Ensiklopedia Silat Indonesia

Ensiklopedia Silat Indonesia

Share

Pusat dokumentasi digital pencak silat tradisi Indonesia.

21/06/2026

Sekilas Sejarah Uwa Nampon.

Di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), berdiri perguruan pencak silat Nampon yang memiliki keunikan dan berbeda dari seni bela diri lain. Perguruan pencak silat ini didirikan oleh Abah Nampon pada 1932 dan masih eksis hingga saat ini.

Abah Nampon lahir di Ciamis tahun 1888 dan meninggal di Ngamprah pada tahun 1962. Sekitar tahun 1900 usai berkeliling ke berbagai perguruan, dia memutuskan untuk belajar ilmu beladiri pencak silat kepada RH Ibrahim, yakni pendiri aliran pencak Cikalongan Cianjur.

Abah Nampon kemudian menjadi guru di perguruan pencak silat Cikalong dan berhasil menghasilkan aliran silat yang didukung oleh 10 jurus gabungan dari seluruh pelajaran dan pengalamannya. Pada 1932, Abah Nampon membuka padepokan pencak silat di daerah Caringin, Kecamatan Ngamprah, KBB, di sekitar Situ Bolang.

Penerus sekaligus cucu Abah Nampon, Abah Ade Suparma mengatakan, tahun 1970 silat buhun mulai berkembang, termasuk pencak silat Nampon. Perguruan silat Nampon kini terus berkembang, khususnya di KBB, bahkan di wilayah Padalarang sudah ada 14 perguruan.

"Silat Nampon terus berkembang dan dimodifikasi agar bisa diakui dan masuk dalam pasanggiri. Bahkan (murid) dari luar Jabar pun sudah banyak, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur," kata Abah Ade Suparma.

Menurut Abah Ade Suparma, salah satu ciri khas dari perguruan silat Nampon terletak pada simbol atau logo perguruan yang berupa telapak tangan menghadap ke depan. Istilahnya disebut dengan jeblag. Sementara salah satu jurus nampon lebih memfokuskan pada pengolahan pernapasan atau tenaga dalam.

Pelatih Perguruan Nampon Abah Ali Setia mengatakan, aliran perguruan silat Nampon merupakan seni beladiri beraliran pernapasan yang dilanjutkan dengan teknik setruman untuk menyerang. Keunikan dari perguruan silat Nampon ini, yakni tidak ada penggunaan senjata atau seni beladiri tangan kosong.

Dikatakannya, para pesilat harus bisa fokus dan berkonsentrasi agar bisa menghasilkan tenaga dalam untuk menjatuhkan musuh tanpa menyentuh. Adapun jurus dasar di perguruan Nampon ini dinamai jurus lima, di mana kelima gerakan ini menjadi penentu untuk memasuki pembelajaran tenaga dalam.

Tanpa menguasai jurus lima, para anggota tidak bisa berlanjut ke tahap selanjutnya untuk mempelajari tenaga dalam," kata Abah Ali Setia.

20/06/2026

Sejarah Gerak Gulung Budi Daya.

Sejarah GGBD berawal dari seorang tokoh bernama Eyang Guru H. Abdullah. Sebelumnya, ayah Eyang Guru, yakni Eyang Sarean, sudah dulu menciptakan sebuah aliran penca yang disebut Gulung Maung yang berprinsip “kembangna cilaka, buahna pati “. Oleh Eyang Guru, nama Gulung Maung lantas diubah menjadi Gerak Gulung Budi Daya Ti Padjajaran.

Dalam sebuah istikhoroh, Eyang Guru mendapat gambaran berupa sesosok bayi yang baru lahir, merangkak, melangkah dan berjalan. Berdasarkan gambaran tersebut Eyang Guru mengambil gerakan untuk jurus berdasarkan tangtungan solat (berdiri). Inilah awal dari jurus Salancar yang merupakan jurus inti dari aliran ini.

GGBD masih mempunyai dasar yang sama dengan Gulung Maung, akan tetapi telah dibudidayakan. Artinya, permainan ini tidak lagi sebuas Gulung Maung yang pada dasarnya seperti harimau, harus membunuh mangsanya.

