01/04/2026
"WONDERFULL TRIP "
Genre : teenlit, chicklit
Penulis : Khanza Rinz
"Aku kira hubungan kita sampai disini," ucap Ruben sedih.
Renee enggan menatap wajah Ruben yang pastinya super duper sendu dan ganteng.
Dengan rambut ikal pirangnya yang terasa halus saat jari-jemarinya membelai setiap Ruben masih tertidur.
Renee mengaduh.
"Aku tidak bisa begini terus!!" Tekad Renee.
"Selamat tinggal, Ruben.
Aku harap kau menemukan istri baru di Afrika sana!" Seru Renee dan segera membalikkan badannya.
Ruben menangkap tangannya.
"Renee, aku mohon.
Pertimbangkan lagi keputusanmu.
Jika kau s**arela tinggal di Afrika, aku jamin tidak ada wanita kulit putih yang akan kau cemburui," ucap Ruben sendu.
Suaranya terdengar bergetar.
Renee terhenyak lalu membalikkan wajah da badannya.
"Sungguh Ruben?
Kau kira aku tidak akan cemburu pada penduduk asli di Afrika sana jika kau tetap bergenit-genit pada mereka?
Kamu memang naif!"
Renee berjalan bergegas keluar dari ruang pengadilan perdata yang mengurus perceraian secara legal.
Hatinya terasa sesak.
..
Renee mengurung diri di apartemen kecilnya yang sederhana.
Dia memakai sweater tebal selutut tanpa bra, dan berkaos kaki sebetis warna merah cabe.
Dia menghayati sisi gerakan feminis yang menolak melakukan pengorbanan demi kenikmatan dan kepuasan lelaki.
Dia merasa bebas.
Dia juga merasa merdeka.
Tidak ada tali bra yang mengkungkung dada dan punggungnya hanya agar payudaranya tidak kendor dan tidak turun karena tertarik gaya tarik bumi alias gravitasi.
Lelaki sangat s**a penampilan payudara yang kenyal, mulus dan kencang.
Jika Renee memakai gaun pesta dengan dada terbuka, Ruben selalu mencuri-curi pandang ke arah belahan payudaranya yang naik karena Renee memakai push up bra tanpa tali.
Saat mereka bersama, Renee menikmati setiap saat Ruben mengagumi tubuhnya baik saat dia memakai baju ataupun tidak.
Tapi kegemaran itu hanya berlangsung sekitar 3 tahun saja.
Ruben ketahuan berselingkuh pada rekan kerja wanitanya yang selalu menggodanya.
1 tahun berikutnya adalah peperangan batin bagi Renee untuk tetap menikah dan mempercayai Ruben dengan tidak mempercayai semua perkataan dan tindakannya dan mempersiapkan perceraian yang terhormat.
Pucuk dicinta, ulampun tiba.
Di puncak kegoyahan Renee, Ruben dipromosikan menjadi direktur utama cabang Afrika Selatan.
Saat itulah Renee yakin Tuhan merestui perpisahan dirinya dengan Ruben.
Saat ini Renee mengikat rambutnya menjadi dua dengan karet gelang Cina yang kecil dan imut berwarna biru dan pink pastel.
Dia ingin kembali meremajakan jiwanya yang terasa 10 tahun lebih tua.
Renee menonton semua episode S*x And The City sambil mengunyah keripik kentang asin bumbu keju dan Jalapeno berkalori tinggi yang rasanya sangat lezat dan membuat ketagihan.
Berkaleng-kaleng minuman soda kosong, bergelimpangan di atas meja.
Tepat saat matanya setengah mengantuk menatap adegan saat Sarah Jessica Parker menghajar calon suaminya yang sengaja membawa pacar barunya yang lebih muda 20 tahun darinya, Renee terlelap dengan sukses.
"Ren, bangun! Kamu tidurnya ngorok!"
Renee mengedipkan mata.
Cheryl?
Cheryl menatapnya dengan mencemooh.
"Kamu minum obat apa?
Bisa-bisanya kamu mengantuk di kelas Sastra Inggris?" Bisik Cheryl.
Renee mencoba menegakkan punggungnya.
"Ren, punggung kamu menghalangi!" Bisik Jenni was-was.
Renee menatap ke arah Ariel yang menatapnya setengah menahan tawa dan setengah terbelalak.
Renee teringat dia iseng mencoba Inex, obat flu untuk anjing yang berwarna kuning menyala. Hari Minggu kemarin pacar Tori memberinya sebutir Inex sebagai promosi.
Renee mencari tahu Inex itu obat apa di internet.
Dia merasa dilecehkan ketika sadar Inex adalah obat flu untuk anjing.
