Kumpulan Cerita Spionase

Kumpulan Cerita Spionase

Share

cerita detektif

01/04/2026

"WONDERFULL TRIP "
Genre : teenlit, chicklit
Penulis : Khanza Rinz

"Aku kira hubungan kita sampai disini," ucap Ruben sedih.
Renee enggan menatap wajah Ruben yang pastinya super duper sendu dan ganteng.
Dengan rambut ikal pirangnya yang terasa halus saat jari-jemarinya membelai setiap Ruben masih tertidur.
Renee mengaduh.
"Aku tidak bisa begini terus!!" Tekad Renee.
"Selamat tinggal, Ruben.
Aku harap kau menemukan istri baru di Afrika sana!" Seru Renee dan segera membalikkan badannya.
Ruben menangkap tangannya.
"Renee, aku mohon.
Pertimbangkan lagi keputusanmu.
Jika kau s**arela tinggal di Afrika, aku jamin tidak ada wanita kulit putih yang akan kau cemburui," ucap Ruben sendu.
Suaranya terdengar bergetar.
Renee terhenyak lalu membalikkan wajah da badannya.
"Sungguh Ruben?
Kau kira aku tidak akan cemburu pada penduduk asli di Afrika sana jika kau tetap bergenit-genit pada mereka?
Kamu memang naif!"
Renee berjalan bergegas keluar dari ruang pengadilan perdata yang mengurus perceraian secara legal.
Hatinya terasa sesak.
..

Renee mengurung diri di apartemen kecilnya yang sederhana.
Dia memakai sweater tebal selutut tanpa bra, dan berkaos kaki sebetis warna merah cabe.
Dia menghayati sisi gerakan feminis yang menolak melakukan pengorbanan demi kenikmatan dan kepuasan lelaki.
Dia merasa bebas.
Dia juga merasa merdeka.
Tidak ada tali bra yang mengkungkung dada dan punggungnya hanya agar payudaranya tidak kendor dan tidak turun karena tertarik gaya tarik bumi alias gravitasi.
Lelaki sangat s**a penampilan payudara yang kenyal, mulus dan kencang.
Jika Renee memakai gaun pesta dengan dada terbuka, Ruben selalu mencuri-curi pandang ke arah belahan payudaranya yang naik karena Renee memakai push up bra tanpa tali.
Saat mereka bersama, Renee menikmati setiap saat Ruben mengagumi tubuhnya baik saat dia memakai baju ataupun tidak.
Tapi kegemaran itu hanya berlangsung sekitar 3 tahun saja.
Ruben ketahuan berselingkuh pada rekan kerja wanitanya yang selalu menggodanya.
1 tahun berikutnya adalah peperangan batin bagi Renee untuk tetap menikah dan mempercayai Ruben dengan tidak mempercayai semua perkataan dan tindakannya dan mempersiapkan perceraian yang terhormat.
Pucuk dicinta, ulampun tiba.
Di puncak kegoyahan Renee, Ruben dipromosikan menjadi direktur utama cabang Afrika Selatan.
Saat itulah Renee yakin Tuhan merestui perpisahan dirinya dengan Ruben.

Saat ini Renee mengikat rambutnya menjadi dua dengan karet gelang Cina yang kecil dan imut berwarna biru dan pink pastel.
Dia ingin kembali meremajakan jiwanya yang terasa 10 tahun lebih tua.
Renee menonton semua episode S*x And The City sambil mengunyah keripik kentang asin bumbu keju dan Jalapeno berkalori tinggi yang rasanya sangat lezat dan membuat ketagihan.
Berkaleng-kaleng minuman soda kosong, bergelimpangan di atas meja.
Tepat saat matanya setengah mengantuk menatap adegan saat Sarah Jessica Parker menghajar calon suaminya yang sengaja membawa pacar barunya yang lebih muda 20 tahun darinya, Renee terlelap dengan sukses.

"Ren, bangun! Kamu tidurnya ngorok!"
Renee mengedipkan mata.
Cheryl?
Cheryl menatapnya dengan mencemooh.
"Kamu minum obat apa?
Bisa-bisanya kamu mengantuk di kelas Sastra Inggris?" Bisik Cheryl.
Renee mencoba menegakkan punggungnya.
"Ren, punggung kamu menghalangi!" Bisik Jenni was-was.
Renee menatap ke arah Ariel yang menatapnya setengah menahan tawa dan setengah terbelalak.
Renee teringat dia iseng mencoba Inex, obat flu untuk anjing yang berwarna kuning menyala. Hari Minggu kemarin pacar Tori memberinya sebutir Inex sebagai promosi.
Renee mencari tahu Inex itu obat apa di internet.
Dia merasa dilecehkan ketika sadar Inex adalah obat flu untuk anjing.
Seekor anjing yang sangat lincah harus dibawa jalan-jalan agar tingkahnya tidak hiperaktif dan mengacau-balaukan rumah.
Renee bukan orang yang hiperaktif dan pencerocos. Dia sangat tenang dan kalem.
Tapi insting calon wartawannya ingin tahu efek obat flu anjing itu pada dirinya yang bertemperamen tenang.
Hasilnya, Renee tertidur dengan sukses di pelajaran Sastra Inggris Pak guru Todd.

