13/07/2023
Tahu Dek Dahan Nan Kamaimpok, Ingek Dek Rantiang Kamancucuak, Paham Dek Ombak Nan Basambuang, Mangarati Dek Angin Nan Bakisuik...
Perguruan Bela Diri Tradisional dan tenaga dalam, diasuh oleh Ihsan Taufiq, SAK,
13/07/2023
Tahu Dek Dahan Nan Kamaimpok, Ingek Dek Rantiang Kamancucuak, Paham Dek Ombak Nan Basambuang, Mangarati Dek Angin Nan Bakisuik...
18/05/2023
░▒▓█►─═ AT TAUBAH 102 ═─◄█▓▒░ Dan (ada p**a) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhny…
13/10/2021
https://ihsantaufiqsak.wordpress.com/2021/10/14/at-taubah-81/
Lanjut ke konten
Ihsan Taufiq S. A. K (Ashabul Qur'an)
Facebook
Twitter
Instagram
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 81꧂
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .Oktober 14, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 81
“𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘-𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕕𝕚𝕥𝕚𝕟𝕘𝕘𝕒𝕝𝕜𝕒𝕟 (𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜 𝕚𝕜𝕦𝕥 𝕓𝕖𝕣𝕡𝕖𝕣𝕒𝕟𝕘), 𝕞𝕖𝕣𝕒𝕤𝕒 𝕘𝕖𝕞𝕓𝕚𝕣𝕒 𝕕𝕖𝕟𝕘𝕒𝕟 𝕕𝕦𝕕𝕦𝕜-𝕕𝕦𝕕𝕦𝕜 𝕕𝕚𝕒𝕞 𝕤𝕖𝕡𝕖𝕟𝕚𝕟𝕘𝕘𝕒𝕝 𝕣𝕒𝕤𝕦𝕝𝕦𝕝𝕝𝕒𝕙. 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜 𝕤𝕦𝕜𝕒 𝕓𝕖𝕣𝕛𝕚𝕙𝕒𝕕 𝕕𝕖𝕟𝕘𝕒𝕟 𝕙𝕒𝕣𝕥𝕒 𝕕𝕒𝕟 𝕛𝕚𝕨𝕒 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕕𝕚 𝕛𝕒𝕝𝕒𝕟 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕕𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕓𝕖𝕣𝕜𝕒𝕥𝕒, “𝕛𝕒𝕟𝕘𝕒𝕟𝕝𝕒𝕙 𝕜𝕒𝕞𝕦 𝕓𝕖𝕣𝕒𝕟𝕘𝕜𝕒𝕥 (𝕡𝕖𝕣𝕘𝕚 𝕓𝕖𝕣𝕡𝕖𝕣𝕒𝕟𝕘) 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕡𝕒𝕟𝕒𝕤 𝕥𝕖𝕣𝕚𝕜 𝕚𝕟𝕚.” 𝕜𝕒𝕥𝕒𝕜𝕒𝕟𝕝𝕒𝕙 (𝕞𝕦𝕙𝕒𝕞𝕞𝕒𝕕), “𝕒𝕡𝕚 𝕟𝕖𝕣𝕒𝕜𝕒 𝕛𝕒𝕙𝕒𝕟𝕒𝕞 𝕝𝕖𝕓𝕚𝕙 𝕡𝕒𝕟𝕒𝕤,” 𝕛𝕚𝕜𝕒 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕞𝕖𝕟𝕘𝕖𝕥𝕒𝕙𝕦𝕚.”
(𝕢𝕤. 𝕒𝕥-𝕥𝕒𝕦𝕓𝕒𝕙 𝟡: 𝕒𝕪𝕒𝕥 𝟠𝟙)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْۤا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَا لُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَـرِّ ۗ قُلْ نَا رُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّا ۗ لَوْ كَا نُوْا يَفْقَهُوْنَ
farihal-mukhollafuuna bimaq’adihim khilaafa rosuulillaahi wa karihuuu ay yujaahiduu bi-amwaalihim wa angfusihim fii sabiilillaahi wa qooluu laa tangfiruu fil-harr, qul naaru jahannama asyaddu harroo, lau kaanuu yafqohuun
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak s**a berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah (Muhammad), “Api neraka Jahanam lebih panas,” jika mereka mengetahui.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 81)
tafsir jalalayn:
(Orang-orang yang ditinggalkan merasa gembira) yaitu mereka yang tidak ikut ke Tabuk (dengan tinggalnya mereka) dengan ketidakikutan mereka (sesudah) keberangkatan (Rasulullah, dan mereka tidak s**a berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata,) artinya sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain (“Janganlah kalian berangkat) maksudnya janganlah kalian pergi untuk berjihad (dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas) daripada panasnya Tabuk. Yang lebih utama ialah hendaknya mereka menghindarkan diri daripada panasnya Jahanam itu, yaitu dengan ikut berperang dan tidak tinggal di tempat (jika mereka mengetahui) artinya jika mereka mengetahui hal tersebut, tentulah mereka tidak akan tinggal di tempat dan pasti ikut berjihad.
