21/09/2016
Karate, Menambah Percaya
Diri Anak 21 Maret 2014 21:10:40
Diperbarui : 24 Juni 2015
00:39:17
Dibaca: 1,755| Komentar: 20|
Nilai: 12 13953840161872284161 Nanti bulan depan, si sulung
harus maju lagi untuk
mengikuti ujian kenaikan
tingkat karatenya. Itu berarti
saya harus nodong suami
untuk mengantarkannya ke tempat ujian karate yang
digelar pada hari minggu
nanti.
Tidak inginnya saya hadir
dalam setiap pertandingan
disebabkan karena saya tidak tega melihat si sulung kena
pukul atau tendang ketika
bertanding. Yang ada nanti
saya bisa jejeritan sendiri
saking shocknya hihihi
Sukanya si sulung dengan olahraga karate sebenernya
cukup membuat kami sebagai
orang tua merasa lega.
Kenapa? Karena tidak
selamanya kami orang tua
bisa mengawasi keadaan si anak yang bisa saja tiba-tiba
dihadang oleh bahaya. Oleh
karena itu kami berharap
semoga si sulung bisa menjaga
keselamatan dirinya sendiri.
Olahraga Karate yang berasal dari Jepang ini memang cukup
unik. Kanji karate, 空手 apabila
dipisah satu-satu menjadi : 空
(kara : kosong) dan 手 (te :
tangan), jadi bisa disimpulkan
sebagai ilmu beladiri dengan menggunakan tangan kosong.
Ya, serangan yang tiba-tiba
menyerang, pastilah tidak
mungkin kita mencari alat
bantu pertahanan, yang paling
cepat adalah menggunakan tubuhnya sendiri sebagai
senjata pertahanan.
Awalnya kami mengenalkan
ilmu beladiri Karate kepada si
sulung ini, sebenarnya ada dua
alasan, yaitu : si sulung yang mempunyai sifat pemalu dan
alasan kedua adalah kami
sebagai orang tua khawatir
anak kami akan dibully oleh
teman-teman sekolahnya
karena sifat pemalunya itu. Ya, karena saya pernah
dengar dari seorang teman
kalau anak laki-lakinya
pernah dibully oleh teman-
temen sekelasnya, dan ibunya
sama sekali tidak tahu! Sadarnya adalah ketika
ibunya melihat ada lebam
dikaki anaknya karena bekas
tendangan teman-temannya,
yang tidak pernah
diketahuinya oleh orang tuanya karena sang anak
yang selalu menggunakan
celana panjang.
Kasihan ya, mungkin sang
anak begitu tertekan tapi
tidak berani juga bilang ke orang tuanya. Lalu setelah
sang ibu meminta pendapat
dari teman-teman Jepangnya,
dan salah satu saran yang
diberikan adalah dengan
mencoba memas**annya ke latihan ilmu beladiri, yaitu
dengan maksud agar tumbuh
kepercayaan dirinya dan
akhirnya berani untuk
mempertahankan dirinya
apabila terjepit dalam situasi yang membahayakan.
Si sulung mulai mengikuti
karate ketika berumur 6
tahun bersamaan dengan
masuknya dia ke Sekolah
Dasar. Dan pada akhirnya terlihat sangat menyukai olah
raga ini, bahkan begitu
semangat apabila setiap 6
bulan pelatihnya memberinya
surat kalau dia berhak ikut
ujian kenaikan tingkat. Ketika saya tanya si sulung,
kenapa kok s**a banget sama
karate?? Jawaban yang bikin
saya terkejut adalah :
"omoshiroii kara!" (Karena
menarik!) hehehe ya syukurlah dia belajar sesuatu
karena dasarnya memang
s**a. Karena begitu s**anya
dengan olahraga ini, sering ia
berlatih dengan temannya di
apartemen yang kebetulan juga berlatih judo. Dan lambat
laun sifat pemalunya semakin
berkurang dan terlihat
menjadi begitu percaya diri
untuk bergabung bermain
bersama teman-teman sebayanya.
Dan saya yakin karena
olahraga Karate itulah maka
kepercayaan dirinya sedikit
demi sedikit tumbuh. Kalau
melihat perkembangan si sulung dari awal ketika masih
sabuk putih polos, lalu ke
sabuk oranye, lalu ganti
menjadi oranye strip silver
dan kemudian (apabila lulus
nanti) menjadi sabuk biru, sungguh suatu proses
perkembangan jiwa dan
pribadi yang sangat
menakjubkan. Kenapa?
Karena si sulung banyak
belajar tentang ketegaran dalam menghadapi kekalahan
pada suatu pertandingan.
Walau memang kadang
terlihat raut muka kesal, sedih
bahkan marah ketika kalah,
tapi sejalan dengan waktu si sulung bisa mengontrol semua
kekecewaan itu, agar cepat
bangkit dan harus
"ganbaru" (semangat) lagi
agar bisa lolos dan lulus
sampai berhasil. Yah, ternyata bukan hanya
kepercayaan diri saja yang
tumbuh dalam dirinya, tapi
selain itu ada banyak
keuntungan lain seperti
adanya keberanian membela diri apabila dalam bahaya,
disiplin terhadap waktu,
loyalitas terhadap institusi/
organisasi, hormat terhadap
para senpai (pelatih),
kewajiban moral untuk memberi contoh baik kepada
kohai (adik tingkat bawah),
serta seringnya latihan
membuat badannya terlihat
segar dan kuat.
Dan menurut si sulung, ada satu pesan yang selalu
disampaikan oleh senpai-nya
(kakak pelatih) setiap akhir
latihan, yaitu: "teknik yang
diajarkan hanya boleh
dikeluarkan untuk menjaga diri bukan untuk menyakiti."
Salam Hangat, wk
Image : www.senbukai.com