Berbagai artikel dakwah

Berbagai artikel dakwah

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Berbagai artikel dakwah, Sport & recreation, Medan.

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam.

07/01/2021

Mungkin kita telah tau kisah ini, tapi apa salahnya kita baca kembali, agar menggugah dan menambah wawasan kita

Mengharukan, Ini Kisah Sahabat yang Kembali 'Bangkitkan' Rasulullah

Nama Sayyidina Bilal bin Rabbah tentu tak asing dikalangan umat muslim di berbagai penjuru dunia.

Ia bukan hanya dikenal sebagai sahabat Rasulullah SAW, tapi juga dikenal sebagai muadzin pertama yang diperintahkan Rasulullah mengumandangkan adzan saat hukum syariat adzan diperintahkan Allah SWT.

Ketika Rasulullah meninggal dunia, Sayyidina Bilal bin Rabbah merupakan salah satu sahabat yang sangat bersedih.

Karena kecintaannya yang sangat mendalam, Sayyidina Bilal bahkan meminta izin kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk tak lagi mengumandangkan adzan.

Buya Yahya dalam sebuah kesempatan menyampaikan, Sayyidina Bilal bin Rabbah suatu ketika mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah Rasulullah wafat.

Ketika itu, Sayyidina Bilal berkata, "Wahai Khalifah, aku minta izin. Tolong izinkan aku untuk tidak adzan lagi,".

Lalu Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, "Wahai Bilal, aku tidak akan menurunkan orang yang telah diangkat Rasulullah,".

Sayyidina Bilal kembali mengulangi kalimatnya dan meminta tolong diizinkan agar tak lagi adzan.

Lalu Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan tegas menjawab 'Tidak' kecuali jika Bilal bin Rabbah memiliki alasan.

Kemudian Bilal bin Rabbah menyampaikan alasan itu dengan berderai air mata.

Sembari melihat ke arah menara dan melihat ke kubur Rasulullah yang dulunya adalah kamar Rasulullah, Sayyidina Bilal berkata.

"Wahai Abu Bakar, kebiasaanku dulu waktu Nabi Muhammad SAW hidup adalah sebelum waktu shalat aku membangunkan Nabi Muhammad, aku datang ke tempat Nabi Muhammad dan aku berkata 'ya Rasulullah waktunya salat'.

Dan kadang Nabi Muhammad yang datang ke tempatku lalu berkata 'Ya Bilal waktunya salat'. Kemudian setelah itu, aku bersama Nabi Muhammad mendekat ke menara dan aku naik, Nabi Muhammad melihatku.

Lalu aku menghadap ke kiblat, sebelum adzan aku menoleh kepada Nabi Muhammad yang di tempat itu kemudian aku melakukan adzan dan setelah itu aku turun disambut Rasulullah.

Dan itu aku lakukan sehari lima kali dan berulang-ulang. Sehingga sungguh suasana keadaan itu mengingatkanku kepada Rasulullah. Sehingga aku tidak mampu lagi melakukan adzan wahai Abu Bakar,".

Abu Bakar ketika itu menitikkan air mata, lalu mengizinkan Bilal atas permintaannya tersebut.

Tak lama, Bilal memutuskan pergi ke negeri Syam selama beberapa bulan.

Hingga suatu ketika, Bilal bin Rabbah bermimpi bertemu Rasulullah. Dalam mimpi itu Rasulullah menegur Bilal dengan berkata, "Wahai Bilal, alangkah kerasnya hatimu. Lama kau tak kunjung kepadaku wahai Bilal,".

Saat itu, Bilal terbangun dan menangis dengan keras dan sejadi-jadinya serta membuat keluarganya ketakutan.

Dan Bilal hanya bisa berkata, "Sungguh aku saat ini merasakan takut yang sangat, dan aku tidak pernah takut seperti saat ini. Aku bermimpi bertemu Rasulullah dan ditegur lantaran lama tak kunjung kepada Rasulullah. Aku takut ditinggal Rasulullah,".

Lalu keluarga Sayyidina Bilal mengatakan jika memang waktunya Bilal berziarah ke Rasulullah.

Saat itu Sayyidina Bilal pergi dengan menunggang kuda menuju Madinah.