tafsir muyassar:
Orang-orang yang ditinggalkan oleh Rasulullah itu bergembira dengan diamnya mereka di Madinah, mereka tidak mau mengikuti Rasul. Mereka tidak s**a berjihad bersamanya dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka berkata kepada yang lain, “Jangan kalian berperang di waktu panas ini” Peristiwa perang Tabuk memang terjadi pada musim yang sangat panas. Katakanlah kepada mereka olehmu (wahai Rasul), “Sesungguhnya api neraka lebih sangat panas, kalau mereka mengetahuinya.”
tafsir ibnu katsir:
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. berfirman mencela orang-orang munafik yang tidak ikut menemani Rasulullah ﷺ berangkat ke medan Perang Tabuk, dan bahkan mereka gembira dengan ketidakberangkatan mereka setelah Nabi ﷺ berangkat. …dan mereka tidak s**a berjihad. Bersama Rasulullah ﷺ …dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata. Yakni sebagian dari orang-orang munafik itu berkata kepada sebagian yang lainnya. Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini. Demikian itu karena keberangkatan ke medan Tabuk bertepatan dengan musim panas yang terik, yaitu di saat orang-orang sedang s**a bernaung di bawah pohon yang sedang berbuah. Karena itulah mereka berkata kepada sesamanya: Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini. (At Taubah:81) Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. berfirman kepada Rasul-Nya: Katakanlah (kepada mereka), “Neraka Jahannam itu. Yaitu neraka Jahannam yang kelak bakal menjadi tempat tinggal kalian. …lebih sangat panas (nya). Panasnya lebih daripada panas terik yang kalian hindari itu, bahkan jauh lebih panas p**a daripada api (di dunia ini). Imam Malik telah meriwayatkan dari Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Api manusia yang biasa kalian nyalakan itu merupakan sepertujuh puluh dari panasnya api neraka Jahannam.” Mereka (para sahabat bertanya), “Wahai Rasulullah, sekalipun panas api itu sudah cukup.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Api neraka Jahannam lebih panas enam puluh sembilan kali lipat daripada api di dunia.” Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Malik dengan sanad yang sama. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya api kalian ini merupakan suatu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam. padahal telah dicelup dua kali ke dalam laut. Seandainya tidak dicelup dahulu, niscaya Allah tidak akjan memberikan manfaat apapun padanya bagi seseorang. Hadis ini pun sanadnya sahih. Imam Abu Isa At-Turmuzi dan Ibnu Majah telah meriwayatkan: dari Abbas Ad-Duri dan dari Yahya ibnu Abu Bukair, dari Syarik, dari Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah رضي الله عنه. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Allah menyalakan api selama seribu tahun hingga berwarna merah, kemudian menyalakannya lagi selama seribu tahun hingga warnanya menjadi putih, lalu menyalakannya lagi selama seribu tahun hingga berubah warna menjadi hitam, maka api (neraka) itu berwarna hitam seperti malam yang gelap gulita. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa ia tidak mengetahui seorang pun yang me-rafa -kannya kecuali hanya Yahya. Al-Hafiz Abu Bakar Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan dari Ibrahim ibnu Muhammad, dari Muhammad ibnul Husain ibnu Makram, dari Ubaidillah ibnu Sa’id. dari pamannya, dari Syarik (yaitu Ibnu Abdullah An-Nakhi’) dengan lafaz yang semisal. Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan p**a melalui riwayat Mubarak ibnu Fudalah, dari Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (At Tahriim:6) Lalu beliau ﷺ bersabda: Allah menyalakannya selama seribu tahun hingga warnanya menjadi putih, dan seribu tahun lagi hingga warnanya menjadi merah, lalu seribu tahun lagi hingga warnanya menjadi hitam seperti malam hari, nyalanya tidak bersinar. Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Tamam ibnu Najih —yang masih diperselisihkan predikatnya—, dari Al-Hasan, dari Anas yang me-rafa’-kannya: Seandainya suatu percikan (dari api neraka Jahannam) ada di belahan timur (bumi), niscaya panasnya akan terasa sampai ke belahan barat (nya). Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, darf An-Nu’man ibnu Basyir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya kelak di hari kiamat adalah seseorang yang mengenakan sepasang terompah dan sepasang tali terompah dari api neraka Jahannam. Karena keduanya itu otak orang yang bersangkutan mendidih, sebagaimana panci mendidih. Seakan-akan tidak ada seseorang dari kalangan penghuni neraka yang lebih berat siksanya daripada dia, padahal kenyataannya dia adalah yang paling ringan siksaannya daripada mereka. Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-A’masy. Muslim telah mengatakan p**a bahwa: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syibah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Kasir, telah menceritakan kepada kami Zuhair ibnu Muhammad, dari Suhail ibnu Abu Saleh, dari An-Nu’man ibnu Abu Ayyasy, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya di hari kiamat ialah seseorang yang dipakaikan kepadanya sepasang terompah dari api, otaknya mendidih karena panas kedua terompahnya. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Ajlan, bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah menceritakan hadis berikut dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya ialah seorang lelaki yang dipakaikan kepadanya sepasang terompah, hingga otaknya mendidih karena panas kedua terompahnya. Sanad ini jayyid lagi kuat, semua perawinya dengan syarat Imam Muslim. Hadis dan asar mengenai hal ini cukup banyak. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. telah berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia: Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala. (Al Ma’aarij:15-16) Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), “Rasakanlah azab yang membakar ini.”(Al Hajj:19-22) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab (An–Nisa : 56) Dan dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. menyebutkan melalui firman-Nya: Katakanlah.”Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya),” jikalau mereka mengetahui.
