan dengan Allah Ta’ala. Islam adalah agama yang diridhai Allah Ta’ala.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah
adalah Al Islam.” (Ali Imran: 19).

Konsekuensinya,
segala sesuatu yang berhubungan dengan syiar Asma
Allah, Ummat Islam yang berhak memangkunya. Bukan
ummat lain. Di Indonesia sendiri, ada kenyataan negatif yang kita
dapati sejak jaman dahulu. Kaum Nashrani sejak lama
memakai istilah-istilah yang berbau Islam, misalnya:
Jemaat, kalam kudus, roh kudus, al kitab, kotbah, Isa al
masih, dsb. Padahal, dalam kitab Bible (baca: terjemahan
Injil ke dalam bahasa Inggris dengan berbagai perubahan di dalamnya) tidak ada istilah-istilah itu. Mengapa orang Nashrani di Indonesia memakai istilah-
istilah Al Qur’an?
Alasannya sebagai berikut:

(1) Mereka ingin lebih mudah diterima oleh Ummat Islam Indonesia. Dengan memakai istilah-istilah yang
tidak jauh berbeda, mereka berharap bisa lebih
mudah masuk dalam kultur Ummat Islam di
Indonesia.

(2) Mereka ingin meyakinkan kepada orang-orang Muslim yang kemudian masuk ke Nashrani,
bahwa antara Islam dan Nashrani tidak terlalu
banyak perbedaan. Buktinya –kata mereka-istilah yang dipakai mirip.

(3) Ketika kaum Nashrani gencar memakai istilah-istilah itu di berbagai kesempatan, mereka berharap
istilah tersebut menjadi ciri khas mereka. Jika
Ummat Islam kemudian memakainya, kaum
Nashrani berharap Ummat Islam merasa asing
dengan istilah itu. Contoh paling nyata adalah tulisan “Allah”. Karena
begitu gencarnya Nashrani memakai tulisan tersebut,
meskipun mereka membacanya “A-lah”, Ummat Islam
merasa tidak nyaman memakainya. Padahal sejatinya,
kita yang awalnya memiliki istilah itu dan berhak
sepenuhnya menggunakannya. Jika diumpamakan sebuah produk, kita yang memegang copy rights-nya.

Orang
lain kalau ingin memakai, dia harus permisi dulu, atau
membayar royalty-nya. Dalam Bible sendiri, istilah-istilah yang dipakai sangat
berbeda, misalnya God, Father, Son, Angel, Marie, Jesus,
dan sebagainya. Kalau kita meniru istilah-istilah itu,
jelas keliru. Tetapi nyatanya, kita memakai istilah yang
berasal dari Al Qur’an, sehingga tidak bisa disebut
“meniru Nashrani”. Masalah ini kelihatan sederhana, tetapi disini ada
semantic war.

Pemakaian istilah-istilah Qur’ani dalam
agama Nashrani itu bukan perkara sepele. Biasanya hal
ini dirumuskan oleh kaum orientalis yang tingkat
keseriusan berpikirnya tinggi. Untuk rata-rata orang
Nashrani Indonesia, mereka tidak memiliki kejelian setinggi itu. Saya mencurigai Snouck Hurgronje sebagai
pelopor pemakaian kata-kata Qur’ani dalam peristilahan
agama Nashrani di Indonesia. Satu saran praktis yang bisa saya sampaikan. Kalau
Anda menulis kata “Allah” sebaiknya ditambah dengan
kata-kata lain yang diambil dari Asma’ul Husna. Hal
itu akan menjadi pembeda tegas antara tulisan “Allah”
menurut versi Islam, dan tulisan serupa menurut versi
Nashrani.

Istilah-istilah yang bisa dipakai, antara lain: Subhanahu Wa Ta’ala, Tabaraka Wa Ta’ala, Jalla Jalla
Luhu, Jalla Sya’nuhu, ‘Azza Wa Jalla, Jalla Wa ‘Ala,
dan sebagainya. Atau berupa Asma’ul Husna tunggal
seperti: Al ‘Azhim, Al ‘Aziz, Al Ghafur, Ar Rahmaan,
Al Karim, dan sebagainya.

Orang Nashrani tidak akan
memakai kata-kata Asma’ul Husna di atas, sebab ia sangat berlawanan dengan akidah mereka.