Dia menuju kubur Rasulullah dengan perjalanan yang tak kenal lelah dan tak mau istirahat untuk segera sampai ke Madinah.

Saat sudah sampai di Madinah, air mata Sayyidina Bilal pun tak kuasa mengucur ketika melihat bukit demi bukit yang ia lewati.

Karena bukit-bukit itu adalah saksi perjalanan yang pernah ia lalui bersama Rasulullah.

Sayyidina Bilal terus berjalan dengan tetesan air mata, tangis semakin kuat dan tak terlihat baginya bangunan di Madinah kecuali Rasulullah.

Kenangan indah bersama Rasulullah terasa sangat kuat.

Berjalanlah Sayyidina Bilal menuju kubur Rasulullah lalu tertunduk dengan mengucapkan salam dengan suara yang serak.

Dengan suara lirih dia mengucapkan salam pada kubur Rasulullah.

Bilal tertunduk di hadapan kubur Rasulullah dengan derai air mata dan tak lama ada yang memegangnya dari belakang.

Pria itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Bilal lalu berdiri dan ditegur Abu Bakar, "Wahai Bilal engkau menangis dan tangismu tak seperti biasa,".

Lalu Bilal berkata, "Wahai Khalifah, sungguh kali ini aku merasa takut yang sangat. Aku merasakan takut ditinggalkan Rasulullah. Aku bermimpi bertemu Rasulullah. Rasulullah pun menegurku. Sungguh aku takut ditinggal Rasulullah,".

Kemudian Abu Bakar menghibur Bilal dengan berkata, "Wahai Bilal ketahuilah, air mata yang pernah menangis karena rindu Rasulullah tidak akan ditinggal Rasulullah. Dan engkau adalah orang yang tak akan ditinggal Rasulullah,".

Abu Bakar membenarkan dan Bilal lega serta merangkul Abu Bakar.

Air mata Bilal reda, dan keduanya kembali melakukan percakapan.

Lalu Abu Bakar meminta Bilal kembali adzan dan saat mendapat tawaran dan Bilal menoleh ke menara dan melihat kembali ke kubur Rasulullah.

Baca Juga : NU Minta Masyarakat Tak Sembrono, Imbau Tarawih di Rumah



Air mata yang berhenti itu berderai lagi dan berkata, "Tidak wahai Abu Bakar, tidak wahai Umar. Aku masih belum kuat,".

Tak lama ada dua anak kecil datang pada Bilal dengan memegang tangan kanan dan kirinya.

Seorang anak yang memegang tangan kirinya berkata, "Hai tukang adzan kakekku,".

Hal itu membuat Bilal kaget dan setelah ia lihat, ke dua anak kecil yang tengah memegang tangan kanan dan kirinya adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen.

Sayyidina Bilal benar-benar kaget dan mengangkat tangan, " Ya Allah terima kasih, aku rindu kepada kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW dan telah kau kirim kepadaku orang yang sangat dikasihi kekasihmu Nabi Muhammad,".

Kemudian Sayyidina Bilal menghadap pada Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen diberdirikan keduanya dan melihat wajah dan kaki keduanya.

Karena wajah Sayyidina Hasan sangat mirip dengan Nabi Muhammad SAW dan kaki Sayyidina Husen mirip dengan kaki Nabi Muhammad.

Dua anak kecil itu dipeluk dengan derai air mata Sayyidina Bilal yang sangat deras.

Lalu Sayyidina Bilal berkata, "Ya Rasulullah sungguh bau keringatmu aku temukan di cucumu ya Rasulullah,".

Tak lama kemudian Sayyidina Hasan dan Husen bilang jika keduanya kangen dengan suara adzan Sayyidina Bilal.

Sayyidina Bilal merasa bingung dan menoleh kepada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar.

Keduanya pun meminta Sayyidina Bilal melakukannya.

Kemudian Sayyidina Bilal menoleh kepada keduanya dan tak menolak permintaan ke dua cucu Rasulullah SAW tersebut.

Lalu ditentukan waktu adzan dan Sayyidina Bilal mulai adzan waktu Subuh.

Kemudian berdirilah Sayyidina Bilal, orang yang memancar dengan kecintaan Rasulullah dan berdiri di tempat yang biasa.