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .Oktober 14, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 81
Diterbitkan oleh Ihsan Taufiq S. A. K .
ketua umum yayasan Izzatul Qur'an Indonesia Lihat lebih banyak pos
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 81꧂ “𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘-𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕕𝕚𝕥𝕚𝕟𝕘𝕘𝕒𝕝𝕜𝕒𝕟 (𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜 𝕚𝕜𝕦𝕥 𝕓𝕖𝕣𝕡𝕖𝕣𝕒𝕟𝕘), 𝕞𝕖𝕣𝕒𝕤𝕒 𝕘𝕖𝕞𝕓𝕚𝕣𝕒 𝕕𝕖𝕟𝕘𝕒𝕟 𝕕𝕦𝕕𝕦𝕜-𝕕𝕦...
22/09/2021
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 80꧂
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .September 23, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 80
“(𝕤𝕒𝕞𝕒 𝕤𝕒𝕛𝕒) 𝕖𝕟𝕘𝕜𝕒𝕦 (𝕞𝕦𝕙𝕒𝕞𝕞𝕒𝕕) 𝕞𝕖𝕞𝕠𝕙𝕠𝕟𝕜𝕒𝕟 𝕒𝕞𝕡𝕦𝕟𝕒𝕟 𝕓𝕒𝕘𝕚 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕒𝕥𝕒𝕦 𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜 𝕞𝕖𝕞𝕠𝕙𝕠𝕟𝕜𝕒𝕟 𝕒𝕞𝕡𝕦𝕟𝕒𝕟 𝕓𝕒𝕘𝕚 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒. 𝕨𝕒𝕝𝕒𝕦𝕡𝕦𝕟 𝕖𝕟𝕘𝕜𝕒𝕦 𝕞𝕖𝕞𝕠𝕙𝕠𝕟𝕜𝕒𝕟 𝕒𝕞𝕡𝕦𝕟𝕒𝕟 𝕓𝕒𝕘𝕚 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕥𝕦𝕛𝕦𝕙 𝕡𝕦𝕝𝕦𝕙 𝕜𝕒𝕝𝕚, 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜 𝕒𝕜𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕞𝕓𝕖𝕣𝕚 𝕒𝕞𝕡𝕦𝕟𝕒𝕟 𝕜𝕖𝕡𝕒𝕕𝕒 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒. 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕕𝕖𝕞𝕚𝕜𝕚𝕒𝕟 𝕚𝕥𝕦 𝕜𝕒𝕣𝕖𝕟𝕒 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕚𝕟𝕘𝕜𝕒𝕣 (𝕜𝕒𝕗𝕚𝕣) 𝕜𝕖𝕡𝕒𝕕𝕒 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕕𝕒𝕟 𝕣𝕒𝕤𝕦𝕝-𝕟𝕪𝕒. 𝕕𝕒𝕟 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜 𝕞𝕖𝕞𝕓𝕖𝕣𝕚 𝕡𝕖𝕥𝕦𝕟𝕛𝕦𝕜 𝕜𝕖𝕡𝕒𝕕𝕒 𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘-𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕗𝕒𝕤𝕚𝕜.”