Renee terbangun dengan kaget.
Mimpinya barusan seperti benar-benar nyata.
Renee tertegun.
"Sebentar. Mimpi tadi memang pernah terjadi saat dia SMA," pikir Renee yakin.
Tapi mengapa kejadian saat dia dan gang perempuannya di SMA, terulang sesaat tadi?
Sudah berapa tahun berlalu sejak mereka berempat bertualang mengelilingi Amerika dengan truk karavan warisan kakek dan nenek Cheryl?
Malam telah turun.
Renee masih termangu dengan lamunannya.
Apartemennya gelap dengan cahaya yang hanya bersumber dari televisi dan dvd player.
Renee menggeliat.
Dari ruangannya, Renee menatap nanar ke arah gedung apartemen di seberang apartemennya.
Jendela-jendela kaca mereka sudah terang karena lampu-lampunya sudah dinyalakan.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon yang berisik.
Renee meraba-raba sofa dan melempar bantal-bantal untuk mencari telepon selularnya.
Hp itu terselip. Renee segera mengangkat telepon.
"Hai Ren."
Renee tersenyum.
"Hai, John. Ada apa?"
"Apakah besok kau akan masuk kantor?"
"Tentu saja. Cukup satu hari aku absen.
Kau perlu aku,"tanya Renee berharap.
Terdengar hening sesaat.
"Iya. Aku butuh novel remaja yang baru.
Maksudku benar-benar novel yang bertema semangat remaja, darah muda yang panas dan pesta di musim panas yang mencerahkan wawasan.
Apakah kau memiliki mas**an?"tanya John.
Renee terdiam sesaat.
John memanggilnya dari ujung hpnya.
"Renee? Kau pingsan?"
Renee tersenyum. Editor ganteng-nya itu benar-benar gemar membuat lelucon garing.
"Aku punya cerita yang sesuai dengan tema yang kau inginkan.
Tapi ini bukan cerita fiksi.
Ini cerita nyata.
Ini ceritaku dan gang perempuanku saat kami lulus dari SMA.
Kami bertualang mengelilingi beberapa kota dengan truk karavan temanku.
Banyak sekali kisah menarik yang bisa aku tulis untuk novel yang kau mau," ucap Renee.
"Wow, cerita petualang remaja Amerika.
Kalian backpacker?" Tanya John lagi.
Renee menggeleng.
"Kami tidak backpackeran. Aku dan kedua teman wanitaku jago mengemudi mobil.
Apakah aku pernah bilang aku pernah melakukan balap mobil dengan mobil ketigaku dan mobil itu menabrak truk dengan cantik?"ucap Renee.
John terdiam.
"Sungguhan?"
Renee mengangguk.
"Begini saja. Buatlah sinopsisnya malam ini.
Besok aku tunggu di kantor."
Rened tersenyum.
"Oke, bos!"
John tersenyum dan mematikan ponselnya.

"Dan mengapa kau tersenyum sendirian?" Tegur Anne tajam.
John langsung berdehem.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kau ingin minum teh dengan madu dan lemon?
Sconemu ingin diolesi mentega atau selai ?" Tawar John manis.
Anne tetap cemberut bahkan ketika John menyajikan seteko tinggi teh panas dengan gula, susu dan sepiring kecil Scone renyah ke meja di hadapan Anne.
Anne meraih teh yang diserahkan John padanya.
"Aku tidak s**a kamu senyum-senyum saat menelpon.
Apakah yang kau telepon itu wanita lain?" Tanya Anne.
John mengaduk tehnya yang dibubuhi madu.
"Tadi itu Renee. Dia punya tema kisah baru novelnya. Kisah petualangan mengelilingi Amerika!"
Mata Anne membulat.
"Singguhkah? Aku mengira selama ini Renee wanita alim yang kolot.
Ternyata dia pernah bepergian mengelilingi Amerika.
Apa dia melakukannya secara Backpacker?" Tanya Anne.
John menggeleng.
"Dia dan ketiga teman wanitanya mengelilingi Amerika memakai truk karavan."
Anne berseru girang.
"Aku ingin novelnya cepat ditulis dan diketik!"
John tersenyum menata tunangannya berseru girang seperti anak perawan ditawari boneka beruang besar yang cantik.
( bersambung)






01/04/2026

"WONDERFULL TRIP"
Genre : teenlit, chicklit
Penulis : Khanza Rinz

Sinopsis: Renee, Cheryl, Jenny dan Ariel bertemu saat mereka kelas 1 SMA.
Pertemanan mereka dimulai dengan akrab, seru dan konflik remaja.
Selepas SMA mereka memutuskan untuk liburan selama 1 tahun sebelum mereka meneruskan kuliah ke universitas favorite masing-masing.
Mereka berempat memulai petualangan pertama mereka dari kota besar di Los Angeles ke pelosok kota bagian Amerika yang lengang.
Dengan bermodalkan truk Karavan warisan Kakek Cheryl, gabungan uang tabungan keempat gadis eksentrik itu dan niat untuk bertualang sebelum sibuk kuliah.
Serukah petualangan mereka?
Ataukah, menyeramkan?
Baca kisah petualangan mereka secepatnya di Khanza Rinz page Kumpulan Cerita Spionase
( rinz)