Suasana itu kembali mengingatkan suasana ketika Rasulullah masih hidup.

Kenangan itu kembali pada ingatan banyak orang yang datang ke Masjid.

Semua orang menangis, Sayyidina Bilal pun masih menangis dengan sejadi-jadinya.

"Tidak ada tangis di Madinah lebih dahsyat dibanding saat itu," terang Buya Yahya.

Sayyidina Bilal ketika itu memulai adzan.

Berbarengan dengan suara Bilal, terdengar suara tangis dari para jamaah yang datang sembari menjawab adzan. Banyak p**a yang berjatuhan pingsan.

Orang-orang yang berada di luar Masjid pun bergegas menuju Masjid begitu mendengar suara Sayyidina Bilal.

Lalu mereka berkata, "Apakah Rasulullah dibangkitkan lagi?,".

Lalu dijawab 'Tidak' oleh orang-orang yang ada di dalam Masjid.

Kalimat 'Apakah Rasulullah dibangkitkan kembali' itu keluar karena ketika ada Sayyidina Bilal, Rasulullah selalu ada di sana.

Kenangan terkuak kembali, hingga air mata pun menitik di mana-mana.

Sampailah pada kalimat Muhammad, suara Bilal hilang dan dia terjatuh lantaran pingsan.

Sayyidina Bilal kemudian meminta agar adzannya dilanjutkan oleh yang lain.

Kecintaan yang liar biasa ditunjukkan oleh umat muslim.

Hingga dalam suatu kisah disebutkan jika tak ada tangis yang sedahsyat peristiwa saat itu di Madinah hingga sekarang.
Mudah mudahan kita mendapatkan syafaat nabi muhammad saw di kemudian hari nanti, Aamiin

Boleh saling menjalin silaturahim
https://instagram.com/hamdan_100302?=

29/11/2020

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.silahkan dibaca agar dapat menambah ilmu dan wawasan
Siapa yang tidak meneteskan air mata kalo membaca cerita ini?

Subhanaalah….

Kisah 1
Rasulullah Muhammad SAW manusia biasa yang begitu lembut hatinya. Begitu lembut, sehingga beliau kerap diketahui sahabat tengah menangis. Para sahabat yang melihat kekasihnya menangis pun tak tahan p**a menitikan air mata.

Diriwayatkan Ibnu Masud, Nabi bersabda kepadaku, bacakanlah Alquran untukku. Lalu aku berkata, wahai Rasulullah, bagaimana aku bisa membacakan Alquran untukmu sementara Alquran sendiri diturunkan kepadamu. Beliau bersabda, aku ingin mendengar bacaan orang lain. Lalu aku bacakan surah An-Nisa.

Ketika sampai ayat ‘Maka bagaimana bila kami mendatangkan kepada setiap umat seorang saksi dan engkau jadikan saksi atas umat ini (QS an-Nisa 4:42). Beliau bersabda, cukup sampai disini. Aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata. (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tarmidzi, Ibnu Madjah, dan Ahmad).


Rasulullah pun menangis, etika ia menjenguk sahabatnya. Diriwayatkan Ibnu Umar, Sad bin Ubadah sakit, lalu Rasulullah menjenguknya bersama Abdurahman bin Auf, Sa’ad bn Waqqash, dan Abudllah bin Mas’ud. Setelah masuk, beliau mendapatinya sedang pingsan.

Beliau bertanya, apakah dia sudah meninggal. Lalu, para sahabat berkata, Belum. Lalu Rasulullah menangis. Para sahabat juga ikut menangis. Kemudian, Rasulullah bersabda, tidakkah kalian mendengar?sesungguhnya Allah tidak mengazab karena air mata, tidak p**a karena kesedihan hati, tetapi Dia mengazab karena ini–beliau menunjuk lisannya atau tidak memberikan rahmat-Nya (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagai pemimpin, Rasulullah selalu memikirkan umatnya. Sebagaimana yang dilakukan para Nabi terdahulu. Beliau lalu berdoa kepada Allah.

