SiManis

SiManis

Share

Ruang Nostalgia

12/05/2026

Potret Bersejarah.
Pemakaman kenegaraan mendiang mantan perdana menteri Indonesia Sutan Sjahrir berlangsung di Jakarta Indonesia, 19 April 1966 di TMP kalibata (jakarta selatan).

Mantan wakil presiden Indonesia ke-1 Mohammad Hatta (kiri) dan Mentri pertahanan Soeharto (kanan) terlihat menghadiri pemakaman kenegaraan mantan perdana menteri Indonesia Sutan Sjahrir pada 19 April 1966 di jakarta, Indonesia

Nampak jelas potret pak Harto dengan rasa hormat nya memayungi b**g Hatta, yang pada saat itu turun hujan agar tidak terkena hujan , bravo hormat selalu para pemimpin pendahulu pendiri bangsa 🫡
**ghatta

12/05/2026

"SAMAUN BAKRI, TANGAN KANAN B**G KARNO YANG HILANG BERSAMA EMAS REPUBLIK‼️

Sejarah kemerdekaan Indonesia menyimpan satu kisah besar yang lama terkubur di balik hutan dan kabut misteri. Di dalamnya ada nama Samaun Bakri, seorang jurnalis pemberani asal Kurai Taji, Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang menjadi orang kepercayaan Presiden pertama RI, Soekarno.

Samaun Bakri lahir pada 28 April 1908. Ia dikenal sebagai cucu dari salah satu dubalang Tuanku Imam Bonjol, sebuah latar yang membentuk wataknya: keras pada penjajahan, teguh pada prinsip. Namun jalan hidupnya tidak dimulai dari senjata, melainkan dari pena.

Karier jurnalistik Samaun tumbuh dari kegelisahannya melihat kesewenang-wenangan kolonial Belanda. Setelah meninggalkan pekerjaannya di kantor Residen Padang, ia memilih menjadi wartawan di surat kabar Persamaan. Tulisan-tulisannya tajam, kritis, dan membuat pemerintah kolonial terusik. Tekanan Belanda begitu kuat hingga kerabatnya sendiri, Wali Nagari Kurai Taji, terpaksa “mengusir” Samaun demi menyelamatkannya. Dengan bekal tujuh ringgit, ia dilepas ke perantauan, disertai kalimat yang kelak terbukti sebagai nubuat: daerah ini terlalu kecil bagi bakatmu.

Persahabatan penting dalam hidup Samaun terjalin pada 1938, saat Soekarno menjalani masa pengasingan di Bengkulu. Samaun menjadi pimpinan penyambutan B**g Karno, dan sejak itu kepercayaan tumbuh erat. Bahkan dalam urusan pribadi, Soekarno menaruh keyakinan besar padanya. Samaun menjadi perantara hub**gan B**g Karno dengan Fatmawati, mengantarkan pesan-pesan cinta, mengurus administrasi pernikahan di Jakarta, hingga mengawal perjalanan Fatmawati dari Bengkulu ke ibu kota. Peran ini menjadikannya saksi sunyi lahirnya kisah cinta Proklamator.

Puncak pengabdian Samaun Bakri terjadi pada 1948, di masa Republik berada dalam situasi paling genting. B**g Karno memberinya tugas sangat rahasia: membawa emas seberat 20 kilogram dari Cikotok untuk dikirim ke India. Emas itu akan digunakan membeli pesawat demi memperkuat pertahanan udara Republik Indonesia.

Misi tersebut dijalankan menggunakan pesawat Dakota RI-002, diterbangkan oleh pilot Amerika Serikat yang berpihak pada Indonesia, Bobby Earl Freeberg. Namun pesawat itu tak pernah tiba di tujuan. RI-002 hilang kontak dan lenyap di wilayah hutan Lampung, membawa serta Samaun Bakri dan emas negara yang diamanahkan kepadanya.

Selama tiga dekade, pesawat RI-002 dianggap hilang tanpa jejak. Baru pada 14 April 1978, seorang pencari rotan menemukan bangkai pesawat di Bukit Punggur, Lampung Tengah. Kerangka Samaun Bakri ditemukan bersama awak lainnya. Satu misteri tetap tersisa: jas4d sang pilot Bobby Freeberg tidak pernah ditemukan hingga hari ini.

Pada 29 Juli 1978, Samaun Bakri dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang, Lampung. Penghargaan negara menyusul kemudian. Pada 2002, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama atas jasa-jasanya.

