21/06/2026
Sekilas Sejarah Uwa Nampon.
Di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), berdiri perguruan pencak silat Nampon yang memiliki keunikan dan berbeda dari seni bela diri lain. Perguruan pencak silat ini didirikan oleh Abah Nampon pada 1932 dan masih eksis hingga saat ini.
Abah Nampon lahir di Ciamis tahun 1888 dan meninggal di Ngamprah pada tahun 1962. Sekitar tahun 1900 usai berkeliling ke berbagai perguruan, dia memutuskan untuk belajar ilmu beladiri pencak silat kepada RH Ibrahim, yakni pendiri aliran pencak Cikalongan Cianjur.
Abah Nampon kemudian menjadi guru di perguruan pencak silat Cikalong dan berhasil menghasilkan aliran silat yang didukung oleh 10 jurus gabungan dari seluruh pelajaran dan pengalamannya. Pada 1932, Abah Nampon membuka padepokan pencak silat di daerah Caringin, Kecamatan Ngamprah, KBB, di sekitar Situ Bolang.
Penerus sekaligus cucu Abah Nampon, Abah Ade Suparma mengatakan, tahun 1970 silat buhun mulai berkembang, termasuk pencak silat Nampon. Perguruan silat Nampon kini terus berkembang, khususnya di KBB, bahkan di wilayah Padalarang sudah ada 14 perguruan.
"Silat Nampon terus berkembang dan dimodifikasi agar bisa diakui dan masuk dalam pasanggiri. Bahkan (murid) dari luar Jabar pun sudah banyak, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur," kata Abah Ade Suparma.
Menurut Abah Ade Suparma, salah satu ciri khas dari perguruan silat Nampon terletak pada simbol atau logo perguruan yang berupa telapak tangan menghadap ke depan. Istilahnya disebut dengan jeblag. Sementara salah satu jurus nampon lebih memfokuskan pada pengolahan pernapasan atau tenaga dalam.
Pelatih Perguruan Nampon Abah Ali Setia mengatakan, aliran perguruan silat Nampon merupakan seni beladiri beraliran pernapasan yang dilanjutkan dengan teknik setruman untuk menyerang. Keunikan dari perguruan silat Nampon ini, yakni tidak ada penggunaan senjata atau seni beladiri tangan kosong.
Dikatakannya, para pesilat harus bisa fokus dan berkonsentrasi agar bisa menghasilkan tenaga dalam untuk menjatuhkan musuh tanpa menyentuh. Adapun jurus dasar di perguruan Nampon ini dinamai jurus lima, di mana kelima gerakan ini menjadi penentu untuk memasuki pembelajaran tenaga dalam.
Tanpa menguasai jurus lima, para anggota tidak bisa berlanjut ke tahap selanjutnya untuk mempelajari tenaga dalam," kata Abah Ali Setia.
12/06/2026
Tinju Sambuik Sapuluah Tuanku Imam Bonjol.
Dalam sejarahnya, Tuanku Imam Bonjol melatih 5.000 pemuda Bonjol menjadi pesilat tangguh. 400 orang di antaranya malah merupakan pengawal pribadi.
Tak heran, Tuanku Imam punya aliran silat sendiri. Namanya, Tinju Sambuik Sapuluah.
“Ini merupakan silat turun temurun dari Doman Rajo Mau. Ia mendapatkan ilmu silat ini dari pengikut setia Tuanku Imam Bonjol yang ditangkap Belanda dan di penjara,” ujar Pelatih dari Silat Tinju Sambuik Sapuluah, Hendri Jasril Kari Jolelo.
Silat ini menggunakan langkah tiga. Dengan filosofi “suruik salangkah ba arti manang, maju salangkah ba arti kalah” (mundur selangkah berarti menang, maju selangkah berarti kalah). Saat ini, ia mengajarkan di hampir seluruh daerah Bonjol, Pasaman.
Dari data dan wawancara yang dihimpun ranahberita.com, tidak diketahui kapan dan di mana Tuanku Imam mempejari silat. Tapi, tak diragukan, ia banyak memiliki pengawal dan pengikut setia setelah menjadi pemimpin Bonjol.