Di dalam GGBD, seseorang yang telah menguasai ilmu ini diharapkan tidak akan menjadi buas seperti harimau, di samping itu aspek kemanusiaannya lebih ditonjolkan karena pada prinsipnya manusia lebih unggul dibandingkan harimau.

GGBD sebenarnya memunyai dua jenis permainan, yaitu Gerak Leang dan Gerak Sambut Pukul. Permainan ini oleh H. Ace Aom diturunkan kepada tiga puteranya. Putra pertama, H. Ahmad Kusumaningrat (1900-1985), menguasai semua jenis permainan GGBD yaitu Gerak Leang dan Gerak Sambut Pukul. Putra kedua, Muhammad Yusuf/Aki Cucu, mengusai permainan Gerak Sambut Pukul. Putra ketiga, Abdushomad/Aki Shomad, menguasai permainan Gerak Leang.

Pada awalnya, GGBD tidak lepas dari syiar Islam. Seiring dengan perkembangan zaman, permainan ini kini lebih difokuskan kepada pembinaan ahlak/moral dengan pendekatan silahturahmi yang intinya adalah persaudaraan.

Pada beladiri Gerak Gulung Budi Daya ti Padjadjaran tidak ada istilah guru murid, yang ada adalah kakak adik. Beladiri ini sejak dulu hingga saat ini bersifat kekeluargaan dengan sebutan warga untuk setiap anggotanya. Beladiri Gerak Gulung Budi Daya ti Padjadjaran diajarkan dari rakawira kepada adik-adiknya bukan dalam bentuk perguruan atau sebuah organisasi, melainkan masih menggunakan cara tradisional di mana seorang calon murid harus datang kepada rakawira untuk belajar. Untuk itu, hanya seorang rakawira atau yang telah diberi mandat mengajar untuk mewakili rakawira yang berhak mengajarkan ilmu silat ini.

Sesudah masa Eyang Guru, permainan ini diwariskan kepada H. Ace Aom Kusumaningrat (1840–1943), yang tak lain keponakan sekaligus menantu Eyang Guru, yang bertempat tinggal di Bojong Neros. H. Ace Aom Kusumaningrat adalah putra Uyut Syafei, adik dari Eyang Guru. Permainan GGBD pada masa ini mulai sedikit terbuka untuk kalangan kerabat.

Istri H. Ace Aom yang bernama Tresmen Megantara menguasai Jurus Budi Daya yang dikhususkan untuk perempuan, walau pada intinya tidak ada bedanya dengan Gerak Gulung, namun disesuaikan dengan kodrat perempuan di mana gerakan dan tenaga lebih halus.

Pada masa H. Ahmad Kusumaningrat GGBD mulai disebarkan kepada kalangan orang-orang terdekat. Permainan GGBD mulai disebarkan di kalangan umum semasa Horis Kusumaningrat (1930-1999), putra pertama H. Ahmad Kusumaningrat. Pada masa itu, banyak pendekar dan praktisi beladiri dari dalam dan luar negeri datang berguru kepadanya.

Berdasarkan kebijakan Horis Kusumaningrat sebagai pewaris GGBD, diangkatlah beberapa orang rakawira. Beberapa di antaranya adalah Tb. Isnaeni bin Isro (Kang Iyus), Heri Bahtra (Mas Heri), M. Ridwan (Kang Awang), dan Firman Hamdani (Kang Dani).

Alfatihah untuk kang Awang 🙏

17/06/2026

Sekilas Sejarah P3S Gagak Lumayung.

Seni budaya bela diri pencak silat Gagak Lumayung adalah Organisasi yang dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1955, lahir bersamaan dengan konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, merupakan salah satu organisasi perhimpunan persatuan penggemar pencak silat yang disingkat P3S. Persatuan Penggemar Pencak Silat Gagak Lumayung dibentuk untuk mempersatukan para pesilat di Daerah Jawa Barat dengan berbagai macam aliran silat diantara aliran Cimande, aliran Madi, aliran Sera, Aliran Syahbandar, aliaran Cikalong Dalam hal ini Gagak Lumayung harus tetap membangun sebuah falsafah yang sudah ada sejak dulu, bersama warga, bersama umat yaitu silih asah, silih asih, silih asuh.