29/03/2026

"GREAT SHOW, RUE!"
Genre : romansa, teenlit
Penulis : Khanza rinz

Kedua orangtua Rue mengajukan cuti belajar di sekolah untuk Rue.
Waktu 3 bulan bepergian ke 10 kota berbeda bukan masa yang singkat bagi seorang siswa sekolah.
Kepala sekolah mengizinkan cuti belajar untuk Rue karena Rue adalah siswa yang berprestasi.
"Jika Rue bukan siswa yang berprestasi di sekolah, pihak sekolah pasti akan berpikir seribu kali untuk mengabulkan cuti belajar di sekolah.
Tapi karena kami merasa Rue siswa yang cepat tanggap dan cepat menangkap pelajaran, pihak guru akan kami perintahkan mengajar Rue secara daring," ucap Pak Mark , Kepala Sekolah.

Rue tidak keberatan.
Toh selama ini dirinya terbukti lebih mengerti pelajaran sekolah dibantu dengan membaca artikel di Google, menonton materi Biologi, Fisika dan Kimia di Youtube, dan belajar bahasa Spanyol lebih mendalam lewat aplikasi pertemanan internasional.
Kesepakatan dibuat.
Rue menjalani perannya sebagai maskot sponsor di setiap kota tempat lomba peragaan busana diselenggarakan sambil belajar dari giru-gurunya srcara daring.
Rue dan 2 gadis lainnya benar-benar melakukan road show bersama dengan para juri lomba. Rue dan 2 gadis lainnya diberi kamar tersendiri saat mereka singgah di satu kota. Di saat itulah Rue akan mengulang pelajaran yang disiarkan gurunya secara online ataupun offline.

Berbagi kamar bersama orang lain membuat Rue tidak bisa menjadi dirinya sendiri yang manha dan seenaknya.
Rue harus menggantung handuk di kamar mandi tidak diatas kasur seperti biasanya.
Rue juga harus melipat pakaian dalamnya yang kotor baik-baik jika tidak ingin melihat kedua teman sekamarnya memencet hidung dan menatapnya penuh rasa jijik.
Satu kali Rue merasa kedua teman sekamarnya cemberut menatapnya baru bangun tidur.
"Ada apa," tanya Rue polos.
"Apakah kamu tidak sadar jika kamu semalam tidur sambil mendengkur keras sekali?
Kami jadi terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi!"
Rue memohon maaf.
Dia lalu mencari alternatif obat mendengkur selain tidak tidur.
"Coba kau lubangi hidungmu seperti wanita India. Mereka tak pernah mendengkur," ujar Carry, teman sekamarnya yang mengenakan kostum ayam betina putih yang lebih ringan daripada kostum badutnya yang berat.
"Apakah rasanya sakit?"tanyanya.
Carry menatapnya dengan aneh.
"Petugas akan melubangi hidungmu dengan alat pelubang atau disebut alat tembak.
Sakitnya hanya saat di awal saja."
Rue menuruti saran itu dan mencari studio pembuat tato yang juga melayani pembuatan tindik wajah dan badan.
Sebelum Rue menindik hidungnya, Rue memastikan jika studio pembuatan tato dan tindik wajah itu memiliki sertifikat resmi dari departemen kesehatan.
Rue pernah membaca jika penyakit HIV dan AIDS bisa menular lewat suntikan yang dipakai pasien HIV dan AIDS secara beramai-ramai.
Begitu juga dengan penggunaan jarum pembuat tato dan jarum pembuat lubang yang tidak diganti setelah penggunaan dengan pasien dengan HIV dan Aids dan konsumen sebelumnya yang memakai jasa pembuatan seni tato tubuh dan tindikan.
Pembuatan tindik itu seharga 25 dollar.
Tapi Rue merasa anting berlian palsu itu tampak keren di hidungnya yang mancung dan tinggi. Dengkurnya sedikit berkurang. Hal ini membuat Carry sombong karena telah memberi saran yang masuk akal dan berhasil.

Rue baru merasakan lelahnya melakukan road show sambil tetap belajar secara daring.
Tubuhnya terlihat lebih kurus, matanya cekung, dan pipinya tampak lebih tirus.
Saat Yan melihatnya di whatsapp secara videocall, Yan menjerit cemburu.
"Rue!! Kamu terlihat lebih keren dan langsing!
Kamu benar-benar terlihat dewasa dan mirip peragawati profesional!"
Bagaimana aku tidak kurus, pikir Rue pahit.
Rue berusaha tersenyum.
Dalam road show itu nafsu makannya menurun. Rue inginnya selalu minum soda atau milkshake strawberi atau jeruk.
Rue juga baru merasakan rasa pusing karena darah rendah dan dehidrasi.
Baru 5 kota Rue unjuk gigi, ketahanan tubuhnya merosot drastis. Rue pingsan karena kecapekan dan kurang makan.
Rue dilarikan ke rumah sakit dan harus diinfus.
Dokter menyarankan agar Rue tidak lupa makan , nyemil buah-buahan yang tinggi vitamin dan gizi, minum vitamin C dosis tinggi dan minum susu.
Rue mengangguk mengiyakan saat di depan dokter.
Tapi saat kesibukannya sebagai maskot sponsor membuatnya harus aktif di depan penonton, Rue tetap saja lupa makan.