Tuanku bukan orang pelit. Ia menurunkan jurusnya pada siapa saja yang mau belajar. Di antara yang jadi muridnya adalah dua dari pimpinan Barampek Selo Bonjol. Tuanku Gapuak berasal dari Bonjol dan Tuanku Keluat yang berasal dari Agam yang merupakan kemenakan dari Tuanku Nan Receh. Ada juga panglima pas**an seperti Tuanku Limau Manih dari Palupuah dan Bagindo Tan Labiah (Tan Lobe).
Malang nasib Bagindo Tan Labiah. Ia tertangkap Belanda. Beliau dipenjarakan di Padang. Semasa di penjara, ia bertemu tahanan bernama Ajo Paman berasal dari Pariaman.
Singkat cerita, Ajo diangkat sebagai murid. Setelah sekian lama dipenjara, Tan Lobe dipindahkan ke Manado pada 1840. Di Manado, Bagindo mengembangkan ilmu silatnya dan mengajarkan pada napi dan masyarakat yang ada. Di Manado, Silek Tinju Sambuik Sapuluah terkenal dengan nama silek cakak atau silek baginda. Pada 1888, beliau meninggal dunia di sana.
Di Minangkabau, sebelum dibebaskan Belanda, Ajo mengangkat Upeh (Opas, sebutan untuk penjaga penjara masa Belanda yang berasal dari pribumi) Doman Rajo Mau sebagai murid. Dari sinilah ilmu silat itu kembali ke Pasaman.
Doman merupakan pribumi asli Nagari Ganggo Hilia dalam daerah Kampuang Dalam, Pasaman. Setelah dibebastugaskan sebagai Upeh, Doman menurunkan Jurus Tinju… pada anak kandungnya, Abdul Aziz Sutan Sinaro dan kemenakannya Manan Rajo Mau.
Muridnya yang lain, Sutan Saidi Rasiak berasal dari Padang Laweh, Nawi dari Padang Baru Ganggo Hilia serta Buduik Sarumpun berasal Kampuang Baru Ganggo Mudiak.
Murid Doman, lalu menyebar ke berbagai daerah. Sutan Saidi pernah pergi ke Kedah, negara bagian Malaysia. Di sana ia mengikuti pertandingan silat melawan Raja Cina dan menang
Sutan menurunkan ilmu silat ke beberapa orang murid. Setelah merasa muridnya menguasai segala gerak, Sutan kembali ke Bonjol.
Sedangkan Rasiak mengembangkan ilmunya di Kampung Baru Ganggo Mudiak. Buduik Sarumpun ke Kampung Koto Ganggo Hilia. Sedangkan Manan, pergi merantau dan mengembangkan ilmu silatnya di Kampung Pisang, Medan.
Muridnya yang lain, Sutan Sinaro menurunkan ilmu itu pada anaknya yang bernama Muhammad Sahen Kari Jolelo dan Abdul Murat Kari Mudo.
Kari Jolelo menyebarkan di Padang Bubuih sampai ke Tanjung Bungo. Sementara Kari Mudo dan Amri Sutan Pamenan sampai saat ini masih mengembangkan silek di Ganggo Hilia dan Ganggo Mudiak.
Kari Jolelo pulang ke kampung halaman dan membuka sasaran. Sekarang, anaknya, Hendri yang meneruskan.
Aliran ini masuk dalam Perguruan Pencak Silat Tradisional Torpedo Bonjol, yang beralamat di Pasar Equator, Jorong Kampung Alai, Ganggo Mudiak Kecamatan Bonjol, Pasaman.
https://www.facebook.com/esi23123
09/06/2026
SEKILAS PANDANG BANDARKARIMA
Bpk. H.M. Yosis Siswoyo dilahirkan di Bandung, 25 Nopember 1943. Lahir dan tumbuh di tengah-tengah kancah perang kemerdekaan dan revolusi, menjadikan beliau seorang pemuda yang pemberani dan pantang menyerah.