Kisah Samaun Bakri adalah potret tentang keberanian tanpa pamrih. Ia bukan hanya wartawan, bukan sekadar kurir, tetapi penjaga rahasia negara di masa paling rapuh Republik. Namanya mungkin lama tenggelam bersama hutan Lampung, namun pengabdiannya kini berdiri tegak sebagai bagian penting dari sejarah Indonesia.

12/05/2026

"AKTIFIS YANG DI BVNVH DENGAN CANGKUL DIKEPALA ‼️

Di balik hamparan pasir besi Desa Selok Awar-Awar, terkubur sebuah noda hitam yang tak akan pernah bisa dibasuh oleh ombak Laut Selatan. Tragedi Salim Kancil bukan sekadar pembunbhan, ia adalah proklamasi kekalahan hukum di hadapan syahwat keserakahan dan persekongkolan jahat antara penguasa desa dengan premanisme terorganisir.

KRONOLOGI KEBIADABAN YANG TERENCANA
Sabtu pagi, 26 September 2015, menjadi saksi betapa murahnya nyawa seorang petani pejuang lingkungan di negeri ini. Salim Kancil dijemput paksa dari rumahnya oleh puluhan preman yang menamakan diri "Tim 12". Di hadapan cucunya yang masih balita, ia diseret layaknya binatang menuju Balai Desa Selok Awar-Awar.

Di sana, di gedung yang seharusnya menjadi simbol pengayoman masyarakat, Salim disiks4 tanpa ampun. Ia dipukuli dengan kayu, batu, dan gergaji. Bahkan, dalam laporan persidangan, terungkap bahwa tubuhnya sempat dis3trum dengan alat yang sudah disiapkan. Tak puas sampai di sana, tubuh yang bersimbah d4rah itu diseret kembali ke jalanan menuju pemakaman umum. Di sana, nyawanya dihabisi dengan hantaman batu besar di kepala secara brut4l.

KONSPIRASI TERSTRUKTUR
Kejadian ini tidak terjadi secara spontan. Ini adalah eksekusi dingin yang telah dirancang. Salim Kancil dibunuh karena ia berani berkata "Tidak" pada tambang pasir ilegal yang merusak sawah dan mata pencaharian warga.
Konspirasi ini melibatkan Kepala Desa saat itu, Hariyono, yang bertindak sebagai otak intelektual bersama asistennya, Mat Dasir. Mereka mengerahkan massa untuk memb**gkam suara oposisi. Mirisnya, aroma pembiaran tercium taj4m; laporan ancaman pembvnuhan yang sempat dilayangkan Salim ke kepolisian beberapa hari sebelumnya seolah dianggap angin lalu hingga nyawanya benar-benar melayang.

Salim Kancil adalah martir. Kem4tiannya membuktikan bahwa di Republik ini, moncong senjata dan kepalan tangan preman masih seringkali menjadi instrumen "Negosiasi" untuk melancarkan investasi. Tragedi ini adalah cermin retak bagi demokrasi kita: bahwa mempertahankan tanah kelahiran bisa berarti menjemput maut di tangan penguasa sendiri.
Kita tidak boleh lupa. Karena melupakan Salim Kancil berarti memberi restu bagi para mafia tanah untuk terus menggerogoti negeri ini.

Sumber :
-Laporan Investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengenai Kasus Lumajang.
-Arsip Berita Majalah Tempo: Jejak Berdarah Pasir Besi.
-Dokumentasi Putusan Pengadilan Negeri Surabaya terhadap terdakwa Hariyono dkk dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP).

Photos from SiManis's post 11/05/2026

Kisah pengangkatan Jen4zah Pahlawan Revolusi.

4 Oktober 65 Jenaz4h 7 Pahlawan Revolusi diangkat dari Lubang Buaya.Mengangkat jenaz4h 7 Pahrev bukan perkara yang mudah.kondisi sumur yang dalam dan aroma may4t yang mulai membusuk membuat evakuasi sulit di lakukan.Akan tetapi para prajurit Kompi Intai Amfibi Korps Komandan Angkatan Laut(KIPAM KKO-AL) tak mau menyerah.