Di akhir road show, lomba pagelaran busana diadakan di kotanya sendiri.
Rue mulai bergairah.
Sebentar lagi dirinya akan kembali menjalani hari-harinya yang normal lagi.
Dia akan menjadi putri kedua orangtuanya yang manja dan pemalas.
Dia akan bertemu Yan dan mengobrol bersamanya.
Dan yah, Rue mungkin akan bertemu Edward lagi. Edward mungkin akan bersama pacar barunya, si gadis kurus , cantik dan pirang dari SMA Interhigh.
"Ah, sudahlah!" Ujar Rue masa bodoh.
Rue mulai makan gila-gilaan.
2 cheeseburger belum cukup baginya.
Rue menambahkan sekeranjang kecil kentang goreng dengan saos tomat.

Rue mengirimkan sms dan video call bagi Yan dan kedua orangtuanya untuk menonton road show terakhirnya sebagai badut yang merupakan maskot sponsor.
Sebagai pemeriah dan adik dari kakak senior yang keren, Timothy, Yan berhasil mengumpulkan kelas angkatan kakaknya di kelas 3 dan kelas angkatan dirinya dan Rue di kelas 2.
Sebagai penutup road show lomba peragaan busana di 10 kota, pihak televisi nasional meliput road show terakhir itu.
Beberapa band lokal menjadi daya tarik road show itu lebih meriah dan menarik banyak massa sebagai penonton.

Di akhir road show itu, Martha, Patricia dan Alie ikut membantu saat gladi kotor.
Karena di lomba peragaan busana ini ada band lokal yang menjadi pengisi acara, pagelaran busana kali ini terasa lebih meriah.
Salon sound system yang dipasang dekat kanan -kiri panggung, terlihat bergetar dan berdentam-dentam seiring langkah kaki para peserta peragaan busana.
Para peserta benar-benar merasa menjadi peragawati Victorian Secret. Hanya saja mereka tidak memamerkan perut rata, payudara berpush-up bra, paha tanpa selulit dan sayap buatan yang berkerlap-kerlip.

Para penonton remaja yang datang untuk melihat band pengisi acara, terkagum-kagum melihat busana yang dilombakan para peserta.
Mayoritas remaja menonton acara peragaan busana seraya makan dan minum jajanan dari booth-booth camilan yang berjajar di sepanjang pintu masuk.
Bagian Rue dan kedua gadis maskot sponsor lainnya ada di bagian pembukaan, menjelang istirahat dan di bagian penutupan acara.
Karena memakai kostum dan kepala badut, otomatis wajah Rue tidak pernah terlihat orang lain . Hanya tingkah polah maskot badut sponsor yang membuat kostum Rue diperhatikan oleh para penonton.

Yan, Tim dan kedua orangtua Rue kecewa saat menyadari wajah asli Rue tidak diperlihatkan selama lomba peragaan busana berlangsung.
Mereka harus puas memotret Rue berkostum badut yang melambai-lambaikan tangan dengan semangat kepada para penonton.
Hanya Jessica yang menjadi peserta lomba peragaan busana yang mengetahui wajah asli Rue saat acara berakhir.

Rue membuka kepala badut di bagian belakang panggung, tepat ketika Jessica akan berganti pakaian.
Jessica terperanjat menatap sosok Rue setelah absen dari sekolah selama 3 bulan.
"Rue?" Tanya Jessica tak percaya.
Rue tersenyum.
"Hai, Jess. Lama tak bertemu. Kau terlihat kurus," ucap Rue tulus.
Jessica salah tingkah.
"Wah, terimakasih.
Kau juga! Terlihat kurus dan ....berbeda," ucap Jessica saat meneliti penampakan baru Rue.
Rue menjatuhkan kostum badutnya.
Tak heran jika dirinya terlihat lebih kurus kini.
Sepanjang road show Rue harus menanggung berat beban kostum badut yang memiliki berat 2-3 kilo.
Rue tak sadar dirinya melakukan pembakaran kalori saat memakai kostum badut itu.
...

