Orang yang berkata 'saya tidak peduli politik' sering kali lupa bahwa politik tidak pernah berhenti bekerja hanya karena mereka memilih untuk mengabaikannya.
Saat masyarakat diam, keputusan tetap dibuat, anggaran tetap dibagikan, aturan tetap ditetapkan, dan kekuasaan tetap dijalankan. Bedanya, semua itu terjadi tanpa pengawasan yang cukup.
Ketika warga tidak peduli, mereka kehilangan hak moral untuk terkejut saat korupsi tumbuh, ketidakadilan meningkat, atau kebijakan merugikan rakyat lahir dari proses yang tidak pernah mereka perhatikan.
Apatisme bukan sikap netral; ia adalah ruang yang memberi kesempatan bagi orang lain untuk menentukan masa depan atas nama kita.
_~penikmatsunyi~_
Penikmat sunyi
Adventure
30/05/2026
"Tidak semua orang yang bicara lembut itu tulus. Kadang manipulasi datang dengan suara paling tenang."
-Retorika-
01/11/2025
"Gunung itu bukan tempat pelarian, tetapi tempat untuk memberi jarak pada realitas agar segalanya dapat di sikapi secara lebih objektif "
~penikmat sunyi~
27/05/2022
"Terkadang kita harus memilih menyerah agar tidak terlalu jauh salah memilih arah"
MT DINGDING ARI
dua langkah
"dinnnn,dinnn,dinnn" panggilku sambil mengarahkan senter ke berbagai arah tapi tidak ada jawaban juga
Akupun memilih masuk kembali kedalam tenda lalu menutp nya rapat-rapat karna takut terjadi apa-apa.
Di dalam tenda aku hanya terdiam berusaha tetap tenang di tengah kepanikan, sambil bertanya tanya kemanakah dia? Harus gimana aku sekarang? Harus jawab apa jika di tanya keluarganya jika benar iya hilang?
Aku ambil roko dan menyalakannya aku hisap di tengah kebingungan, aku berpikir dan memutusakan untuk melapor ke pihak bc pagi-pagi saja.
Roko udah habis sebatang namun tidak ada kehadirannya, rasa kantuku kembali datang dan ku baringkan tumbuhku dan tak lama aku ketiduran.
Rasa ingin kencing membangunkan tidur ku, aku bangun lihat jam di tangan udah menunjukan jam 6 pagi lihat ke samping kanan aku sempat kebingungan soalnya udah ada nurdin yang sedang tertidur nyaman.
"Kenapa sekarang dia ada? Apakah semalam aku hanya bermimpi? Atau hanya halusinasi?" Pikirku dalam hati, akupun langsung membangunkannya
"Din bangun din,udah pagi" ucapku sambil membuka tenda dan langsung keluar untuk buang air kecil yang sedari tadi udah di tahan.
Saat buang air kecil selesai aku kembali ke tenda dan udah terlihat nurdin yang sedang duduk baru bangun dari tidurnya
"Anjir katanya mau samit jam 3 pagi tapi sekarang baru di bangunin" ucap nurdin yang masih duduk di dalam tenda
"Gue semalam gak bisa tidur, jadi baru bangun barusan" ucapku tanpa menceritakan kejadian yang aku alami semalam "harusnya kan elu yang bangun duluan kan elu yang tidur duluan" ucapku sambil langsung mengambil peralatan masak
"Gue jam setengah 3 terbangun mau kencing, tapi gue gak berani keluar bangunin elu gak bangun-bangun, ya terpaksa gue kencing di masukan ke dalam botol akua" ucap nirdin sebari ketawa sambil mengambil botol aku yang iya maksud
"Dih gila bangat sih lu"
"Ya harus gimana lagi, kan dalam keadaan darurat" ucapnya sambil keluar tenda dan membuka botol akua lalu membuang airnya tidak dengan botol akuanya "jadi gimana nih kita jadi ke puncak gak?" Sambungnya
"Ya ayo aja gue mah, tanggung udah di sini kepuncak juga paling tinggal 2 jaman" ucapku sambil memberesihkan beras
"Iyah lah tanggung, lagian mendaki gunung tanpa sampai ke puncak itu seperti makan tanpa minum, serasa gak lengkap"
"Yaudah kita sekarang makan dulu, ngopi dulu terus kita langsung samit"
"Ok" ucap nurdin "eh bikin api ungun lah dingin nih" sambungnya
"Ya tinggal bikin kan ada itu pelapah pohon pinus yang kemarin saya bawa"
Api ungun di nyalakan kamipun menikmati pagi dengan kehangatan sambil sarapan dan persipan untuk melanjutkan perjalanan karna perjalanan belum selesai.
Setelah perut terasa kenyang kamipun melanjutkan perjalanan dan alhamdulilah dalam perjalanan ke puncak tidak terjadi hal yang mengganjalkan hanya saja setiba di puncak hanya di suguhi pemandangan kabut yang sangat tebal.
Kamipun menikmati puncak hanya sebentar lalu memutuskan turun kembali karna waktu udah cukup siang.