Sebenarnya jenaz4h sudah ditemukan pada tanggal 3 Oktober 65 berkat kesaksian Polisi Sukitman dan masyarakat sekitar.Peleton 1 RPKAD yang dipimpin Letnan Sintong Panjaitan segera melakukan penggalian.tetapi mereka tidak mampu mengangkat jenaz4h karena bau yang menyengat.Jendral Soeharto pun memerintahkan penggalian dihentikan dan dilanjutkan esok hari.

kala itu Sintong berdiskusi dengan kopral Anang, Anggota RPKAD yang di latih oleh pas**an katak TNI AL.Anang mengatakan peralatan selam milik RPKAD ada di Cilacap,hanya KKO yang mempunyai peralatan selam di Jakarta.

Tanggal 4 Oktober 65,Tim KKO dipimpin oleh Kapten winanto melakukan evakuasi Jen4zah Pahrev.satu persatu pas**an KKO turn ke dalam lubang yang sempit itu.

Pukul 12.05 Wib, Anggota RPKAD Kopral Anang turun lebih dahulu ke LB.dia mengenakan masker dan tab**g oksigen.Anang mengikat tali pada salah satu Jenazah setelah ditarik yang pertama adalah Jen4zah Lettu Pierre Tendean.

Pukul 12.15 Wib,Serma KKO Suparimin turun,dia memasang tali pada salah satu Jen4zah ,namun rupanya Jenazah itu tertindih Jen4zah lain sehingga tidak bisa di tarik.

Pukul 12.30 Wib,Prako KKO Subekti turun.2 Jen4zah berhasil ia tarik,Mayjen Siswondo Parman dan Mayjen Suprapto.

Pukul 12.55 Wib,Kopral KKO Hartono memasa tali untuk mengangkat Jenaz4h Mayjen MT Haryono dan Brigjen Sutoyo.

Pukul 13.30 Wib,Serma KKO Suparimin turun kedua kalinya,beliau berhasil mengangkat Jen4zah Letjen Ahmad Yani.

Dan yang terakhir untuk memastikan bahwa sumur benar-benar kosong maka Kapten Winanto melakukan pengecekan lagi dan masih ada 1 jenaz4h lagi yaitu Jenaz4h Brigjen DI Panjaitan.

11/05/2026

Kisah Abubakar Lambogo, Pahlawan Asal Enrekang yang Kepalanya Dit4ncapkan di Ujung Bayone

Andi Abubakar Lambogo, dikenal juga dengan julukan “Puang Bakkarang”, lahir pada 1913 di Massenrempulu. Ia berasal dari keluarga bangsawan setempat, putra Haji Lambogo Pettana Bali dan I Nambe.
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, semangat anti-kolonialisme menggema hingga pelosok, termasuk ke Enrekang dan Massenrempulu. Abu Bakar memilih melepas status bangsawannya untuk bergab**g dengan perjuangan rakyat.

Pada tahun 1946 ia aktif dalam organisasi perjuangan seperti Pemuda Nasional Indonesia (PNI), Badan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), dan kemudian memimpin Batalyon I Massenrempulu.
Pada 28 Januari 1947, ia secara resmi diangkat sebagai komandan Batalyon I di Enrekang dengan pangkat kapten.
Perjuangan di bawah komandonya meliputi wilayah-wilayah seperti Kotu, Batu Ke’de, Cendana, Kollong Buttu, Kalosi, Maiwa, Kulinjang, dan Salu Wajo.

- Bentrokan dan Serbuan KNIL 13 Maret 1947.
Perlawanan yang dipimpin Abu Bakar tak luput dari atensi pas**an kolonial, KNIL (Tentara Hindia-Belanda).
Rencana awal menunjukkan bahwa Abu Bakar ditugaskan mengawal rombongan menuju Palopo untuk meresmikan Resimen III Divisi Hasanuddin, bersama pimpinan lain seperti M. Saleh Lahade dan Andi Odang.
Namun pada 12 Maret 1947, rombongan Lahade dan Odang memutuskan pergi ke Suppa atas ajakan rekan seperjuangan, sedangkan Abu Bakar memilih tinggal bersama pas**annya di Maiwa.
Malam harinya, Abu Bakar bersama anak buahnya bermalam di Desa Salu Wajo. Tanpa disadari, satu unit pas**an KNIL telah menguntit pergerakan mereka sejak dari Maiwa.

Keesokan pagi, 13 Maret 1947 saat sebagian pas**an sedang mandi, KNIL melancarkan serangan mendadak.
Karena serbuan tiba-tiba, pas**an Abu Bakar tidak sempat menyusun pertahanan. Banyak dari mereka gugur atau tertawan; kabur terpencar.
Abu Bakar sendiri tertembak di paha. Dalam kondisi terluka dan tidak berdaya, ia dan beberapa anak buahnya ditangkap dan dibawa ke markas KNIL di Enrekang.