Rue kehilangan 8 kilo dalam waktu 3 bulan!
Setelah kontrak 3 bulannya berakhir, Rue memperbaiki tidur dan pola makannya.
Karena tidak harus latihan dan memakai kostum badut lagi, berat badan Rue mulai naik lagi.
Timothy telah lulus dengan nilai bagus.
Rue dan Yan naik ke kelas 3 dan mulai bertingkah seperti senior pada umumnya, sok berkuasa dan berlagak seperti bos.
Selepas putusnya dengan Rue, Edward pacaran dengan beberapa gadis sebelum merasakan jika dirinya hanya dimanfaatkan sebagai supir pribadi mereka.
Edward vakum dari basket untuk mendapatkan nilai tinggi di bidang eksakta, mata pelajaran yang dis**ainya setelah basket.
Rue ingat jika Edward ingin menjadi astronot kelak.
Saat acara kelulusan mereka terjadi , Rue berinisiatif untuk berkomunikasi dengan Edward kembali.
Apalagi setelah tesis Edward dinobatkan sebagai tugas akhir SMA terbaik nasional yang pernah ditemukan, terpikirkan dan dituliskan.

Rue dan Edward sama-sama menjadi pribadi dewasa dan baru.
Saat Edward mengajaknya berkencan di Pizza Hut sebagai perayaan kelulusan mereka, Rue mengiyakan.
Saat Rue tengah mengunyah pizza , Edward meminta Rue untuk menjadi pacarnya lagi.
Dan tentu saja Rue menerimanya.
Hal ini merupakan penutup cerita yang bagus bukan?
Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya ya!
( khanza rinz)






28/03/2026

Mereka yg diangkat menjadi Ketua,Presiden, Pemimpin atau Imam, memiliki lebih besar peluang doa-doanya dikabulkan.

28/03/2026

Jangan sia2kan terkabulnya doa anda dgn urusan masalah orang biasa.Masalah seorang Pemimpin itu lebih maslahat atau mudharat,tapi ttp berpahala.

28/03/2026

A woman is not cup of a game.
A woman have their own minds, soul, personality, desire and their own problem.

28/03/2026

"GREAT SHOW, RUE!"
Genre : romansa, teenlit
Penulis : khanza rinz

Seorang Juri berdiri dan mengumumkan nama tiga orang dari kursus peragawati yang dibawahi Martha yang berhasil masuk seleksi sponsor.
"Gianna, Val dan Runi Whitacker."
Rue meledak tangis harunya saat mendengar dirinya masuk seleksi sponsor.

Ketiga gadis itu lalu diperintah untuk maju ke panggung dan mendapatkan pengarahan.
Juri itu menatap ketiga finalis.
"Kalian akan dikontrak selama 3 bulan oleh tim sponsor. Selama 3 bulan kalian harus mengikuti pargelaran busana yang diadakan di 10 kota berbeda menurut jadwal yang ditentukan tim sponsor.
Kalian harus memakai kostum sponsor yang telah disediakan.
Penandatanganan kontrak akan dilakukan di depan pengacara.
Jika umur kalian di bawah 18 tahun, maka penandatangan kontrak harus disertai kehadiran kedua orangtua atau salah satunya."
Wajah Rue memucat.
Dia harus meminta izin kedua orangtuanya dan menyertakan mereka dalam penandatanganan kontrak?

Martha menatap Rue.
"Peraturan adalah peraturan.
Pihak kursus, agensi dan sponsor tidak ingin mendapat tuntutan dari pihak orangtua pemenang lomba hanya karena mereka tidak mengetahui anak mereka bekerja," ucap Martha.
Rue menatap Martha.
"Tapi kedua orangtuaku pasti lebih mengutamakan sekolah dan prestasi akademik daripada menjadi peragawati berkostum badut," ucap Rue sedih.
Rue meneteskan airmatanya.
"Ayahku dosen hebat. Dan Ayahku ingin aku mengikuti jejaknya sebagai dosen dengan prestasi akademik yang membanggakan."
Martha menegakkan punggungnya.
Rue menatap Martha dengan mata menyala-nyala.
"Tapi aku ingin sekali menjadi peragawati!
Ini adalah langkah terbesarku menjadi diriku sendiri dan bukan hanya sekedar menjadi putri bayangan Ayahku!"
Martha merasakan semangat itu.
Semangat yang dilihatnya saat dirinya yang remaja meneguhkan dirinya menjadi seorang model.
Martha merasakan gelombang dejavu melanda dirinya.
Rue terpana.
"Martha, kau tak apa-apa?"
Martha mengangguk pelan seraya memegangi kepalanya.
....
Rue mencari Ibunya di dapur.
"Mom?"
Ibunya sedang sibuk mempersiapkan makan malam seraya mendengarkan musik dari headphone.
Rue menatap masakan yang dibuat ibunya.
Spagetti sedang ditiriskan dalam saringan plastik diatas mangkuk kaca.
Di dalam wajan steinles steel Ibunya mengaduk saus tomat dengan bola-bola daging berwarna kecoklatan yang telah ditumis sebelumnya.
Aroma tomat tercium ke seantero dapur.
Rue duduk di depan meja saji.
Ibunya tetap bersenandung dan berbalik untuk mengambil sendok kecil.
"Ah, Runi! Kau mengagetkanku!" Seru ibunya kaget.
Rue tersenyum kecil.
Ibunya menyendok saus tomat dan mengambil wadah gula pasir, mengambil sejumput, lalu menyebarkan gula itu diatas saos tomat.
Rue memutuskan untuk jujur.
"Mom, aku memenangkan seleksi peragawati di kursus peragawatiku!"
Ibunya terdiam.
Dia menoleh kesana-kemari dan memutuskan tidak mendengar apa-apa.
Ibunya menuang bola-bola daging berlumur saos tomat ke dalam piring keramik putih yang pinggirannya datar dan bagian tengahnya sedikit cekung.