Dalam melestarikan seni budaya pencak silat khususnya di masyarakat Jawa Barat umumnya untuk masyarakat luas agar bisa berkontribusi dalam mengembangkan seni bela diri pencak silat peninggalan warisan leluhur.

Seni bela diri pencak silat Gagak Lumayung merupakan salah satu khasanah Budaya Bangsa Indonesia secara kualitas tidak kalah dengan budaya luar yang mempengaruhi di abad era globalisasi ini. Dikarenakan seni budaya bela diri pencak silat merupakan salah satu aset peninggalan dari warisan leluhur kita yang harus di pertahankan dikembangkan dan dilestarikan keberadaannya jangan sampai punah.

Di era globalisasi saat ini begitu mudahnya budaya-budaya asing masuk baik melalui mediacetak maupun elektronik dan dengan begitu mudahnya mempengaruhi perilaku para remaja kita, sehingga tidak sesuai lagi dengan perilaku budaya timur.

Maka kami ingin berperan aktif untuk mengembangkan seni bela diripencak silat yang merupakan aset seni olah raga tradisional yang kita miliki bahkan di akui oleh pihak luar, oleh karena itu perlu kita tanamkan kepada para generasi muda untuk ikut melestarikan kebudayaan warisan dari leluhur. dan mencintai seni budaya sendiri serta memasyarakatkan olah raga dan mengolah ragakan masyarakat terutama olah raga pencak silat.

Kang Cecep Chandra.

14/06/2026

Sekilas Sejarah PPS Mutiara Rasa.

Cing Agus, Guru Besar PPS Mutiara Rasa bercerita mengenai perjalanan beliau belajar jurus-jurus silat yang beliau kuasai. Tipe pemuda yang s**a jalan keluyuran silahturahmi ke para alim ulama dan tokoh-tokoh silat dari Jakarta, Bogor, Cianjur, Banten, hingga Cirebon menghiasi cerita masa muda beliau.

Aliran Silat yang beliau di pelajari : Dari tahun 1978 sd th 1995 beliau belajar ke Aba Thoyib aliran Ki Atu daerah Cipinang.
Silat Ki Atu 7 Jurus dari Aba Thoyib:
1. Ki Atu Seliwa.
2. Jurus dua
3. Jurus Tiga
4. Jurus Empat
5. Bandul
6. Selekat Serang
7. Lapis
8. Sembilan Deprok.

Ki Atu menurut cerita beliau adalah nama poyokan seorang tokoh di kampung cawang yang menurut cerita beliau berasal dari Bugis, "Beliau Ki Atu itu pendatang yang cuman atu-atunye (satu-satunya) jaman dulu disini, Karena tidak memiliki keluarga disini maka orang kampung setempat manggilnya Ki ,panggilan orang tua yang dihormatin dan ATU maksudnya cuman atu2nye die sorangan?? Ki Atu kemungkinan udah memiliki silat dari daerah asalnya tuh namanya jurus tersebut adalah jurus Alif , Seliwa yang orang Kampung Asem nyebutnye Klebengan".

Dalam perjalanan mencari keilmuan cing Agus yang merasa tidak mendapat kesempurnaan ilmu dari Gurunya. Beliau penasaran merasa ada keanehan dengan penamaan jurus alif ( hijaiyah) akhirnya beliau mengembara ke pelosok-pelosok, mencari apa itu ilmu alif. Akhirnya cing Agus muda pun keluyuran silahturahmi ke para alim ulama dan tokoh-tokoh silat dari Jakarta, Bogor, Cianjur, Banten, hingga ke cirebon mencari makna ilmu alif.

"Kalau kata ulama rata-rata yang ane temuin, mereka bilang ilmu Alif adalah ilmu yang tinggi , ilmu hati yang sifatnya vertikal ke Alloh langsung, gunain perasaan hati yang dikasih sama Tuhan dalam setiap langkah kita, kalau perwujudannya adalah Akhlaq".