Setibanya di markas KNIL, para tawanan termasuk pejuang dari Batalyon I disiksa secara kejam. Mereka ditelanjangi, diikat pada tiang listrik, dan dibiarkan menderita selama lebih dari 24 jam.

Sementara itu, nasib Abu Bakar berakhir tr4gis. Kepala kapten itu dipengg4l.
Keesokan harinya, kep4la Abu Bakar dipajang di depan pintu gerbang pasar Enrekang, tert4ncap di ujung bayonet sebagai simbol kekuasaan dan peringatan brutal bagi masyarakat yang masih berani melawan.
Tak hanya itu, para tahanan rekan seperjuangannya dipaksa satu per satu mencium potong4n kepala itu. Sebuah penghinaan dan teror psikologis yang mendalam.

Tindakan ini tidak hanya untuk membvnuh fisik, tetapi juga mematahkan semangat perlawanan rakyat di Massenrempulu dan sekitarnya.

Kematian Abu Bakar terjadi pada 13 Maret 1947, saat usianya sekitar 33–34 tahun.
Meski demikian, perjuangannya meninggalkan jejak mendalam. Ia kemudian diakui sebagai pejuang, bahkan namanya diabadikan menjadi nama jalan di beberapa kota di Sulawesi Selatan, termasuk di Makassar.
Kisah beliau juga menjadi simbol pengorbanan dan keberanian rakyat Massenrempulu dalam mempertahankan kemerdekaan meskipun dibayar mahal dengan nyawa.

Bagi banyak orang di Sulawesi Selatan, terutama di Enrekang dan Massenrempulu, nama Andi Abubakar Lambogo tetap hidup sebagai lambang perjuangan dan semangat melawan penjajah.

Kisah Abu Bakar Lambogo menyentuh sekaligus menggetarkan. Ia bukan sekadar pejuang bersenjata, melainkan simbol bahwa kemerdekaan diraih melalui d4rah, air mata, dan keberanian luar biasa. Perjuangannya di tengah kebrutalan kolonial menunjukkan bahwa semangat merdeka tidak pernah padam, meskipun dihantam dengan cara paling kej4m.

Semoga redaksi ini bisa menjadi penghormatan bagi jasa-jasanya, dan mengingatkan kita bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibayar mahal oleh generasi seperti Abu Bakar Lambogo.

Sumber Referensi :

-“Kematian Tragis Pahlawan Asal Sulawesi Selatan, Kapten Abubakar Lambogo”, Merdeka.com

“-Aksi Brutal KNIL di Enrekang”, Historia.id

“-Abubakar Lambogo – Ensiklopedia Dunia STEKOM”

“-Abubakar Lambogo Guru Pejuang dari Enrekang, Kepalanya Dipenggal Belanda”, SuaraSulsel.id

“-Kisah Andi Abubakar Lambogo … kepala ditancapkan di ujung bayonet”, CNBKepri.com

11/05/2026

TUJUH PELURU MENERJANG TUBUH BAPAK "
(Jendral Ahmad yani)

"Salah seorang Tjakrabirawa dengan cepat menukas: " Tetapi jendral tidak perlu mandi karena jendral detik ini juga harus ke istana karena telah di tunggu bapak presiden."
Bapak (Ahmad Yani) berkata : "Paling tidak saya harus mandi dulu..! "
Jawaban yang muncul terdengar sangat kasar : "Tidak perlu jendral. Di istana juga ada kamar mandi! Bila perlu, dengan berpakaian piyama saja.
Jendral bisa berangkat bersama kami !"
Sampai di sini, Eddy (putra b**gsu Ahmad Yani) melihat bapak betul-betul marah.
Bapak langsung mendekat anggota Tjakrabirawa yang berkata kasar tadi, dan berkata :
"Kau prajurit , tau apa! Tangan bapak langsung meninju dengan ker4s ke muka Si Tjakra dan si Tjakra langsung jatuh terkapar. Bapak segera bergegas masuk menuju ke dalam dan menutup pintu kembali.
Melihat teman nya di pukul gerombolan Tjakrabirawa menjadi panik dan langsung menemb4k bapak dari belakang.
Peluru-p3luru langsung menyambar punggung bapak dan bapak langsung roboh di ruang makan.

Sumber buku : kunang-kunang kebenaran di langit malam, yang di tulis oleh keluarga para pahlawan revolusi.