(𝕢𝕤. 𝕒𝕥-𝕥𝕒𝕦𝕓𝕒𝕙 𝟡: 𝕒𝕪𝕒𝕥 𝟠𝟘)
[ITS.AQ_14430215] 15 Shafar 1443
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِسْتَغْفِرْ لَهُمْ اَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ ۗ اِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَفَرُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
istaghfir lahum au laa tastaghfir lahum, ing tastaghfir lahum sab’iina marrotang fa lay yaghfirollohu lahum, zaalika bi-annahum kafaruu billaahi wa rosuulih, wallohu laa yahdil-qoumal-faasiqiin
“(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka ingkar (kafir) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 80)
Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com
tafsir ibnu katsir:
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. menceritakan kepada Nabi-Nya bahwa orang-orang munafik itu bukanlah orang-orang yang layak dimohonkan ampunan bagi mereka. Sekalipun Nabi ﷺ memohonkan ampun bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, Allah tetap tidak akan mengampuni mereka. Menurut suatu pendapat, kata ‘tujuh puluh kali’ dalam ayat ini hanya disebutkan sebagai batas maksimal Dari bilangan istigfar buat mereka, karena sesungguhnya dalam percakapan orang-orang Arab bilangan tujuh puluh disebutkan untuk menunjukkan pengertian mubalagah dan bukan sebagai batasan, tidak p**a bilangan yang lebih dari tujuh puluh memberikan pengertian yang sebaliknya. Menurut pendapat lainnya lagi, sebenarnya bilangan tujuh puluh ini mempunyai pengertian sesuai dengan bilangannya. Seperti apa yang disebutkan di dalam riwayat Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ketika ayat ini diturunkan, aku mendengar Tuhanku memberikan, kemurahan kepadaku sehubungan dengan mereka. Maka demi Allah, aku benar-benar akan memohonkan ampun bagi mereka lebih dari tujuh puluh kali. mudah-mudahan Allah memberikan ampunanNya bagi mereka. Maka Allah berfirman karena kemurkaan-Nya yang sangat terhadap mereka: Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja)., hingga akhir ayat. Asy-Sya’bi mengatakan bahwa ketika Abdullah ibnu Ubay sakit keras, maka anaknya datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata, “Sesungguhnya ayahku sedang menjelang kematiannya, maka aku sangat menginginkan bila engkau menghadiri dan menyalatkannya.” Nabi ﷺ bertanya kepadanya, “Siapakah namamu?” Ia menjawab, “Al-Hubab ibnu Abdullah.” Nabi ﷺ bersabda, “Tidak, engkau adalah Abdullah ibnu Abdullah. Sesungguhnya Al-Hubab adalah nama setan.” Maka Rasulullah ﷺ berangkat bersamanya hingga menghadiri jenazah ayahnya, lalu Nabi ﷺ memakaikan baju gamisnya yang sudah tua kepada jenazah itu dan ikut menyalatkannya. Ketika ditanyakan kepada Nabi ﷺ, “Apakah engkau menyalatkannya?” Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah telah berfirman, “Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali.” Dan sungguh aku akan memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali. tujuh puluh kali, dan tujuh puluh kali. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Urwah ibnuz Zubair, Mujahid, dan Qatadah ibnu Di’amah. Ibnu Jarir telah meriwayatkannya berikut semua sanadnya.
tafsir jalalayn:
(Kamu memohonkan ampun) hai Muhammad (bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka adalah sama saja) ayat ini mengandung pengertian takhyir, yakni boleh memilih memintakan ampun atau tidak. Sehubungan dengan hal ini Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Sesungguhnya aku disuruh memilih, maka aku memilih memintakan ampun.” (H.R. Bukhari) (Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka). Menurut suatu pendapat pengertian tujuh puluh kali ini merupakan ungkapan mubalaghah yang menunjukkan banyaknya istigfar (memohonkan ampun). Di dalam kitab sahih Bukhari telah diketengahkan sebuah hadis mengenai hal ini yaitu, “Seandainya aku mengetahui, bahwa jika permohonan ampunku diterima bila dibacakan lebih daripada tujuh puluh kali, maka niscaya aku akan menambahkannya.” (H.R. Bukhari). Dalam pendapat yang lain dikatakan, bahwa pengertian yang dimaksud ialah bilangan tertentu, yaitu tujuh puluh itu sendiri. Hal ini pun berlandaskan pada hadis Nabi ﷺ p**a, yaitu, “Aku akan membacakannya lebih dari tujuh puluh kali.” Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. menjelaskan kepada Nabi-Nya tentang pemutusan ampunan, yaitu melalui firman-Nya, “Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan. Niscaya Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Munafiqun 6). (Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik).
tafsir muyassar:
Kamu (wahai Rasul) memohon ampun bagi orang-orang munafik itu atau tidak, itu sama saja. Allah tidak akan mengampuni mereka. Sebanyak apa pun dan sesring apa pun kamu memohonkan ampun, karena mereka telah kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk bagi orang-orang yang tidak menaati-Nya.
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .September 23, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 80
Diterbitkan oleh Ihsan Taufiq S. A. K .
ketua umum yayasan Izzatul Qur'an Indonesia Lihat lebih banyak pos
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 80꧂ “(𝕤𝕒𝕞𝕒 𝕤𝕒𝕛𝕒) 𝕖𝕟𝕘𝕜𝕒𝕦 (𝕞𝕦𝕙𝕒𝕞𝕞𝕒𝕕) 𝕞𝕖𝕞𝕠𝕙𝕠𝕟𝕜𝕒𝕟 𝕒𝕞𝕡𝕦𝕟𝕒𝕟 𝕓𝕒𝕘𝕚 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕒𝕥𝕒𝕦 𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜 𝕞𝕖𝕞𝕠𝕙𝕠𝕟𝕜𝕒𝕟 𝕒𝕞.....