Pada suatu ketika, Rasullullah seperti diriwayatkan Abdullah bin Amr bin al-Ash, tengah membaca kisah Nabi Ibrahim juga tentang Nabi Isa. Setelah itu Rasulullah mengangkat tanganya dan berdoa. “Ya Allah, umatku, umatku. Setelah itu beliau menangis. Kemudian Allah befirman, wahai Jibril, temuilah Muhammad–Rabbmu Maha Tahu apa yang terjadi, lalu tanyakan kepadanya kenapa ia menangis.

Jibril kemudian mendatangi beliau. Kemudian beliau ceritakan, apa yang terjadi-Dia Maha Tahu tentang hal itu. Lalu Allah berfirman, Wahai Jibril, temuilah Muhammad lalu katakan, Kami membuatmu ridha mengenai nasib umatmu dan itu tidak akan mengecewakanmu. (HR Muslim).

Kisah 2
Kala itu Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang tak biasa. Namun, Jibril terlihat berbeda. Raut wajah yang tak biasa. Maka Rasulullah SAW bertanya:

“Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?” Jawabnya: ” Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bers**a-s**a sebelum ia merasa aman daripadanya”

Lalu Rasullulah Saw bersabda:

“Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam”

Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.


Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan basinya.

Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yang ke-7.

Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan-potongan api.

Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yg lain”

Dikatakan dalam Hadist Qudsi:

“Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahariKu. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu: mempunyai 7 tingkat.

Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah. Setiap daerah mempunyai 70.000 kampung. Setiap kampung mempunyai 70.000 rumah. Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak. Setiap kotak mempunyai 70.000 batang pokok zaqqum.

Di bawah setiap pokok zaqqum mempunyai 70.000 ekor ular. Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Dan di bawah setiap pokok zaqqum terdapat 70.000 rantai. Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat”

“Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api neraka jahannam” (HR. Bukhari-Muslim). ” Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya” (QS. Al-Furqan: 11).

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah lantaran marah” (QS. Al-Mulk: 7).

Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas) (QS. Al-Waqi’ah: 41-44).

Rasulullah Saw meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut.

“Pintu pertama dinamakan Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir. Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin; Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api; Pintu ke 4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya; Pintu ke 5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi; Pintu ke 6 dinamakan Sa’ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir.

Rasulullah bertanya: “Bagaimana dengan pintu ke-7?”

Sejenak malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah Saw mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril mengatakan, “Pintu ke 7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat”

Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah Saw pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rasulullah Saw di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umat ku yang akan masuk ke dalam neraka?” Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu.”

Nabi Muhammad SAW lalu menangis, Jibril pun ikut menangis. Kemudian Nabi langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan.

Kisah 3
Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menangis sepanjang malam. Apa yang membuat beliau menangis sepanjang malam? Apakah istri? Anak keturunan? Harta benda dan kebun-kebun? Ternyata bukan karena hal-hal duniawi tersebut.

Beliau menangisnya karena dalam shalatnya beliau membaca Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 118 yang menceritakan doa untuk umatnya, untuk kita.

Beliau shalat sambil menangis hingga waktu Subuh tiba.

Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut. “Jika Engkau siksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-MU, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Kemudian beliau memanjatkan kedua tangan seraya berdoa, “Ya ALLAH, umatku.. umatku…”

Lalu beliau menangis tersedu-sedu.

ALLAH Subhanahu Wata’ala berkata kepada Jibril, “Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad. Tuhanmu Maha Mengetahui. Sekarang tanyakan kepadanya, kenapa dia menangis?”

Jibril pun menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menanyakan sebab musabab beliau menangis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berterus terang kepada Jibril mengenai kekhawatiran beliau pada umat beliau. Jibril pun melaporkan pengaduan Rasulullah itu kepada ALLAH.

ALLAH menjawab, “Sekarang, pergi dan temui Muhammad. Katakan padanya bahwa Aku meridainya untuk memberikan syafaat kepada umatnya dan Aku tidak kan berbuat buruk kepadanya (selama tidak menyekutukan Allah).” (HR. Muslim dan Ath-Thabari)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, manusia mulia itu, laki-laki agung itu, menangis dalam shalatnya. Menangis memohon ampunan untuk umatnya, kita.

Kisah 4
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum –peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik alaaa Rosuulillah wa salim ‘alaihi

Subhanallaaaah…

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Subhanallah Sungguh besar cinta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada kita. Bagaimana dengan kita? Menangiskah kita ketika mengingat ALLAH dan Rasul-Nya?