11/05/2026

Pada masa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966).

Hutan belantara Kalimantan menjadi panggung pembuktian bagi pas**an elit Indonesia (RPKAD/Kopassus) melawan pas**an elit Inggris (SAS) dan Australia (SASR):

Tuan Rumah di Labirin Hijau: Di saat pas**an Inggris dan Australia harus membawa logistik berat dan peralatan canggih yang justru menghambat pergerakan, prajurit TNI bergerak seperti "hantu". Mereka mampu bertahan hidup hanya dengan apa yang disediakan alam (survival) tanpa bergantung pada suplai udara.

Taktik Gerilya yang Mematikan: Pas**an komando kita menggunakan taktik hit and run yang sangat rapi. Mereka sering kali melakukan penyergapan dari arah yang tidak terduga, lalu menghilang di balik lebatnya pepohonan sebelum musuh sempat membalas temb4kan.

Kejadian "Long Jaw" : Salah satu momen paling ikonik adalah saat pas**an Inggris dibuat frustrasi karena tidak bisa mendeteksi keberadaan prajurit kita meskipun jaraknya hanya beberapa meter. Kemampuan kamuflase dan disiplin tempur TNI membuat tentara SAS yang legendaris itu harus berpikir dua kali untuk masuk lebih dalam ke wilayah kita.

Pengakuan Lawan: Bertahun-tahun setelah konflik usai, banyak veteran SAS Inggris memberikan testimoni bahwa prajurit Indonesia adalah salah satu lawan terberat yang pernah mereka hadapi di medan hutan. Mereka mengakui bahwa "prajurit Indonesia lahir dan besar di hutan, sementara kami hanya berlatih di sana."

Kisah ini bukan sekadar tentang perang, tapi tentang harga diri sebuah bangsa yang tidak gentar menghadapi kekuatan militer global. Senjata canggih bisa dibeli, tapi nyali dan kemampuan beradaptasi di medan tersulit adalah warisan yang tak ternilai harganya.

Hingga hari ini, pas**an elit dunia masih sering datang ke Indonesia hanya untuk mempelajari satu hal: Bagaimana cara bertempur di hutan yang sebenarnya.

11/05/2026

Firasat Akhir Hayat, Jendral Paling Dihormati ini Keliling TMP Kalibata Sebelum Wafat.

Menjelang akhir hayatnya, Jenderal TNI (Purn) M. Jusuf sosok yang dijuluki Panglima Para Prajurit meninggalkan kisah yang menggetarkan nurani. Pada September 2003, dalam kondisi fisik yang tak lagi prima, ia meminta Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengantarkannya berkeliling Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Permintaan itu bukan perjalanan biasa; ia adalah ziarah sunyi, seolah pamit pada jejak-jejak persahabatan dan pengabdian.

Dimulai dari makam ayah Sjafrie seorang perwira Kodam Hasanuddin yang pernah menjadi anak buahnya Jusuf berdoa khusyuk. Lalu langkahnya berlanjut ke pusara Letjen TNI Ahmad Yani, pahlawan yang gugur dalam tragedi G30S. Dari sana ia menyambangi makam Suparjo Roestam dan Umar Wirahadikusumah, sahabat-sahabat seperjuangan. Meski matahari kian terik dan jarak semakin jauh, Jusuf tetap bersikeras menuju makam Jenderal TNI Maraden Panggabean di kompleks non-muslim sebuah penanda betapa kuatnya ikatan batin di antara para perwira bangsa.

Hampir dua jam ia menyusuri TMP Kalibata, tak menghiraukan rasa lelah. Ziarah itu, sebagaimana dicatat Atmadji Sumarkidjo, terasa seperti firasat sebuah persiapan menuju perjalanan kekal. Setahun kemudian, 8 September 2004, Jusuf berpulang dengan tenang di Makassar. Lautan manusia mengiringi kepergiannya; para prajurit, tokoh nasional, dan rakyat datang memberi hormat terakhir. Ia dimakamkan sederhana di TMP Panekkukang, sejalan dengan hidupnya yang bersahaja.

Perjalanan Jusuf adalah perjalanan sejarah Indonesia: dari KRIS pascakemerdekaan, Angkatan Laut, Polisi Militer, hingga puncak karier sebagai Panglima ABRI/Menhankam (1978). Ia dikenal dekat dengan prajurit, kerap menyapa di barak-barak, dan menolak bergantung pada fasilitas. Prabowo Subianto pun mengenangnya sebagai panglima yang mandiri dan tak ingin menyusahkan bekas anak buah teladan kepemimpinan yang berakar pada pengabdian, kesederhanaan, dan cinta Tanah Air.