21/09/2021
Instagram
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 79꧂
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .September 22, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 79
“(𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕦𝕟𝕒𝕗𝕚𝕜) 𝕪𝕒𝕚𝕥𝕦 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕖𝕟𝕔𝕖𝕝𝕒 𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘-𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕓𝕖𝕣𝕚𝕞𝕒𝕟 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕖𝕞𝕓𝕖𝕣𝕚𝕜𝕒𝕟 𝕤𝕖𝕕𝕖𝕜𝕒𝕙 𝕕𝕖𝕟𝕘𝕒𝕟 𝕤𝕦𝕜𝕒𝕣𝕖𝕝𝕒 𝕕𝕒𝕟 𝕪𝕒𝕟𝕘 (𝕞𝕖𝕟𝕔𝕖𝕝𝕒) 𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘-𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕙𝕒𝕟𝕪𝕒 𝕞𝕖𝕞𝕡𝕖𝕣𝕠𝕝𝕖𝕙 (𝕦𝕟𝕥𝕦𝕜 𝕕𝕚𝕤𝕖𝕕𝕖𝕜𝕒𝕙𝕜𝕒𝕟) 𝕤𝕖𝕜𝕒𝕕𝕒𝕣 𝕜𝕖𝕤𝕒𝕟𝕘𝕘𝕦𝕡𝕒𝕟𝕟𝕪𝕒, 𝕞𝕒𝕜𝕒 𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘-𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕦𝕟𝕒𝕗𝕚𝕜 𝕚𝕥𝕦 𝕞𝕖𝕟𝕘𝕙𝕚𝕟𝕒 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒. 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕒𝕜𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕞𝕓𝕒𝕝𝕒𝕤 𝕡𝕖𝕟𝕘𝕙𝕚𝕟𝕒𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒, 𝕕𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕒𝕜𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕟𝕕𝕒𝕡𝕒𝕥 𝕒𝕫𝕒𝕓 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕡𝕖𝕕𝕚𝕙.”
(𝕢𝕤. 𝕒𝕥-𝕥𝕒𝕦𝕓𝕒𝕙 𝟡: 𝕒𝕪𝕒𝕥 𝟟𝟡)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَا لَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْ ۗ سَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
allaziina yalmizuunal-muththowwi’iina minal-mu-miniina fish-shodaqooti wallaziina laa yajiduuna illaa juhdahum fa yaskhoruuna min-hum, sakhirollohu min-hum wa lahum ‘azaabun aliim
“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan s**arela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 79)
Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com
tafsir ibnu katsir:
Apa yang disebutkan oleh ayat ini pun merupakan sebagian dari sifat orang-orang munafik. Tidak ada seorang pun yang luput dari celaan dan cemoohan mereka dalam semua keadaan, hingga orang-orang yang taat bersedakah pun tidak luput dari cercaan mereka. Jika ada seseorang dari mereka yang taat datang dengan membawa zakat yang banyak, maka orang-orang munafik mengatakan, “Ini pamer.” Jika seseorang datang dengan membawa zakat yang sedikit jumlahnya, maka mereka berkata, “Sesungguhnya Allah Mahakaya dari sedekah orang ini.” Imam Bukhari telah meriwayatkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abun Nu’man Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sulaiman, dari Abu Wail, dari Abu Mas’ud رضي الله عنه. yang mengatakan, “Ketika ayat mengenai zakat diturunkan, kami sedang mencari nafkah sebagai pengangkut barang (tukang pikul) pada punggung kami. Lalu datanglah seorang lelaki menyerahkan sedekahnya dalam jumlah yang banyak, maka mereka (orang-orang munafik) berkata, ‘Orang ini pamer.’ Kemudian datang p**a lelaki lain menyedekahkan satu sa’ makanan (yakni jumlah sedikit), maka mereka berkata, ‘Sesungguhnya Allah Mahakaya dari sedekah orang ini.’ Lalu turunlah firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. yang mengatakan: (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela para pemberi zakat yang s**arela., hingga akhir ayat’.” Imam Muslim telah meriwayatkannya p**a di dalam kitab Sahih-nya melalui hadis Syu’bah dengan sanad yang sama. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid Al- Jariri, dari Abus Salili yang mengatakan, “Ada seorang lelaki berdiri di tengah majelis kami di Baqi’, lalu ia berkata bahwa telah menceritakan kepadanya ayahnya atau pamannya, bahwa ia telah melihat Rasulullah ﷺ di Baqi’ ini mengucapkan sabdanya: ‘Barang siapa yang mengeluarkan suatu sedekah, maka aku akan membelanya karena sedekahnya itu kelak di hari kiamat’.” Perawi melanjutkan kisahnya, “Lalu aku melepaskan sebagian dari kain serbanku sekali atau dua kali lipatan dengan maksud akan menyedekahkannya. Tiba-tiba aku mengalami sesuatu yang biasa dialami oleh orang lain (pusing kepaia). maka aku mengikatkan kembali kain serbanku. Lalu aku melihat seorang lelaki yang belum pernah aku melihat seseorang di Baqi’ ini yang lebih hitam kulitnya, lebih kecil tubuhnya, dan lebih jelek tampangnya daripada lelaki itu. Ia datang dengan membawa seekor unta yang digiringnya, aku belum pernah melihat seekor unta di Baqi’ ini yang lebih bagus daripada untanya. Lalu lelaki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah zakat?’ Rasul ﷺ menjawab, ‘Ya.’ Lelaki itu berkata.”Silakan ambil unta ini’.” Perawi melanjutkan kisahnya, “Lalu ada seorang lelaki (munafik) berkata, ‘Orang ini menyedekahkan unta itu. Demi Allah, unta itu lebih baik daripadanya.’ Perkataannya itu terdengar oleh Rasulullah ﷺ, maka beliau menjawab. Kamu dusta, bahkan orang ini jauh lebih baik daripada kamu dan unta itu sendiri.’ sebanyak tiga kali. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda lagi, ‘Celakalah bagi orang-orang yang mempunyai dua ratus ekor unta,” sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya, ‘Kecuali siapa, wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Kecuali orang yang menyedekahkan hartanya seperti ini dan ini,” seraya menghimpunkan kedua telapak tangannya ke arah kanan dan ke arah kirinya. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Beruntunglah orang yang berzuhud dan bersusah payah yakni berzuhud dalam kehidupannya dan bersusah payah dalam ibadahnya.'” Sehubungan dengan ayat ini Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Abdur Rahman ibnu Auf datang dengan membawa empat puluh auqiyah emas kepada Rasulullah ﷺ, lalu datang p**a seorang lelaki dari kalangan Ansar dengan membawa satu sa’ makanan. Maka sebagian orang munafik berkata, “Demi Allah, tidaklah Abdur Rahman datang dengan membawa apa yang dibawanya itu melainkan hanya pamer semata-mata.” Mereka mengatakan p**a, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya benar-benar tidak memerlukan satu sa’ itu.” Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, sesungguhnya di suatu hari Rasulullah ﷺ keluar menjumpai orang-orang, lalu beliau menyerukan agar mereka mengumpulkan sedekah mereka. Maka orang-orang mengumpulkan zakatnya. Kemudian di penghujung mereka datanglah seorang lelaki dengan membawa satu sa’ buah kurma, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini satu sa’ buah kurma. Semalaman saya bekerja menimba air hingga saya memperoleh dua sa’ buah kurma. Lalu satu sa’ saya ambil, sedangkan satu sa’-nya lagi adalah yang sekarang ini yang saya datangkan kepadamu.” Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan agar buah kurma itu dikumpulkan bersama zakat lainnya. Melihat hal itu sejumlah lelaki dari kalangan orang-orang munafik mengejeknya, lalu berkata, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya benar-benar tidak memerlukan satu sa’ kurma, lalu apakah yang dapat diperbuat dengan satu sa’ buah kurmamu itu?” Lalu Abdur Rahman ibnu Auf berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Apakah masih ada orang yang wajib sedekah?” Rasul ﷺ menjawab, “Tiada seorang pun yang tertinggal kecuali hanya engkau sendiri.” Lalu Abdur Rahman ibnu Auf berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai seratus auqiyah emas untuk sedekah.” Umar ibnu Khattab رضي الله عنه. (yang ada di tempat) berkata, “Apakah engkau gila (menyedekahkan sebanyak itu)?”Abdur Rahman menjawab, “Saya tidak gila.” Rasul ﷺ bersabda, “Apakah engkau rela memberikannya?” Abdurrahman Ibnu Auf menjawab “Ya Semua hartaku berjumlah delapan ribu. Yang empat ribu telah saya pinjamkan kepada Tuhan saya, sedangkan yang empat ribu lainnya saya pegang untuk saya sendiri.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Semoga Allah memberkati apa yang engkau pegang (simpan) dan apa yang engkau berikan (sedekahkan). Tetapi orang-orang munafik mencelanya dan mengatakan, “Demi Allah, tidak sekali-kali Abdur Rahman memberikan pemberiannya itu melainkan pamer,” padahal mereka dusta dalam tuduhannya itu. Sesungguhnya yang dilakukan oleh Abdur Rahman itu semata-mata hanyalah secara s**arela. Maka Allah menurunkan ayat yang membela dia dan temannya yang miskin tadi yang datang dengan membawa sedekah satu sa’ buah kurma. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. berfirman di dalam Kitab-Nya: (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan s**arela., hingga akhir ayat. Hal yang sama telah diriwayatkan p**a dari Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa di antara orang-orang mukmin yang mengeluarkan sedekahnya secara s**arela ialah Abdur Rahman ibnu Auf—ia menyedekahkan empat ribu dirham— dan Asim ibnu Addi, saudara lelaki Banil Ajlan. Kisahnya bermula ketika Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk bersedekah dan memerintahkannya. Maka Abdur Rahman ibnu Auf berdiri, lalu menyedekahkan empat ribu dirham. Lalu bangkit p**a Asim ibnu Addi, kemudian menyedekahkan seratus wasaq buah kurma. Tetapi orang-orang munafik mencela keduanya, mereka mengatakan, “Ini tiada lain hanyalah pamer.” Di antara mereka yang menyedekahkah hasil jerih payahnya ialah Abu Uqail. saudara lelaki Bani Anif Al-Arasyi teman sepakta Bani Amr ibnu Auf. Ia datang dengan membawa satu sa’ buah kurma, lalu menuangkannya ke dalam kump**an zakat. Maka orang-orang munafik menertawakannya, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah benar-benar tidak memerlukan satu sa’ si Abu Uqail ini.” Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Talut ibnu Abbad, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, dari Amr ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah رضي الله عنه. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya aku hendak mengirimkan suatu pas**an. Maka datanglah Abdur Rahman ibnu Auf, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai empat ribu dirham, dua ribu dirham di antaranya aku pinjamkan kepada Tuhanku, sedangkan yang dua ribu lainnya aku simpan buat anak-anakku.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Semoga Allah memberkatimu dalam apa yang engkau berikan, dan semoga Dia memberkahi apa yang engkau pegang. Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Ansar kerja semalaman, lalu ia memperoleh dua sa’ tamar dari upah kerjanya. Maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh dua sa’ kurma. Satu sa’-nya saya pinjamkan kepada Tuhan saya, sedangkan satu sa’ lainnya untuk anak-anak saya.” Maka orang-orang munafik mencelanya, dan mereka mengatakan, “Tidak sekali-kali Abdur Rahman memberikan apa yang telah diberikannya, kecuali hanya pamer.” Lalu mereka mengatakan p**a, “Bukankah Allah dan Rasul-Nya tidak memerlukan kedua sa’ orang ini?” Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. menurunkan firman-Nya: (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan s**arela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka., hingga akhir ayat. Kemudian ia (Abu Bakar Al-Bazzar) meriwayatkannya p**a melalui Abu Kamil, dari Abu Awanah, dari Amr ibnu Abu Salamah, dari ayahnya secara mursal. Lalu ia berkata bahwa tidak ada seorang pun yang meng-isnad-kannya selain Talut. Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hubab, dari Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Khalis ibnu Yasar, dari Ibnu Abu Aqil, dari ayahnya yang mengatakan bahwa semalaman ia bekerja menimba air dan dipanggul di atas punggungnya dengan imbalan dua sa’ kurma. Lalu ia memberikan satu sa’ darinya kepada keluarganya buat makan mereka, sedangkan satu sa’ lainnya ia datangkan ke hadapan Rasulullah ﷺ sebagai amal taqarrub. Ketika ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan perihalnya, maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Kumpulkanlah bersama harta zakat lainnya.” Maka kaum munafik mengejeknya dan mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak memerlukan sedekah orang miskin ini.” Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. menurunkan firman-Nya: (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela para pemberi sedekah dengan s**arela., hingga akhir ayat berikutnya. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Tabrani melalui hadis Zaid ibnul Hubab dengan sanad yang sama. Imam Tabrani mengatakan bahwa nama asli Abu Aqil adalah Hubab. Sedangkan menurut pendapat yang lain, Abdur Rahman tersebut adalah Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Sa’labah. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.:…maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu. Hal ini merupakan pembalasan yang setimpal sesuai dengan perbuatan mereka yang jahat itu dan penghinaan mereka terhadap kaum mukmin, karena sesungguhnya pembalasan itu disesuaikan dengan jenis amal perbuatannya. Maka Allah memberlakukan terhadap mereka hukuman orang yang menghina mereka dengan melalui kemenangan yang diraih oleh kaum mukmin di dunia, dan Allah telah menyediakan bagi orang-orang munafik kelak di hari kemudian azab yang pedih, sesuai dengan , amal perbuatan mereka itu.
tafsir jalalayn:
(Orang-orang) menjadi mubtada (yang mencela) menganggap aib (orang-orang yang dengan s**a rela) senang hati (memberi sedekah dari kalangan orang-orang mukmin, dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh sekadar kesanggupannya) kemampuannya lalu mereka menyedekahkannya (maka orang-orang munafik itu menghina mereka) sedangkan khabar daripada mubtada tadi ialah (Allah akan membalas penghinaan mereka itu) artinya, Allah membalas penghinaannya (dan untuk mereka azab yang pedih).
tafsir muyassar:
Orang-orang munafik itu selain kikir, mereka juga selalu berusaha menyakiti orang-orang yang hendak bersedekah. Apabila orang kaya bersedekah dengan harta yang banyak, mereka mencelanya dan menganggap mereka riya. Dan apabila orang fakir yang bersedekah menurut kemampuannya, mereka mengejeknya sambil berkata: Apa yang bisa diharapkan dari sedekahmu itu? Sesungguhnya Allah akan membalas penghinaan orang-orang munafik itu, dan untuk mereka siksa yang sangat pedih dan hina.
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .September 22, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 79
Diterbitkan oleh Ihsan Taufiq S. A. K .
ketua umum yayasan Izzatul Qur'an Indonesia Lihat lebih banyak pos
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 79꧂ “(𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕦𝕟𝕒𝕗𝕚𝕜) 𝕪𝕒𝕚𝕥𝕦 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕖𝕟𝕔𝕖𝕝𝕒 𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘-𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝕓𝕖𝕣𝕚𝕞𝕒𝕟 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕖𝕞𝕓𝕖𝕣𝕚𝕜𝕒𝕟 𝕤𝕖𝕕𝕖𝕜𝕒...