Rue menghampiri ibunya, menarik headphonenya dan berbisik mesra,
"Mom, aku memenangkan lomba peragawati di tempat kursusku."
Ibunya terpaku lalu memeluk Rue dengan hangat.
"Itu kabar bagus, Runi Whitetacker.
Aku sangat bangga padamu!"
Rue menatap ibunya.
"Aku mendapat kontrak selama 3 bulan penuh ke 10 kota.
Penandatanganan kontrak harus ditemani orangtua," ucap Rue.
Ibunya menatap Rue sejenak.
"Wow, 3 bulan ke 10 kota?
Itu kerja keras, Rue.
Bukan wisata jalan-jalan," ucap Ibunya.
Rue mengangguk.
Ibunya menatap Rue, mencari tekad dan kesungguhan dalam wajah putrinya.
"Apakah kau ingin melakukan ini?
Kau akan berjauhan dengan rumah, berjauhan dengan ayah ibumu, dimarahi orang bertitel atasanmu, dicemburui sesama rekan kerjamu, dijahili rekan kerja yang licik dan dengki, kurang tidur, kurang makan.
Bekerja sebagai peragawati ke 10 kota dalam waktu 3 bulan itu capek dan melelahkan!
Kita tidak berbicara tentang study tour, kau akan bekerja!"seri ibunya menegaskan.
Rue mengangguk mengerti.
"Aku mengerti, Mom.
Aku siap menanggung semua resiko dan konsekuensi berjauhan dengan kalian dan bekerja penuh selama 3 bulan ke 10 kota!" Seru Rue mantap.
Ibunya mengedip.
"Tetap saja kita harus membicarakan hal ini pada Ayahmu.
Dia tidak s**a jika tidak diikutsertakan dalam setiap pengambilan keputusan nasib putrinya, yaitu kamu!"
Rue mengangguk dan merasa lega karenanya.
"Ayahku harus tahu. Tapi Ayah harus mengerti jika aku sangat menginginkan pekerjaan ini, Mom!"tegas Rue setengah memohon.
Ibunya tersenyum.
"Aku tahu itu. Sekarang bantu aku!
Atur meja untuk makan malam 3 orang.
Piring untuk spagetti ada di lemari bawah.
Pakai sendok dan garpu steinles berkepala besar.
Pakailah gelas tinggi polos untuk air minum.
Serbet alas untuk piring ada di laci," ujar ibunya memberikan instruksi.
Rue membuka lemari dan mengeluarkan piring-piring keramik putih .
(bersambung)




27/03/2026

"GREAT SHOW, RUE!"
Genre : romansa, teenlit
Penulis : khanza rinz

"Dan ini kostum bagianmu," ucap Patricia, seksi pembagian kostum.
Rue menatap kostum dan kepala badut bagiannya. Beratnya mungkin sekitar 2 kilogram. Wajah badut itu memiliki senyum yang ceria. Tapi jika seseorang menatapnya lebih dekat, senyum itu seakan berubah menjadi seringai vampire penghisap darah.

Rue memakai kostum dan kepala badut itu dengan susah payah.
Setelah itu dia harus latihan berjalan dengan tegak tanpa kehilangan keseimbangan.
Gadis lain yang mendapat kostum yang lebih ringan bisa dengan mudah beradaptasi dan bisa melangkah dengan anggun.

Patricia bertepuk tangan.
"Ayo, ayo. Seleksi ini sangat penting buat agensi kita!
Jika kalian tidak bisa membawakan kostum sponsor dengan baik, image sponsor akan jatuh dan produknya tidak laku.
Jika produknya tidak laku maka profesi peragawati dan model seperti kalian akan punah dari muka bumi!"
Para gadis dan Rue tercekat mendengar hal itu. Beban mereka semakin berat.
Sungguh susah tersenyum jika kostum kamu terlihat sangat konyol karena berbentuk bulat besar, berbulu dan berwarna ungu kerlap-kerlip. Mirip monster di film Monster Inc.
Hanya Martha yang tersenyum geli dari kejauhan.

