18/06/2014
Renungan Mas Irmawardi Mawardi
Renungan III, (renungan sebelum 40 hari wafatnya guruku tercinta)
Memang sebaiknya pengurus cabang itu seperti dulu tahun 1985 an yang JAYA ya, saat itu pengurus cabang itu nggrengsengke kolat kolatnya,
saat itu pengurus Cabang keliling kolat kolatnya untuk bertanya dan mencukupi apa kebutuhan kolat kolatnya (tahun 1985 an itu sikap pengurus cabang itu melayani kolat bukan untuk minta dilayani) sehingga kolat akan bertambah banyak dan latihan di kolat itu nyenengke ati, (persis yang dicontohkan alm. Guru Besar di awal awal MP berdiri itu saat beliau melatih sangat nyenengke ati, ada seriusnya, ada guyonnya ihhh manusiawi sekali , sehingga kolat kolat jadi grengseng semangat .)
akhir akhir ini saya sering dengar laporan bahwa banyak kasus di beberapa Cabang
ada pengurus Cabang tidak nggrengsengke Kolat kolatnya agar hidup , tapi kolat yang sudah hidup malah diancam ini gak boleh itu gak boleh , kolat harus begini kolat harus begitu tapi pengurusnya di Cabang nggak mau legowo keliling kolat untuk tau permasalahan yang ada dikolat kolatnya, ujug ujug divonis salah dan gak patuh perintah cabang, boro boro / jangankan keliling untuk bertanya atau mencukupi kebutuhan kolatnya , tau pasti permasalahan yang ada dikolat saja gak tau .
tapi yang terjadi katanya yang penting kolat harus patuh 100% pada pengurus cabang apapun keputusan cabang itu karena kalau nggak patuh maka akan diboikot disaat minta Cap stempel Cabang atau tidak disetujui ikut UKT nya atau tidak diberikan sertifikat kenaikan tingkatnya padahal sudah bayar lunas, juga tidak diurus KTA nya (padahal sudah bayar juga dan KTA itu kan hak Pengurus Pusat dan perintah wajib alm. Guru Besar mas Poeng pada setiap anggota , ingat PERINTAH PADA ANGGOTA bukan perintah pada Cabang}
atau ada perintah dari pengurus Cabang untuk nyetor 80% pendapatan kolat wajib disetor ke Cabang sehingga kolat gak bisa hidup (padahal pengurus kolat juga perlu biaya operasional) atau malah lebih parahnya lagi kolat malah diancam akan ditutup kolatnya , ...... nutup kolat ? wah .....wah ......
(ingat kolat kolat itu adalah ujung tombak dari Perguruan MP ini ) padahal keputusan cabang itu gak pernah dirembug bareng dengan pengurus kolat kolatnya dan pelatih dikolat itu, lha gimana mau nyambung ?
wuiihh ..........sebagai anggota mp yang sudah ikut lebih 30 tahun lalu sedih atiku.
Ya Alloh berilah kami pengurus MP dimanapun itu pengurus yang baik dan luas cara berpikir dan keputusan2 nya bukan pengurus yang sempit pola berpikir dan tindakan keputusan2 nya
sehingga kalau pengurusnya baik dan bijaksana dan kolat kolat grengseng nyaman maka MP akan tambah maju dan tambah besar sepeninggal alm. Guru Besar Yth. Bpk. Poerwoto Hadipurnomo / mas Poeng
yang telah susah payah mendirikan MP ini bersama mas Budi HP karena amanah Sang Guru Yth. Bapak Saring Hadipurnomo alm.
Amanah Sang Guru : MP wajib disebarkan ke generasi muda diseluruh Nusantara ini agar bangsa ini punya kebanggaan pada seni budaya silat beladiri miliknya sendiri dan terbangun mental dan karakter building bangsa Indonesia.
Semoga Yth. Pewaris muda mau turun ke kolat kolat untuk ngudari / menguarai keruwetan2 ini dengan adil dan bijaksana. Karena laporan dari pengurus Cabang tidak mesti seluruhnya menggambarkan hal yang sebenarnya terjadi di kolat2.
Apabila laporan laporan yang saya dengar itu salah dan tidak betul serta sebenarnya tidak ada maka saya mohon maaf telah menulis Renungan III ini,
Renungan ini saya tulis dan share karena kecintaan saya pada MP dan pengamatan saya pribadi agar MP tidak dirongrong dari dalam sendiri, yang membuat MP mundur dan kehilangan banyak anggotanya sehingga MP tetap solid diseluruh Indonesia dan mancanegara. Terimakasih.
Semoga MP tetap jaya dan tambah besar ditangani pewaris muda mas Amos Priono Tri Nugroho dan mas Nehemia Budi Setyawan apapun rintangannya . Baik rintangan itu dari dalam MP sendiri maupun rintangan dari luar MP. Aamiin.
(Parangkusumo , Sabtu, 14 Juni 2014 pk.01.10)