Api ungun di nyalakan kamipun menikmati pagi dengan kehangatan sambil sarapan dan persipan untuk melanjutkan perjalanan karna perjalanan belum selesai.
Setelah perut terasa kenyang kamipun melanjutkan perjalanan dan alhamdulilah dalam perjalanan ke puncak tidak terjadi hal yang mengganjalkan hanya saja setiba di puncak hanya di suguhi pemandangan kabut yang sangat tebal.
Kamipun menikmati puncak hanya sebentar lalu memutuskan turun kembali karna waktu udah cukup siang.
Di perjalanan turun kami berjalan dengan lancar tanpa hambatan dan alhamdulilah kami sampai ke bascem dengan keadaan selamat.
TAMAT
By: jeni kustiawan
Terimakasih yang telah membaca, mohon maaf jika banyak kekurangannnya🙏
Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar besar nya, mohon maaf masih belajar nulisnya, bantu sukai halamannya biar gak ketinggalan cerita lainnnya.
Sekian salam penikmat sunyi🍃🍃🍃
21/05/2022
MT DINGDING ARI
dua langkah
Part 4
"babiiii" teriaknya sambil berlari mendahuluiku lalu masuk tenda
Akupun langsung panik dan melihat-lihat di sekeliling sekitar tapi tidak nampak apa yang nurdin ucapkan, dalam hati gue mungkin itu hanya becanda
"Ada apa din, gak ada apa-apa juga main ngagetin aja" ucapku seteleh sampai di depan tenda
"Anjir itu suara babi, takut gue" ucapnya di dalam tenda
Deg, benar aja terdengar suara seperti suara babi yang kian mendekat tapi aku melihat-lihat di sekeling sekitar tidak ada apa-apa tapi suara itu terus saja seperti semakin mendekat
"Iyah din, itu kaya suaranya tapi gak ada apa-apa" ucapku yang masih berdiri di depan tenda sambil memerhatikan di sekeliling sekitar
"Udah tenang aja, gak bakal nyamperin kok" ucap ku sebari langsung duduk di depan tenda, lalu ambil rokok untuk menghilangkan kepanikan.
Suara itu semakin keras dan mendekat dan aku melihat ke arah sumber suara yang berasal di bawah pohon yang besar dan rimbun, nampak sesosok mahluk hitam yang tumbuhnya menyerupai manusia, akupun langsung masuk kedalam tenda menutupnya.
"Ada apa jen" tanya nurdin yang melihatku terburu-buru masuk tenda
"Gak ada apa-apa din,udah mulai gelap aja" ungkap ku berbohong supaya suasana tetap tenang
Kamipun menikmati roko sambil makan cemilan di dalam tenda,suara itu semakin lama semakin menjauh kembali dan menghilang, suara tetesan air mengenai tenda cukup keras, melihat di bagian jendela tenda terjadi hujan cukup deras, pas lihat jam sudah hampir menunjukan jam 18 mungkin sudah masuk waktu magrib.
"Gimana jen besok kita naik ke puncak jam berapa?" Tiba tiba nurdin bertanya di tengah keheningan menuju malam
"Ya kalau mau dapat viu di atas awan kita harus samit jam 3 pagi" ucapku sebari terus memerhatikan sesuatu lewat jendela tenda seperti ada sesuatu yang bergerak gerak di pohon yang besar
"Kalau samit jam 3 pagi, kita berani gak?"
"Ya kenapa harus gak berani"
"Ok gimana elu aja gue mah ayo aja"ucap nurdin sebari langsung memeriksa senter di tasas nya "elu bawa senter gak?" sambung nya
"Ya bawa itu di tas" jawab ku yang masih memerhatikan sesuatu yang bergerak gerak di pohon besar itu
"Elu bawa batre cadangan gak?"
"Engak bawa, emang kenapa?" Tanyaku
"Punyaku lemah nih batrenya, udah lama gak di ganti"
"Lah kebiasaan elu mah"
Tengah pembicaraan tiba-tiba terdengar suara burung yang berkicau cukup keras kuperhatikan suara itu berasal dari pohon yang bergerak-gerak tadi "oh cuma burung" ucapku dalam hati.
Roko udah habis beberapa batang, cemilan yang kami bawa sebagian udah kami makan jam udah menunjukan jam 8 malam, tetesan air hujan udah tidak terdengar lagi.
"Tidurah besok samit biar gak kesiangan" ucap nurdin yang langsung mengambil SB dan memberikanny kepadaku
"Beresin dulu" ucapku yang melihat barang gak beraturan
Kamipun membereskannya dan bersiap-siap tidur supaya gak bangun kesiangan.