Rue berusaha keras membawakan bagiannya di panggung.
Saat di tengah panggung, langkahnya hilang irama karena beratnya kostum.
Rue terjatuh.
Beberapa gadis tertawa tertahan.
Rue berusaha bangkit walau dengan susah payah.
Patricia berseru," Ayo bangkit lagi! Jangan biarkan kejatuhanmu menjadi penghalang bagi yang lain!"
Rue menggertakkan giginya.
Dia bangkit dan mulai berjalan dengan lebih hati-hati.
Mereka melakukan gladi kotor beberapa putaran sebelum istirahat makan siang.
"Setelah makan siang, seleksi akan dimulai," seru Patricia.
Setiap gadis berwajah tegang.
Mereka tahu jika jasa mereka dipakai di panggung lokal pada sebuah brand terkenal, maka kesempatan mereka menjadi peragawati terkenal dunia bisa terbuka.
Bagi Rue seleksi ini adalah pertarungan kerja keras antar peragawati.
Imbalannya bukan hanya menjadi peragawati sponsor saja, tapi juga harga diri.
Rue teringat nasehat ayahnya,
"Kau harus memiliki kemauan untuk berkompetisi dan menang, Rue.
Tapi ingat, kejujuran dan kerja keras dirimu dalam mencapai kemenangan lebih sangat berharga daripada sebutan juara itu sendiri.
Jadilah seorang juara yang jujur.
Menang dengan jujur lebih memuaskan hatimu."
Rue mengangguk.
"Aku harus berusaha menang dengan jujur!" Tekad Rue.

Usai makan siang, para gadis berbaris dengan kostum masing-masing.
Para penilai dari pihak sponsor duduk di depan panggung.
Rue mengintip para juri dari balik panggung dengan gugup.
Wajah para juri kebapakan dan keibuan.
Sama seperti wajah kedua orangtuanya.
Apa yang mereka harapkan dari parade maskot produk mereka? Pikir Rue.
Rue teringat jika produk sponsor ini pernah merajai pemutaran paling sering iklan di tv.
Saking seringnya melihat iklan sponsor di tv, Rue sering merengek pada ibunya untuk membeli paket anak kecil yang memiliki berbagai variasi bonus hadiah di dalamnya.
Rue ingat kebahagiaan yang dialaminya ketika mendapati bonus hadiah di dalam paketnya adalah salah satu boneka putri Disney yang sangat cantik.
Rue memamerkan boneka putri itu pada ibunya dan memainkannya di rumah bonekanya yang besar.
Rue terbelalak.
Itu dia jawabannya!

Beberapa gadis dengan kostum ayam dan monster berlalu di depan Rue.
Patricia berseru di belakang panggung.
"Ayo giliran kalian sekarang!"
Rue yang berada di barisan terdepan, mengangguk gugup.
Makan siang dengan sandwich dan jus jeruk cukup mengganjal perutnya.
Kakinya harus kuat menopang kostum badut itu.
Patricia mengangguk.
Rue tersenyum dan melangkah mantap di panggung dengan gaya jenaka .
Rue melambaikan tangannya ke arah juri-juri dan beberapa kali melempar ciuman jauh.
Rue berjalan beberapa kali dengan perhitungan yang matang setelah latihan sebelum makan siang.
Di depan panggung utama, Rue mengangkat satu kakinya dan berpose dengan genit .
Rue bahkan duduk dan mulai berpose manis dan lucu.
Para juri tertawa spontan melihat tingkah Rue.
Rue menelungkup di panggung dan berlagak santai dengan wajah sendu seolah patah hati.
Setelah dilihatnya para juri tertawa puas, Rue kembali bangkit dan berjalan berlenggak-lenggok dengan genit.
Sebagai penampilan penutup, Rue memberikan pose terlucu dengan membentuk tangannya menjadi bentuk hati ala drakor.
Para juri mengangguk-angguk.
Rue masuk kembali ke belakang panggung dan seorang gadis dengan kostum Hijau berbulu , melewatinya.
Rue melepas kepala badutnya dengan lega.
Pada penampilannya yang hanya 15 menit tadi, Rue harus memberikan kesan baik sponsor pada kostum badut yang diperankannya.
Itulah usaha terbaik yang bisa dia lakukan.
"Atau mungkin usahaku terlalu lebay ya?" Pikir Rue gelisah.
Saat Rue terpekur karena penampilannya, Martha menghampirinya diam-diam.
"Great show, Rue!"
Rue terhenyak dan menatap wajah Martha yang jujur.
Martha tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.

25/03/2026

"GREAT SHOW, RUE."
Genre : teenlit, romansa
Penulis : Khanza Rinz

Rue menenggelamkan dirinya pada latihan berjalan.
Jika dia berdiam diri saja, ingatannya akan gadis cantik yang mencium Edward pasti akan membuatnya gila.
"Mengapa Edward tak menolak?"
"Mengapa Edward malah bangga?"
Mengapa, mengapa, mengapa.

Rue berlatih berjalan bak peragawati dengan cepat dan lincah tanpa memakai sepatu.
Dia mengelilingi lantai atas dan kamarnya dengan langkat berjinjit.
Inhatan tentang Edward kembali meracuni pikirannya. Hal ini membuat Rue semakin lincah berjalan sampai kakinya terantuk pintu saat berbelok ke kamarnya.
"Aaaarrrrrgghhh..." jerit Rue tak tertahan.
Rue berguling-guling di lantai seraya memegangi kakinya yang sakit dan berdenyut-denyut.