Cing Agus pun makin bingung sama penjelasan beberapa ulama mengenai pencarian silat dari ilmu alif harus pakai hati.
Dan dari berbagi ilmu pengetahuan dengan beberapa tokoh silat dia dapat selama keluyuran mencari keilmuan yang ada hubungannya sama jurus alif, beliau dapat bekel (hadiah oleh-oleh) dari dampak keluyuran silahturahmi.

Tapi yang masuk di hati beliau salah satunya seorang kakek-kakek (yang kemudian hari dikenal dgn nama apak Keneng) yang ditemui di daerah Cibinong, Bogor memberikan hanya sebuah pemahaman pikiran mengenai ilmu Rasa pakai hati dari Tangtungan Alif. Akhirnya beliau mulai mengkombinasikan keilmuan gerak yang beliau miliki dengan sekedar pemahaman yang beliau dapat.

"Kalau kate orang terciptalah gado-gado, nah gerak ini ane namain Gerak Rase Mutiara, karena diciptain sendiri ", tegasnya. Kemudian Cing Agus mendirikan Sanggar Silat Mutiara Rasa.

"Jadi maen Silat saja harus pakai hati perasaan sebagai Mutiara yang diberikan Tuhan".
"Ane selalu hormat dan masih silahturahmi ke abang-abang seperguruan minta petunjuk, hormatin orang tua dan orang lain, atau silat-silat lain, sama tamu hatte (walau) anak kecil kita hormatin, yang lebih penting hormat kepada alim ulama. Itu kuncinye mau dalamin mustika di hati"
"Kalau pulang kita renungin ucapan nasehat wejangan orang, ambil baiknye dan buang jeleknye", ucap Cing Agus menutup ceritanya.

14/06/2026

Terima kasih kepada para pelestari pencak silat tradisi Indonesia, yg telah mencurahkan segenap tenaga, pikiran, waktu, bahkan isi dompetnya untuk budaya adiluhung bangsa, sepanjang hayat dikandung badan.

Ada yg kenal dengan para pendekar ini?

13/06/2026

Babe Nunung Guru Besar Gerak Rasa Sanalika (1948 - 2018).

Babe Nunung adalah putra betawi asli rawa belong, lahir th 1948 dengan nama Nur Ali Akbar. Setelah tamat SPG th 1969, beliau menjadi guru SD, dan itu dilakoni beliau sampai pensiun.
Beliau dikenal sebagai salah satu pendekar dan guru Besar silat Betawi. dengan aliran silat sbb.
1. Cingkrik: beliau salah satu pewaris silat cingkrik. dan salah satu tokoh yg hafal silsilah silat cingkrik.
2. Gerak Saka: beliau juga salah satu penerus silat Gerak Saka. belajar langsung dari bang Pi'i dan sempat belajar juga dari guru bang Pi'i raden Widarma. dan disarankan oleh bang Pi'i langsung untuk membuat perguruan silat Gerak Rasa Sanalika
3. Gerak Rasa Kari Madi aliran cikalong (jurus sepuluh): belajar dari, bang Usman bin Entong, bang marga, bang Sain, Bpk Wijaya, bang Mahmud yang semuanya adlah murid bang Entong, bang Entong berguru kepadaPak Luwi (keturunan Belanda) murid Gan Didi. dalam gerak rasa sanalika bang Nunung juga memadukan Gerak Saka dengan Gerak rasa sanalika, denga fondasi utama tetap pada gerak Saka.
4. Silat Sinding dari kalimantan bang Nunung belajar dari bapak Nurdin murid kong Niming, dan Abdul rahman anak kong Niming.
5. Gerak Per: gerak per adalah silat aliran seperti gerak saka dan rasa dari tasik, Bang Nunung belajar gerak Per dari bpk Rais Barais.
6. Beksi betawi: bang Nunung belajar beksi dari bang Kibok.
7. Silat Sabeni: adalah silat betawi yg terkenal dengan jurus kelabang nyebrang beliau belajar bang juned.
8. Kungfu : sempat belajar kungfu dari ko Ahim di palmerah.
Babe Nunung adalah orang yg hobby mempelajari keunikan aliran2 bela diri.
Bermula ketika ayahanda Babe Nunung, H.Asnawi sering cerita soal silat Cingkrik, yang sering latihan dirumahnya dirumah kakek babe Nunung yg juga tokoh Cingkrik rawa belong. Sekitar tahun 60 bang Nunung belajar Cingkrik dari ki Legod murid ki Ali, (Ki Ali adalah guru dr kong Sinan dan kong goning) . Tdk puas belajar cingkrik dengan hanya dari satu guru, Babe Nunung belajar lg dengan ki Ayat, ki Uming, ki Ajid, bang Entong dan bang Hamdan pendekar2 cingkrik ternama dimasanya. Beliau belajar jg cingkrik dr aliran ki wahab murid ki sarie.
Babe Nunung sempat bercerita ttg sejarah silat cingkrik. Silat ini tidak sengaja di temukan oleh seorang petani yg bernama Ki Maing (1817an). Waktu itu ia tidak sengaja memperhatikan gerakan monyet yg dipelihara oleh tetangganya yg bernama Nyi Nasare. Ia sangat tertarik dag gerakan monyet yang dpt mengindar ketika dipukul dg tongkat kayu. Bahkan monyet itu bisa merebut tongkat yg di pegang Ki Maing. Dari gerakan monyet itulah ia menciptakan jurus yang sangat sederhana.
Kemudian ia mempunyai 3 murid yaitu Ki Ali, Ki Ajit dan Ki Sarie. Para murid ini melihat jurus yg diajarkan Ki Maing begitu sederhana, sehingga kemudian mereka menambah gerakan untuk memperkaya jurus tersebut. Ki ali mempunyai murid bernama Ki Sinan dan Ki Goning. Ki Ajit mempunyai murid bernama Ki ayat dan Uming. Ki Syarie mempunyai murid bernama Ki wahab.