16/09/2021
Instagram
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 78꧂
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .September 17, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 78
“𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜𝕜𝕒𝕙 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕞𝕖𝕟𝕘𝕖𝕥𝕒𝕙𝕦𝕚 𝕓𝕒𝕙𝕨𝕒 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕞𝕖𝕟𝕘𝕖𝕥𝕒𝕙𝕦𝕚 𝕣𝕒𝕙𝕒𝕤𝕚𝕒 𝕕𝕒𝕟 𝕓𝕚𝕤𝕚𝕜𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒, 𝕕𝕒𝕟 𝕓𝕒𝕙𝕨𝕒 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕞𝕖𝕟𝕘𝕖𝕥𝕒𝕙𝕦𝕚 𝕤𝕖𝕘𝕒𝕝𝕒 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕘𝕒𝕚𝕓?”
(𝕢𝕤. 𝕒𝕥-𝕥𝕒𝕦𝕓𝕒𝕙 𝟡: 𝕒𝕪𝕒𝕥 𝟟𝟠)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ يَعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰٮهُمْ وَاَ نَّ اللّٰهَ عَلَّا مُ الْغُيُوْبِ
a lam ya’lamuuu annalloha ya’lamu sirrohum wa najwaahum wa annalloha ‘allaamul-ghuyuub
“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah mengetahui segala yang gaib?”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 78)
Via Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com
tafsir jalalayn:
(Tidakkah mereka tahu) orang-orang munafik itu (bahwasanya Allah mengetahui rahasia mereka) apa-apa yang mereka simpan di dalam diri mereka (dan bisikan mereka) yakni apa-apa yang mereka bisikkan di antara sesama mereka (dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib) yang dimaksud dengan gaib ialah segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Ketika ayat mengenai sedekah ini diturunkan, ada seorang lelaki datang dengan membawa sedekah yang banyak sekali, lalu orang-orang munafik itu mengatakan, “Dia hanya ingin pamer saja.” Datang p**a seorang lelaki lain seraya membawa sedekah satu sha’, maka orang-orang munafik itu mengatakan p**a, “Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sedekahnya orang ini”, maka pada saat itu juga turunlah firman- Nya berikut ini, yaitu:
tafsir muyassar:
Tidakkah orang-orang munafik itu tahu bahwa Allah mengetahui tipu daya dan rencana jahat yang mereka sembunyikan dalam hati dan yang mereka ceritakan dalam perkump**an mereka? Dan tidakkah mereka tahu bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang ghaib? Maka Allah akan memberikan balasan atas perbuatan yang mereka kerjakan.
tafsir ibnu katsir:
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.:…karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya. , hingga akhir ayat. Artinya, Allah menimbulkan kemunafikan dalam hati mereka karena mereka telah mengingkari janjinya dan berdusta. Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Pertanda orang munafik itu ada tiga, apabila berbicara dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat. Hadis ini mempunyai banyak syahid (bukti) yang menguatkannya. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.:Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka., hingga akhir ayat. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. memberitahukan bahwa Dia mengetahui semua rahasia dan semua yang tersembunyi. Dia pun mengetahui isi hati mereka, sekalipun pada lahiriahnya mereka mengatakan bahwa jika mereka beroleh harta yang banyak, maka mereka akan menyedekahkan sebagiannya dan mensyukurinya. Karena sesungguhnya Allah lebih mengetahui tentang diri mereka daripada diri mereka sendiri. Allah Maha Mengetahui semua yang gaib, yakni mengetahui semua yang gaib dan semua yang lahir serta mengetahui semua rahasia dan semua bisikan hati, dan Allah mengetahui semua yang lahir dan semua yang tersembunyi.
Ditulis olehIhsan Taufiq S. A. K .September 17, 2021Diposkan padaTafsir Al Qur'an, tafsir at taubahTag:at taubah 78
Diterbitkan oleh Ihsan Taufiq S. A. K .
ketua umum yayasan Izzatul Qur'an Indonesia Lihat lebih banyak pos
꧁🄰🅃 🅃🄰🅄🄱🄰🄷 : 78꧂ “𝕥𝕚𝕕𝕒𝕜𝕜𝕒𝕙 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒 𝕞𝕖𝕟𝕘𝕖𝕥𝕒𝕙𝕦𝕚 𝕓𝕒𝕙𝕨𝕒 𝕒𝕝𝕝𝕒𝕙 𝕞𝕖𝕟𝕘𝕖𝕥𝕒𝕙𝕦𝕚 𝕣𝕒𝕙𝕒𝕤𝕚𝕒 𝕕𝕒𝕟 𝕓𝕚𝕤𝕚𝕜𝕒𝕟 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕜𝕒, 𝕕𝕒𝕟 𝕓....
| Monday | 09:00 - 17:00 |
| Tuesday | 09:00 - 17:00 |
| Wednesday | 09:00 - 17:00 |
| Thursday | 09:00 - 17:00 |
| Friday | 09:00 - 17:00 |
| Saturday | 09:00 - 17:00 |
| Sunday | 09:00 - 17:00 |