Seekor anjing yang sangat lincah harus dibawa jalan-jalan agar tingkahnya tidak hiperaktif dan mengacau-balaukan rumah.
Renee bukan orang yang hiperaktif dan pencerocos. Dia sangat tenang dan kalem.
Tapi insting calon wartawannya ingin tahu efek obat flu anjing itu pada dirinya yang bertemperamen tenang.
Hasilnya, Renee tertidur dengan sukses di pelajaran Sastra Inggris Pak guru Todd.
Renee terbangun dengan kaget.
Mimpinya barusan seperti benar-benar nyata.
Renee tertegun.
"Sebentar. Mimpi tadi memang pernah terjadi saat dia SMA," pikir Renee yakin.
Tapi mengapa kejadian saat dia dan gang perempuannya di SMA, terulang sesaat tadi?
Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka berempat bertualang mengelilingi Amerika dengan truk karavan warisan kakek dan nenek Cheryl?
Malam telah turun.
Renee masih termangu dengan lamunannya.
Apartemennya gelap dengan cahaya yang hanya bersumber dari televisi dan dvd player.
Renee menggeliat.
Dari ruangannya, Renee menatap nanar ke arah gedung apartemen di seberang apartemennya.
Jendela-jendela kaca mereka sudah terang karena lampu-lampunya sudah dinyalakan.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon yang berisik.
Renee meraba-raba sofa dan melempar bantal-bantal untuk mencari telepon selularnya.
Hp itu terselip. Renee segera mengangkat telepon.
"Hai Ren."
Renee tersenyum.
"Hai, John. Ada apa?"
"Apakah besok kau akan masuk kantor?"
"Tentu saja. Cukup satu hari aku absen.
Kau perlu aku,"tanya Renee berharap.
Terdengar hening sesaat.
"Iya. Aku butuh novel remaja yang baru.
Maksudku benar-benar novel yang bertema semangat remaja, darah muda yang panas dan pesta di musim panas yang mencerahkan wawasan.
Apakah kau memiliki mas**an?"tanya John.
Renee terdiam sesaat.
John memanggilnya dari ujung hpnya.
"Renee? Kau pingsan?"
Renee tersenyum. Editor ganteng-nya itu benar-benar gemar membuat lelucon garing.
"Aku punya cerita yang sesuai dengan tema yang kau inginkan.
Tapi ini bukan cerita fiksi.
Ini cerita nyata.
Ini ceritaku dan gang perempuanku saat kami lulus dari SMA.
Kami bertualang mengelilingi beberapa kota dengan truk karavan temanku.
Banyak sekali kisah menarik yang bisa aku tulis untuk novel yang kau mau," ucap Renee.
"Wow, cerita petualang remaja Amerika.
Kalian backpacker?" Tanya John lagi.
Renee menggeleng.
"Kami tidak backpackeran. Aku dan kedua teman wanitaku jago mengemudi mobil.
Apakah aku pernah bilang aku pernah melakukan balap mobil dengan mobil ketigaku dan mobil itu menabrak truk dengan cantik?"ucap Renee.
John terdiam.
"Sungguhan?"
Renee mengangguk.
"Begini saja. Buatlah sinopsisnya malam ini.
Besok aku tunggu di kantor."
Rened tersenyum.
"Oke, bos!"
John tersenyum dan mematikan ponselnya.
"Dan mengapa kau tersenyum sendirian?" Tegur Anne tajam.
John langsung berdehem.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kau ingin minum teh dengan madu dan lemon?
Sconemu ingin diolesi mentega atau selai ?" Tawar John manis.
Anne tetap cemberut bahkan ketika John menyajikan seteko tinggi teh panas dengan gula, susu dan sepiring kecil Scone renyah ke meja di hadapan Anne.
Anne meraih teh yang diserahkan John padanya.
"Aku tidak s**a kamu senyum-senyum saat menelpon.
Apakah yang kau telepon itu wanita lain?" Tanya Anne.
John mengaduk tehnya yang dibubuhi madu.
"Tadi itu Renee. Dia punya tema kisah baru novelnya. Kisah petualangan mengelilingi Amerika!"
Mata Anne membulat.
"Singguhkah? Aku mengira selama ini Renee wanita alim yang kolot.
Ternyata dia pernah bepergian mengelilingi Amerika.
Apa dia melakukannya secara Backpacker?" Tanya Anne.
John menggeleng.
"Dia dan ketiga teman wanitanya mengelilingi Amerika memakai truk karavan."
Anne berseru girang.
"Aku ingin novelnya cepat ditulis dan diketik!"
John tersenyum menata tunangannya berseru girang seperti anak perawan ditawari boneka beruang besar yang cantik.
( bersambung)
01/04/2026
29/03/2026
28/03/2026
27/03/2026
25/03/2026