Babe Nunung mengajar silat cingkrik dari umur 14 tahun selama hampir 30an tahun. lalu dilanjutkan dengan membuka perguruan GERAK RASA SANALIKA. dulu hampir tiap hari orang dari berbagai aliran beladiri datang menjajal beliau dirumahnya. dan bang Nunung menunjukan bahwa beladiri silat asli bs dibanggain. alhamdulillah belom pernah kalah.
Alfatihah untuk H. Nur Ali Akbar bin H. Asnawi 🙏

https://www.facebook.com/esi23123

12/06/2026

Tinju Sambuik Sapuluah Tuanku Imam Bonjol.

Dalam sejarahnya, Tuanku Imam Bonjol melatih 5.000 pemuda Bonjol menjadi pesilat tangguh. 400 orang di antaranya malah merupakan pengawal pribadi.

Tak heran, Tuanku Imam punya aliran silat sendiri. Namanya, Tinju Sambuik Sapuluah.

“Ini merupakan silat turun temurun dari Doman Rajo Mau. Ia mendapatkan ilmu silat ini dari pengikut setia Tuanku Imam Bonjol yang ditangkap Belanda dan di penjara,” ujar Pelatih dari Silat Tinju Sambuik Sapuluah, Hendri Jasril Kari Jolelo.

Silat ini menggunakan langkah tiga. Dengan filosofi “suruik salangkah ba arti manang, maju salangkah ba arti kalah” (mundur selangkah berarti menang, maju selangkah berarti kalah). Saat ini, ia mengajarkan di hampir seluruh daerah Bonjol, Pasaman.

Dari data dan wawancara yang dihimpun ranahberita.com, tidak diketahui kapan dan di mana Tuanku Imam mempejari silat. Tapi, tak diragukan, ia banyak memiliki pengawal dan pengikut setia setelah menjadi pemimpin Bonjol.

Tuanku bukan orang pelit. Ia menurunkan jurusnya pada siapa saja yang mau belajar. Di antara yang jadi muridnya adalah dua dari pimpinan Barampek Selo Bonjol. Tuanku Gapuak berasal dari Bonjol dan Tuanku Keluat yang berasal dari Agam yang merupakan kemenakan dari Tuanku Nan Receh. Ada juga panglima pas**an seperti Tuanku Limau Manih dari Palupuah dan Bagindo Tan Labiah (Tan Lobe).