Ibunya yang mendengar Rue berteriak kesakitan, segera menghampirinya.
"Kamu kenapa, Rue?" Tanya ibunya panik.
Rue menahan sakit sampai wajahnya merah padam.
"Kakiku terantuk pintu, Mom."
Ibunya berjalan ke arah pintu, memeriksanya dengan teliti.
"Kasihan pintu. Ditabrak kaki gajah Runi.
Aku senang kau tak apa-apa, Pintu."
Ibunya lalu berjalan kembali ke lantai bawah.
Rue duduk dan menatap ibunya dengan tak percaya.
"Anda bercanda, Mom? Hebat," omel Rue.

Rue kemudian berbaring di lantai kamarnya.
Di akhir logika pemikirannya, dirinya merasa bersalah karena tidak bersikap seperti seorang pacar seharusnya pada Edward.
Edward pasti mengharapkan pacar yang menelponnya setiap saat, menggelayuti tangannya dengan bangga di depan murid lain dan, yang mau melakukan apapun yang diminta Edward sebagai kekasihnya. Seremeh apapun itu.
Rue sejenak mengamati lamunannya.
Dia bergidik.
Sosok pacar perempuan yang dibayangkannya diinginkan Edward itu seperti tipe gadis yang tidak memiliki cita-cita lain selain menjadi pasangan yang sempurna bagi lelaki tampan, tinggi, populer dan atletis seperti Edward.
Jika kaya raya ditambahkan pada Edward, maka sempurnalah sosok perempuan idaman Edward yang cantik, sexy, patuh, dan kartu kredit tanpa batas sebagai bayarannya.
Rue bergidik.
Dia terlalu pintar untuk menjadi seorang Gold Digger.
..

Hari Sabtu datang dengan cepat.
Seminggu ini Rue dan Yan berhasil menghindari Edward. Desas-desus jika Edward ciuman dengan gadis dari Interhigh, menyebar ke seantero sekolah bagaikan api yang disiram bensin dan dimainkan angin.
Edward digosipkan pacaran dengan gadis itu dan mengacuhkan Runi yang kurang up to date dan berani menunjukkan perasaannya.
Rue dan Yan kembali bersaing dalam nilai ulangan. Mereka berdua ingin menjadi dokter , ilmuwan atau guru TK. Hanya saja Rue memiliki hobi lari dan jurnalistik melebihi Yan yang lebih menyukai anak-anak.

Rue melakukan pemanasan sebelum pelatihnya datang.
Beberapa gadis terlihat sudah bersiap sedia dengan sepatu hak tinggi mereka.
Badan mereka langsing-langsing tinggi.
Rue merasa minder. Tinggi badannya tergolong rata-rata. Karena itulah Rue memilih lari sebagai olahraga favoritnya.
Terdengar bisikan-bisikan yang lebih keras.
Rue menoleh.
Para gadis-gadis melihat ke arah papan pengumuman dan melihat Martha menempelkan sehelai kertas di papan.
Mereka segera menghampiri papan pengumuman dan membaca pengumuman yang beru dipasang Martha.
"DIBUTUHKAN 3 ORANG PERAGAWATI UNTUK PERAGAAN BUSANA DI MALL SUNNYSIDE

Seleksi hari ini.

Rue terpekur menatap pengumuman itu.
Mall Sunnyside adalah Mall besar di kota mereka.
Mall itu memiliki lantai bawah yang dibuat dari marmer zaman dulu yang sangat klasik.
Biasanya para artis lokal ataupun internasional menggelar pertunjukkan mereka di area ini.
Mall Sunnyside memiliki 5 lantai dengan lorong yang lebar.
Lorong-lorong itu mampu menampung orang-orang sekitar 500 orang per lantai secara berbanjar. Jika mereka menonton ke arah lantai dasar, harus dipastikan para artis menggelar pertunjukan mereka secara jelas.

Rue tidak ingin bersaing.
Tapi Rue tidak ingin mengalah begitu saja.
Latihan itu bagai gladi kotor peragaan busana . Para peserta pelatihan berwajah serius dan datar.
Kaki mereka saja yang menapak dengan kuat di jalur runway.
Rue berusaha keras agar langkahnya kuat dan mantap. Keringatnya sampai membanjiri dahi dan punggungnya.

Archie, wakil pelatih, berdiri dan bertepuk tangan.
"Sesi latihan berakhir.
Sesi berikutnya adalah sesi perekrutan.
Setiap peserta wajib memakai pakaian sponsor.
Dan pakaian sponsor itu adalah ini!!" Seru Archie menunjukkan kostum badut yang menjadi ciri khas sponsor mereka.
Bukan hanya kostum badut, tapi juga kostum ayam betina dan beberapa monster yang selalu tersedia dalam Happy Meal kids mereka.
Archie menyuruh peserta latihan berbaris dan memberikan kostum sponsor pada mereka sebagai bagian dari seleksi.
Beberapa gadis tercekat dan mengeluh.
Mereka tak menyangka seleksi menjadi peragawati itu sekonyol itu.
Mereka mencemooh kostum-kostum konyol sponsor dan memilih untuk tidak mengikuti seleksi.
"Wajah cantikku tidak cocok dengan kostum konyol itu," seru mereka pongah.
Rue justru menganggap seleksi kostum itu sebagai sesuatu yang

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Bandung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Jalan Citepus 1 No. 8a
Bandung