Rindu kami padamu ya Rasul…

Semoga Shalawat serta Salam,Senantiasa ALLAH limpah curahkan kepada Junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam,kepada Keluarganya,Sahabat2nya,dan Kita juga sebagai umat nya semoga mendapat syafaat Beliau kelak di Hari Kiamat

13/11/2020

Membaca Artikel ini terasa hati tak tahan untuk menangis😭, begitu luar biasanya Rasulullah SAW, di lempari kotoran akan tetapi Rasulullah balas dengan kasih sayang.

Dilempari Kotoran Setiap Hari, Ini Balasan Rasulullah
Semesta Bertasbih
Saat masa dakwah nabi, tidak sedikit orang-orang Yahudi yang tidak hanya ingkar pada risalah yang disampaikannya, tetapi juga melontarkan hinaan, cacian, bahkan menghardik dengan perbuatan yang diluar batas kesabaran menurut ukuran manusia biasa. Kisah ini dimulai saat setiap waktu ingin pergi ke masjid, Rasulullah selalu melewati sebuah rumah bertingkat yang dihuni oleh seorang nenek tua. Suatu ketika, saat lewat di depan rumah itu, Rasulullah mendapat si nenek berada di lantai tingkat rumahnya sedang mengerjakan sesuatu. Tepat berada di depan rumah, rupanya si nenek tua sedang bersiap untuk melempari baginda Nabi dengan kotoran-kotoran yang baru dibersihkannya. Dengan sengaja ia menjatuhkannya tepat di atas kepala Rasulullah.

Tidak heran Rasulullah, memang cukup banyak orang-orang yahudi dan kelompok lain yang tidak s**a pada Islam selalu berusaha menjatuhkan kemuliaan akhlak beliau dengan hardikan semacam ini.

Berharap Nabi marah, ternyata justeru dibalas oleh beliau dengan senyuman tulus kepada si nenek tua itu. Belum puas, keesokan harinya bersiap lagi nenek dengan kotoran-kotorannya. Tepat saat Rasulullah lewat, kembali dijatuhkannya ke atas kepala beliau, bahkan sesekali waktu ditambah dengan ludah yang sengaja ia semburkan untuk melengkapi hinaanya pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh betapa kesabaran Nabi tak tertandingi. Tetap beliau hanya membalasnya dengan senyuman yang teramat indah. Setelah beberapa waktu demikian, suatu hati si nenek tidak terlihat nampak di tempat biasanya ia bersiap untuk melempari kotoran. Rasulullah heran dan kemudian menanyakannya kepada tetannga sebelah rumah si nenek. Karena selalu menyaksikan bagaimana nenek tua mendzalimi sang Amirul Mukminin, tetangga itu pun bertanya kembali pada Rasulullah, “untuk apa engkau menanyakan kabar orang yang setiap hari menghinamu wahai Rasulullah.” Lagi-lagi, agungnya akhlak beliau dengan hanya membalas pertanyaan itu lewat senyuman pertanda kesabaran dan ketulusan.

“Si nenek tua itu hidup sebatang kara di rumahnya, dan sekarang ia sedang sakit”, jelas laki-laki itu. Tidak tunggu lama, Rasulullah pun terus bergegas menuju rumah yang biasa menjadi tempat ia dihinakan itu, mengetuk pintu dan karena tidak ada yang menjawab, masuklah Rasulullah menyaksikan nenek tua yang terbaring lemas. Karena perangainya yang buruk terhadap orang lain, hingga Rasulullah menjenguk belum ada orang lain yang datang dan melihat kondisinya. Baginda Nabi ialah orang pertama yang menjenguknya.

Beliau pun membantu menyiapkan makanan, menimbakan air, dan membersihkan rumah. Penasaran siapa yang bersedia membantunya, si nenek pun bangkit dan berusaha mencari tahu. Terkagetlah ia, yang dengan tulus menjenguk dan membantunya pertama kali ialah justeru orang yang selama ini paling dihinakannya. Rasulullah yang kemarin-kemarin sangat dibencinya. Bagaimana tidak tersentak hati si nenek melihat tidak ada sedikitpun rasa dendam, rasa amarah di hati Rasulullah. Justeru dengan ikhlasnya beliau membantu si nenek.