Malang nasib Bagindo Tan Labiah. Ia tertangkap Belanda. Beliau dipenjarakan di Padang. Semasa di penjara, ia bertemu tahanan bernama Ajo Paman berasal dari Pariaman.

Singkat cerita, Ajo diangkat sebagai murid. Setelah sekian lama dipenjara, Tan Lobe dipindahkan ke Manado pada 1840. Di Manado, Bagindo mengembangkan ilmu silatnya dan mengajarkan pada napi dan masyarakat yang ada. Di Manado, Silek Tinju Sambuik Sapuluah terkenal dengan nama silek cakak atau silek baginda. Pada 1888, beliau meninggal dunia di sana.

Di Minangkabau, sebelum dibebaskan Belanda, Ajo mengangkat Upeh (Opas, sebutan untuk penjaga penjara masa Belanda yang berasal dari pribumi) Doman Rajo Mau sebagai murid. Dari sinilah ilmu silat itu kembali ke Pasaman.

Doman merupakan pribumi asli Nagari Ganggo Hilia dalam daerah Kampuang Dalam, Pasaman. Setelah dibebastugaskan sebagai Upeh, Doman menurunkan Jurus Tinju… pada anak kandungnya, Abdul Aziz Sutan Sinaro dan kemenakannya Manan Rajo Mau.

Muridnya yang lain, Sutan Saidi Rasiak berasal dari Padang Laweh, Nawi dari Padang Baru Ganggo Hilia serta Buduik Sarumpun berasal Kampuang Baru Ganggo Mudiak.

Murid Doman, lalu menyebar ke berbagai daerah. Sutan Saidi pernah pergi ke Kedah, negara bagian Malaysia. Di sana ia mengikuti pertandingan silat melawan Raja Cina dan menang

Sutan menurunkan ilmu silat ke beberapa orang murid. Setelah merasa muridnya menguasai segala gerak, Sutan kembali ke Bonjol.

Sedangkan Rasiak mengembangkan ilmunya di Kampung Baru Ganggo Mudiak. Buduik Sarumpun ke Kampung Koto Ganggo Hilia. Sedangkan Manan, pergi merantau dan mengembangkan ilmu silatnya di Kampung Pisang, Medan.

Muridnya yang lain, Sutan Sinaro menurunkan ilmu itu pada anaknya yang bernama Muhammad Sahen Kari Jolelo dan Abdul Murat Kari Mudo.

Kari Jolelo menyebarkan di Padang Bubuih sampai ke Tanjung Bungo. Sementara Kari Mudo dan Amri Sutan Pamenan sampai saat ini masih mengembangkan silek di Ganggo Hilia dan Ganggo Mudiak.

Kari Jolelo pulang ke kampung halaman dan membuka sasaran. Sekarang, anaknya, Hendri yang meneruskan.

Aliran ini masuk dalam Perguruan Pencak Silat Tradisional Torpedo Bonjol, yang beralamat di Pasar Equator, Jorong Kampung Alai, Ganggo Mudiak Kecamatan Bonjol, Pasaman.

https://www.facebook.com/esi23123

12/06/2026

Sekilas Sejarah PABUCI

PABUCI adalah singkatan dari Pancer Bumi Cikalong atau Pasar Baru Cianjur yang merupakan tempat tinggal Gan Uweh, dimana para inohong Pancerbumi belajar meniti ilmu tentang Maenpo Cikalongan.

Awal berdirinya PABUCI seiring dengan adanya dorongan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur yang mempunyai Tiga Motto Pilar Budayanya yaitu Ngaos – Mamaos – Maenpo.

Sesepuh PABUCI mendapatkan ilmu aliran pencak silat Cikalong langsung dari R.H.O Soleh (Gan Uweh). Menjelang wafatnya, Gan Uweh memberi amanat kepada H. Ceng Suryana untuk melestarikan Maenpo Cikalong Pasar Baru.

