02/09/2026
Sangkuriang 163 km.
Bukan sekadar tentang seberapa kuat kaki melangkah, tapi tentang seberapa kuat hati bertahan ketika semuanya mulai terasa ingin menyerah.
Di kilometer 100, pertanyaan itu kembali datang:
“Apakah garis finish ini masih layak diperjuangkan?”
Fisik mulai menurun.
Pikiran mulai terombang-ambing.
Semangat perlahan terkikis.
Tapi pengalaman tahun lalu mengajarkan satu hal : ketika rasanya ingin berhenti, mungkin justru di situlah perjuangan sebenarnya dimulai.
Maka saya terus bergerak.
Satu langkah.
Satu kilometer.
Sampai akhirnya, garis yang sejak awal saya kejar kembali terlihat di depan mata.
Dan tahun ini terasa berbeda.
Karena di sepanjang perjalanan, ada orang-orang yang menjadi alasan untuk terus bertahan.
Supporter terbesarku, istriku tercinta Cornelia Larasati ❤️
Yang selalu ada, bahkan ketika aku mulai meragukan kemampuanku.
Terima kasih juga untuk teman-teman atas support, doa, dan semangat yang diberikan.
Dan untuk , terima kasih sudah kembali berjuang bersama.
Kita sama-sama datang membawa satu misi: menuntaskan apa yang tahun lalu belum berhasil kita selesaikan.
163 KM mengajarkan saya bahwa finish line bukan hanya tentang sampai di tujuan.
Ia adalah bukti bahwa kita mampu melewati versi diri kita yang berkali-kali ingin menyerah.
Terima kasih untuk setiap langkah, setiap rasa sakit, setiap keraguan, dan setiap orang yang membuat saya terus berjalan.
Karena pada akhirnya…
Garis finish bukanlah akhir.
Garis finish adalah awal dari perjalanan berikutnya. 🏃♂️⛰️🔥