Karena itulah, si nenek kemudian memohonkan maaf dan ampun kepada Rasulullah, tersebab perilaku tidak baiknya di hari-hari kemarin, dan ia berjanji akan mulai menerima Islam sebagai ajaran yang akan dianutnya setelah ini.

Indahnya Islam semestinya tercermin lewat perilaku dan akhlak penganutnya. Tidak perlu jauh mendalam menjelaskan bagaimana Islam mengatur kehidupan, cukup pribadi-pribadi kita yang menyampaikannya lewat budi luhur dan kesantunan pembawaan. Betapa akhlak Rasulullah membuktikan, tidak terhitung berhasilnya meluluhkan hati orang-orang yang sangat membencinya, hanya dengan membalas perbuatan buruk dengan balasan kebaikan.

Berita Terkini Dan Terpercaya - SINDOnews 13/11/2020

Kisa abu Dujanah simak bingung kharasha yang membuat Rasulullah SAW menangis
Kisah ini dapat memuhasabah diri kita😢😭

Abu Dujanah Simak bin Kharasha merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat taat pada Allah SWT. Pria yang berasal dari kabilah Khazraj ini hidup serba kekurangan.

Kisah hidupnya membekas di hati Rasulullah. Bahkan, Rasulullah pernah menangis setelah mendengar cerita kelaparan yang dialami keluarga Abu Dujanah.

Suatu hari, Rasulullah menegur Abu Dujanah karena setiap usai menjalankan ibadah salat subuh berjamaah, dia langsung p**ang ke rumah. Abu Dujanah tak pernah menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai.

"Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah SWT sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru p**ang begitu? Ada apa?" tanya Nabi.

"Ya Rasulullah, kami punya satu alasan," jawabnya.

"Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!" perintah Nabi.

"Begini. Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami," kata Abu Dujanah mulai bercerita.

"Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera p**ang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya," sambungnya.

Abu Dujanah melanjutkan, suatu saat dia terlambat p**ang ke rumah. Anaknya terbangun dan menemukan kurma tetangga yang jatuh dari pohonnya. Tak menunggu lama, sang anak langsung memakan kurma tersebut.

"Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam. Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana," jelasnya.

Abu Dujanah tak pernah membiarkan anaknya memakan kurma milik orang lain. Dia tak ingin makanan haram itu menyebabkan keluarganya mendapat siksaan pedih di akhirat kelak.

"Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’."

Pandangan mata Rasulullah langsung berkaca-kaca mendengar pengakuan Abu Dujanah. Butiran air mata mulianya berderai begitu deras.

Rasulullah mulai mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah. Abu Dujanah pun menjelaskan, pohon kurma tersebut milik seorang laki-laki munafik.

Tanpa basa-basi, Nabi Muhammad SAW mengundang pemilik pohon kurma. Rasulullah menawar pohon kurma dengan harga yang sangat tinggi.

"Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada," kata Rasulullah.

Pria munafik itu lantas menjawab dengan tegas, "Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Tiba-tiba, Abu Bakar as-Shiddiq datang. Ia menegaskan langsung melunasi pembayaran pohon kurma tersebut.

"Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya)," ujar Abu Bakar.

Pria munafik terlihat sangat kegirangan. Dia akhirnya menyerahkan pohon kurma secara simbolis kepada Abu Bakar. Selanjutnya Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah.

Rasulullah kemudian bersabda, "Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu p**a Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Dia berjalan mendatangi istrinya, lalu menyampaikan kisah yang baru saja terjadi.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun," ucapnya.

Malamnya, si munafik tertidur p**as. Keesokan harinya dia bangun dan melihat pohon kurma sudah berpindah posisi, kini berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Dia keheranan tiada tara. (mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Tuliskan komentar
@باكوس حمدان فرافت☺

Berita Terkini Dan Terpercaya - SINDOnews Kump**an Berita terkini, terbaru hari ini seputar Berita Internasional, Nasional, Ekonomi, Politik, Daerah, Lifestyle dan Olahraga.

Want your business to be the top-listed Gym/sports Facility in Medan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Medan
20211