Dibobotohan oleh kasepuhan, H. Ceng Suryana, H. Azis Asy’arie, Letkol Harun, dibantu oleh kang Ujang Saepudin membuat sebuah kelompok kecil yang kegiatannya hanya berkumpul dan latihan saja. Tidak terasa, perkembangannya cukup pesat dari waktu ke waktu ditambah lagi mendapat sambutan dari organisasi silat Jawa Barat, yaitu PPSI cabang Cianjur, terlahirlah kader-kader muda PABUCI yang dapat membantu dalam bidang pelatihan.

Kemudian PABUCI mengembangkan sayap ke Jakarta, difasilitasi oleh FP2STI membuka pelatihan maenpo Cikalong di Padepokan Pencak Silat TMII dan gedung Hydro di Cawang.

Cerita Gan Uweh sendiri sudah banyak yang tahu, yaitu sebagai murid dari 2 orang guru, sama-sama aliran cikalong yang berbeda karakter, masih saudara kakak beradik yaitu R. Idrus yang berkarakter silat Berehan (mau mengalah dengan jalan mundur) sedangkan R. Muhidin berkarakter keras (selalu maju tidak pernah mundur).
Jika di telusuri ke atas lagi, R. Idrus mendapat ilmu dari R. Obing dan berbeda dengan R. Muhidin mendapatkan ilmu dari R. Brata. jika ditelurusi lebih dalam lagi R. Obing dan R. Brata, keduanya merupakan murid dari R. H. Ibrahim sebagai Pencipta Pencak Silat Aliran Cikalong.

https://www.facebook.com/esi23123

09/06/2026

SEKILAS PANDANG BANDARKARIMA

Bpk. H.M. Yosis Siswoyo dilahirkan di Bandung, 25 Nopember 1943. Lahir dan tumbuh di tengah-tengah kancah perang kemerdekaan dan revolusi, menjadikan beliau seorang pemuda yang pemberani dan pantang menyerah.

Ayahanda Pak Yosis yang arif, Pak Anwar, kemudian menyalurkan kesenangan berkelahi dan energi anaknya yang meluap-luap dengan mengirim Pak Yosis kepada beberapa guru silat ternama. Pak Anwar adalah seorang perwira polisi dan juga dewan pendekar Gagak Lumayung pada saat itu. Sejak itulah Pak Yosis menimba ilmu silat dari satu guru ke guru lainnya. Dari belasan tokoh2 silat yang telah menurunkan ilmunya, terdapat dua tokoh silat yang sangat besar pengaruhnya dalam membentuk ilmu silat Pak Yosis, yaitu Den Popo dan Den Karta Ateng.

Awalnya Pak Yosis digembleng oleh murid2 Den Popo, yaitu Pak Casmedi dan Pak Yayat. Barulah setelah dirasa cukup, Pak Yosis kemudian diajar langsung oleh Den Popo. Den Popo adalah anak seorang tokoh silat yang bernama Gan Utuk. Berdasarkan silsilahnya, Gan Utuk merupakan murid dari Rd. Obing Ibrahim. Jadi dari garis Den Popo mengalirlah ilmu silat Sabandar dan Cikalong kepada Pak Yosis.

Kemudian Pak Yosis melengkapi ilmu silatnya dengan berbagai ilmu olah bathin dan olah kanuragan dari Den Karta Ateng, Uwa Nampon dan Abah Andadinata. Karakter ilmunya yang keras sempat mempengaruhi satu episode kehidupan Pak Yosis pada masa mudanya.

Setelah itu Pak Yosis terus memperkaya dan mematangkan ilmu silatnya, sehingga pada akhirnya berhasil merangkum dan merumuskan kembali karakter ilmu silat yang efektif dan efisien.

Pada era tahun 60-an beladiri asing berkembang dengan pesat di Indonesia. Prihatin dengan kondisi tersebut, Pak Yosis terdorong untuk mengangkat pamor Pencak Silat sebagai budaya asli Indonesia yang bernilai tinggi dan harus dikembangkan. Maka pada bulan Juni 1967 dibentuklah unit latihan Bandarkarima di SMAN 3 Bandung dengan anggota pertama sebanyak 60 orang. Sejak itulah secara resmi lahir Perguruan Seni Pencak Bandarkarima, dan tanggal 6 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Bandarkarima.