Sumber : Ajnn.net

11/05/2026

Empat Yusuf manusia indonesia sejati adalah tokoh-tokoh besar asal Bugis Makassar yang diakui atas prestasi, integritas, dan kontribusi nyata bagi Indonesia dan dunia yang menjadi panutan dan menginspirasi kami generasi muda bangsa.
Tokoh-tokoh ini meliputi Syekh Yusuf Al-Makassari (Ulama/Pahlawan Nasional), Jenderal Muhammad Jusuf (Tokoh Militer), Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie (Presiden ke-3 RI), dan Muhammad Jusuf Kalla (Wapres ke-10 dan ke-12 RI).

Berikut adalah rincian empat tokoh Yusuf tersebut:

Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–1699): Ulama besar, pejuang, dan sufi yang diasingkan ke Afrika Selatan. Dikenal sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa, ia mengukir sejarah sebagai pahlawan Islam yang berdakwah hingga mancanegara.

Jenderal M. Jusuf (1928–2004): Tokoh militer terkemuka kelahiran Bone yang dikenal tegas dan sederhana. Ia memainkan peran penting dalam keamanan nasional dan kemanunggalan ABRI dengan rakyat.

Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie (1936–2019): Ilmuwan penerbangan internasional dan Presiden ke-3 Republik Indonesia. Dikenal sebagai "Bapak Teknologi Indonesia" yang memodernisasi industri strategis nasional.

Muhammad Jusuf Kalla (lahir 1942): Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI. Dikenal dengan gaya kepemimpinan tegas, cepat, serta perannya dalam berbagai mediasi perdamaian konflik di Indonesia.

10/05/2026

KISAH TRAGIS PAHLAWAN SADIMAN MANDOR KEBUN TEBU

Pada akhir abad ke 19, masyarakat di wilayah Pasuruan, Jawa Timur, memiliki seorang pahlawan lokal legendaris yang bernama Sadiman atau yang lebih dikenal dengan julukan Pak Sakera. Ia merupakan seorang mandor di perkebunan tebu Kayan yang sangat dihormati karena kepeduliannya terhadap nasib para buruh tani. Pada masa itu, pemerintah Kolonial Belanda dan para pejabat lokal yang korup sering kali memeras dan menindas rakyat kecil dengan memaksa mereka menyerahkan tanah perkebunan dengan harga yang sangat murah.

Tidak tahan melihat penderitaan dan tangisan rakyat, Pak Sakera yang memiliki sifat pemberani akhirnya bangkit melakukan perlawanan fisik. Bersenjatakan sebilah c3lurit taj4m, ia secara nekat memburu dan menghabisi para mandor pengkhianat dan pejabat polisi Belanda yang s**a memer4s rakyat desa. Aksinya yang sangat mem4tikan dan tidak kenal takut ini membuat pemerintah Belanda sangat ketakutan dan menetapkannya sebagai buronan tingkat tinggi yang paling dicari di seluruh wilayah Jawa Timur.

Berbagai upaya penangkapan yang dilakukan oleh pas**an bersenjata selalu gagal karena Pak Sakera dikenal memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi dan sulit ditangkap. Namun sebuah tragedi pengkhianatan yang menyakitkan terjadi pada tahun 1901.

Belanda yang kehabisan akal akhirnya menyuap satu sahabat dekat Pak Sakera untuk merancang jebakan licik. Lewat tipu muslihat di sebuah acara kesenian daerah, sang jagoan legendaris itu akhirnya berhasil dilumpuhkan saat sedang lengah. Pak Sakera kemudian dijatuhi hukum4n gantung di daerah Bangil, meninggalkan warisan keberanian luar biasa yang membuat senjat4 celurit dihormati sebagai simbol perlawanan rakyat kecil di daerah tersebut hingga saat ini.

10/05/2026

Foto tepat 30 tahun yang lalu, karya Julian Sihombing. Pak Harto menangis pada rangkaian pemakaman Bu Tien.

Setahuku, ini satu2nya foto Pak Harto menangis yang pernah ada. Dan saat itu Kompas tak berani memuatnya.

Pada tahun 1996 itu belum ada medsos. Kalau keadaan sudah seperti sekarang, orang pasti menggunjingkan Arloji yang dipakai Pak Harto, juga akik di jari manisnya.

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Bandung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Bandung