Ayahanda Pak Yosis yang arif, Pak Anwar, kemudian menyalurkan kesenangan berkelahi dan energi anaknya yang meluap-luap dengan mengirim Pak Yosis kepada beberapa guru silat ternama. Pak Anwar adalah seorang perwira polisi dan juga dewan pendekar Gagak Lumayung pada saat itu. Sejak itulah Pak Yosis menimba ilmu silat dari satu guru ke guru lainnya. Dari belasan tokoh2 silat yang telah menurunkan ilmunya, terdapat dua tokoh silat yang sangat besar pengaruhnya dalam membentuk ilmu silat Pak Yosis, yaitu Den Popo dan Den Karta Ateng.
Awalnya Pak Yosis digembleng oleh murid2 Den Popo, yaitu Pak Casmedi dan Pak Yayat. Barulah setelah dirasa cukup, Pak Yosis kemudian diajar langsung oleh Den Popo. Den Popo adalah anak seorang tokoh silat yang bernama Gan Utuk. Berdasarkan silsilahnya, Gan Utuk merupakan murid dari Rd. Obing Ibrahim. Jadi dari garis Den Popo mengalirlah ilmu silat Sabandar dan Cikalong kepada Pak Yosis.
Kemudian Pak Yosis melengkapi ilmu silatnya dengan berbagai ilmu olah bathin dan olah kanuragan dari Den Karta Ateng, Uwa Nampon dan Abah Andadinata. Karakter ilmunya yang keras sempat mempengaruhi satu episode kehidupan Pak Yosis pada masa mudanya.
Setelah itu Pak Yosis terus memperkaya dan mematangkan ilmu silatnya, sehingga pada akhirnya berhasil merangkum dan merumuskan kembali karakter ilmu silat yang efektif dan efisien.
Pada era tahun 60-an beladiri asing berkembang dengan pesat di Indonesia. Prihatin dengan kondisi tersebut, Pak Yosis terdorong untuk mengangkat pamor Pencak Silat sebagai budaya asli Indonesia yang bernilai tinggi dan harus dikembangkan. Maka pada bulan Juni 1967 dibentuklah unit latihan Bandarkarima di SMAN 3 Bandung dengan anggota pertama sebanyak 60 orang. Sejak itulah secara resmi lahir Perguruan Seni Pencak Bandarkarima, dan tanggal 6 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Bandarkarima.
Pendekar Bandarkarima digembleng untuk menjadi petarung ulung di bidangnya masing-masing. Tidak heran mereka umumnya menjadi pribadi-pribadi yang unggul di lingkungannya. Para pendekar senior angkatan-angkatan awal mampu mencapai posisi-posisi puncak dalam karir mereka, baik di militer, perusahaan, maupun pemerintahan. Namun sayang pertarungan dalam karir telah menyita seluruh waktu mereka, sehingga perhatian terhadap kelangsungan dan perkembangan perguruan menjadi terlupakan. Setelah mengalami masa puncaknya di tahun 80 an, kegiatan perguruan nyaris vakum di tahun 90 an. Untuk mengisi kekosongan, Pak Yosis mendirikan Sasana Tinju Anak Bandung yang kemudian melahirkan pendekar tinju kebanggaan Indonesia, Muhammad Alfaridzi dan Arief Almahdi.
Memasuki milenium baru ini, beberapa orang pendekar senior terpanggil untuk kembali merintis pengembangan Bandarkarima, sebagai wujud kepedulian mereka terhadap pendidikan anak bangsa. Melalui penggemblengan fisik dan mental di lingkungan keluarga besar Bandarkarima, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi unggul seperti tertuang dalam Sifat Pendekar Bandarkarima:
Pendekar itu:
Kuat lahir dan bathin
Pemberani dan ksatria
Bijaksana dan sopan santun
Berbudi luhur dan kasih sayang
Penuh cinta dan berbakti pada Tuhan,
Bangsa dan tanah air, dan peri kemanusiaan
Salam Pendekar!