Pendekar Bandarkarima digembleng untuk menjadi petarung ulung di bidangnya masing-masing. Tidak heran mereka umumnya menjadi pribadi-pribadi yang unggul di lingkungannya. Para pendekar senior angkatan-angkatan awal mampu mencapai posisi-posisi puncak dalam karir mereka, baik di militer, perusahaan, maupun pemerintahan. Namun sayang pertarungan dalam karir telah menyita seluruh waktu mereka, sehingga perhatian terhadap kelangsungan dan perkembangan perguruan menjadi terlupakan. Setelah mengalami masa puncaknya di tahun 80 an, kegiatan perguruan nyaris vakum di tahun 90 an. Untuk mengisi kekosongan, Pak Yosis mendirikan Sasana Tinju Anak Bandung yang kemudian melahirkan pendekar tinju kebanggaan Indonesia, Muhammad Alfaridzi dan Arief Almahdi.

Memasuki milenium baru ini, beberapa orang pendekar senior terpanggil untuk kembali merintis pengembangan Bandarkarima, sebagai wujud kepedulian mereka terhadap pendidikan anak bangsa. Melalui penggemblengan fisik dan mental di lingkungan keluarga besar Bandarkarima, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi unggul seperti tertuang dalam Sifat Pendekar Bandarkarima:

Pendekar itu:

Kuat lahir dan bathin
Pemberani dan ksatria
Bijaksana dan sopan santun
Berbudi luhur dan kasih sayang
Penuh cinta dan berbakti pada Tuhan,
Bangsa dan tanah air, dan peri kemanusiaan

Salam Pendekar!

08/06/2026

Sejarah Singkat CGTB

Kong Goning (Almarhum)

Tentang Ki Goning, nama aslinya adalah Ainin Bin Urim. Beliau lahir sekitar tahun 1895 dan meninggal sekitar tahun 1975 pada umur 80 tahun. Beliau sering dipanggil "Nin" (berubah bunyi menjadi "Ning") dan ditambah di depan kata Ning leh orang-orang dengan bahasa Betawi yaitu dengan kata "Go" maka menjadi "Goning".

Ki Goning atau lebih akrab dipanggil Kong Goning adalah seorang pejuang serta pewaris dan penerus silat Cingkrik Betawi yang cukup termasyur sehingga murid-murid beliau menisbahkan ilmu silat Cingkrik yang diterimanya kepada nama beliau sehingga dikenalah "Cingkrik Goning".

Menurut penjelasan dari Haji Husien (anak kedua dari Kong Goning), bahwa beliau sering pergi ke daerah Marunda (Cilincing Tanjung Priok) tempat dimana Ki Pitung jaya pada zamannya. Beliau pulang ke Kedoya dari Marunda 2, 3 sampai 4 hari lamanya (tidak dijelaskan apa tujuannya).

Kong Goning mempunyai 4 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Nama anak laki-laki beliau adalah :
1. Kosim (Almarhum)
2. Haji Husien
3. Haji Sa'adih
4. Hasan Jago/Mandor (Almarhum)

Di daerah Kedoya, pencak silat Cingkrik Betawi ada 2 macam aliran, yaitu:

1. Aliran silat Cingkrik Sinan dengan ciri gerakan jurus pendek-pendek.

2. Aliran silat Cingkrik Goning dengan ciri gerakan jurus panjang dan lebar.

Tb. Bambang Sudrajat

Tb Bambang Sudrajat adalah murid Babe Usup Utai.
Menjelang meninggalnya, Babe Usup Utai memanggil Tb. Bambang Sudrajat dan meminta kesanggupan Tb. Bambang Sudrajat untuk meneruskan tongkat pewarisan ilmu silat Cingkrik Goning ini dan berwasiat supaya ilmu silat Cingkrik Goning ini dijaga kelestariannya jangan sampai "Mati Obor".

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Jakarta Timur
Jakarta
13570