Semoga menjadi wawasan yang bermanfaat! Amin.

sumber: "Khazanah"

Photos 27/12/2013

Olah Raga Dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sempurna lagi menyeluruh, yang meliputi semua aspek kehidupan manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanah wa Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. al-Maidah: 3)

Islam menghasung pemeluknya untuk menjadi kuat dan sehat baik secara rohani maupun jasmani. Islam menunjukkan keutamaan kekuatan dan kesehatan sebagai modal besar di dalam beramal saleh dan beraktivitas di dalam urusan agama dan urusan dunia seorang muslim. Allah Subhanah wa Ta’ala berfirman:

قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

“(Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanah wa Ta’ala telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (QS. al-Baqarah: 247).

Allah Subhanah wa Ta’ala juga berfirman:

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأمِينُ (٢٦)

“Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat fisiknya lagi dapat dipercaya.” (QS. al-Qashash: 26).

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau bersikap lemah.” (HR. Muslim).

Kekuatan yang dimaksud dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah kekuatan iman dan jasmani (jika bermanfaat untuk iman), sebagaimana perkara yang bermanfaat bagi kita adalah perkara yang bermanfaat untuk urusan dunia kita serta akhirat kita. Dan diterangkan juga oleh Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’ (Lembaga Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa Saudi Arabia), Fatwa no. 5876, ketika menjelaskan bahwa banyak hadits shahih yang menunjukkan disyariatkannya belajar memanah, sebagaimana pensyariatan memanah termasuk dalam keumuman ayat:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan.” (QS. al-Anfal: 60).

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menafsirkan ayat tersebut:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah dengan melempar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim).

Di antara hadits yang menunjukkan pensyariatan memanah adalah hadits dari Uqbah ibn Amir radiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَلِمَ الرَّمْىَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى

“Barangsiapa yang menguasai memanah kemudian meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami, atau beliau bersabda, ‘Maka ia telah berbuat maksiat.’ “ (HR. Muslim).

Ada banyak hadits yang menunjukkan perhatian Islam terhadap berbagai aktivitas olah tubuh. Contohnya seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaring para pemuda yang akan mengikuti peperangan beliau dengan adu kekuatan (gulat). Atau ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -diriwayatkan dalam sirah Ibnu Ishaq rahimahullah- mengalahkan Rukanah, seorang ahli gulat, sehingga ia bersedia masuk Islam. Diriwayatkan p**a bahwa beliau memiliki sembilan buah pedang, baju baja, tameng, dan pisau. Demikian juga kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengajak Aisyah radiallahu ‘anha lomba lari, serta riwayat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat orang-orang Habasyah (Ethiopia) bermain tombak di masjid dan masih banyak lagi riwayat yang selainnya.

Para pendahulu kita dari generasi awal Islam, menunjukkan pentingnya membentuk jasmani yang kuat sebagaimana kita harus terus memupuk keimanan kita dengan menuntut ilmu agama dan beramal saleh. Umar bin Al-Khaththab radiallahu ‘anhu berkata:

عَلِّمُوْا أَبْنَائَكُم السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوْبَ الخَيْلِ

“Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.”

Semua contoh aktivitas tersebut adalah dalam rangka mempersiapkan dan melatih jasmani kita agar senantiasa kuat dan sehat di dalam mengemban tugas-tugas yang Allah Subhanah wa Ta’ala berikan kepada kita. Di dalam buku ‘Nida’ ilal Murabbiyyin’, Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullah ketika mengomentari hadits, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah Subhanah wa Ta’ala cintai daripada mukmin yang lemah”, beliau mengatakan, “Karena mukmin yang kuat jasmaninya akan lebih kuat dan lebih bersemangat di dalam menunaikan ibadah badaniyah seperti shalat, puasa, haji, jihad, dan yang selainnya.”

Berkaitan dengan hal-hal yang sudah disampaikan di atas, maka kekuatan jasmani sebagaimana yang kita semua memahaminya, biidznillah dapat dibentuk dengan nutrisi yang baik dan seimbang serta berolah raga secara teratur.

Wallahu A’lam bish shawab

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Bandung Satu?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Majalaya
Bandung Satu
40382