"Eh,itu burung kok dari tadi berkicau mulu ya" ucap nurdin yang udah bersiap menganyamkan matanya
"Iyah juga ya" ucapku yang baru sadar burung itu masih berkicau "gak papa, mungkin dia menemani kita" sambungku
"Nanti bangunun gue ya, jam 3"
"Iyah tapi jangan susah di bangunin nya, nanti gue siram" ucapku yang udah bersiap untuk tidur
Waktu terus berputar jarum jam sudah menunjukan jam 11 malam namun aku masih belum bisa tidur juga, melihat temen aku sudah menikmati mimpinya suara burung masih aja berkicau etah apa yang iya inginkan, Aku paksakan pejam mata dan alhamdililah bisa tidur juga.
Aku terbangun dalam tidurku, aku raba senter di samping ku yang udah aku letakan tadi sebelum tidur lalu nyalakan dan melihat jarum jam di tangan baru menujukan jam 1 pagi perasaan tidur udah cukup lama dan aku berpikir untuk tidur kembali, saat mengarahkan senter ke arah tempat nurdin tidur kagetnya bukan main, iya gak ada di tempatnya entah kemana, "apakah iya sedang buang air besar?" Pikirku, aku lihat di pintu tenda masih tertutup rapat aku cek barang miliknya semuanya ada senter juga ada.
Ya allah kemanakah dia, aku bingung harus berbuat apa apakah aku harus melapor ke pihak bascem melalu HT, tapi niat itu aku simpan aku memilih lihat ke luar siapa tau iya ada di luar lagi buang air besar.
Aku buka tenda perlahan melihat ke luar hanylah gelap gulita aku arahkan senter ke segala arah namun aku tidak melihat kehadirannya.
"Dinnnnn,dinnn,dinnn" panggilku sambil mengarakhkan senternya tapi tidak ada jawaban juga
Jabngan lupa ikuti halamannya biar gak ketinggalan ceritanya
20/05/2022
Kami pun bangkit, pos 3 mulai kami tinggalkan mulai masuk ke hutan dan tanjakan yang sangat curam,memang track dingding ari ini sangat lah curam lutut aja samapi bisa ketemu dagu, kalu orang yang pernah naik gunung ci kurai pasti akan membandingkannya, ketinggian nya boleh aja kalah samai gunung ci kurai tapi tidak dengan track nya, ada yang bilang juga tida, tapi itu hanyalah pendapat semua orang memiliki pendapat masing-masing kalu mau berpendapat silahkan coba dulu aja mendaki ke sana.
Saat kami berjalan tiba-tiba HT yang saya bawa berbunyi mungkin ituh abh toteng
"Cek giman di atas sana aman" ucap abah melalui HT
"Din ini lo yang jawab" ucap ku sembari memberikan HT nya
"Alhamdulilah bah, aman baru samapi pos 3 menuju pos 4" ucapnya
"Sip bagus kalau aman mah, di atas sana gak hujan?" Tanya abah
"Siap bah, alhamdulilah enggak" ucap nurdin
Tidak ada jawaban lagi dari abah toteng, kamipun melanjutkan perjalanan baru beberapa langkah langsung turun hujan.
"Hujan din, pakai ponco" ucapku sebari mengeluarkan ponco di dalam saku ceril
"Gue gak bawa" ucap nya
"Aduh terus gimana, itu baju lo nanti basah"
"Gak papa kan ada jaket" ucapnya
"Atau kita cari pohon yang rimbun, kita berteduh dulu" ucapku sambil melihat lihat di sekeliling sekitar mencari pohon yang cocok untuk di pakai berteduh
"Gak usah kita lanjut aja, keburu sore"
Aku pun teringat saya bawa trasbag yang cukup besar bisa di jadikan ponco keadaan darurat hehe.
"Bentar" ucap ku sembari mengelurkan trsabag tersebut lalu aku lubangi pakai ggigi, di bikin lubang bagian leher dan kedua tangan nya, dan jadilah ponco darurat wkwkwkk.
"Nih pakai" ucapku
Dia langsung mengambilnya dan memakai nya, dan benar pas, lumayan lah biar gak terlalu basah.
Kamipun melanjutkan perjalanan posisinya saya di depan dan nurdin di belakang, kami berjalan dengan agak lambat karna jalanan cukup licin dan sepatu basah.
Tak lama pun hujan berhenti, kami sangat bersukur sekali sebentar sekali mungkin udah mau sampai pos 4 tapi tiba-tiba jarak pandang sangat lah suram, dimana awan tebal menghampiri kami.
"Din kabut" ucap ku sembari berhenti
"Iyah pelan-pelan aja, hati-hati salah jalan" ucapnya
Benar benar sangat tebal sekali kabutnya jarak pandang pun sekitar 2 meteran, sehingga kami harus berhati-hati dalam melangkah jangan sampai salah jalan apalgi di tanjakan yang sangat curam.
"Din kita berhenti aja dulu, nunggu kabutnya hilang" ucapku sebari menoleh ke arah nya
"Boleh" ucapnya
"Ngerokok dulu" ucap ku sembari ngelurin roko dan mencari tempat duduk
Kamipun merokok sambil berharap kabutnya hilaang, benar benar sangat nikmat dalam keadaan cape di tamabh dingin di tambah merokok beh mantap bangett pokonya.
Rokok baru setengahnya melihat di sekitar kabut udah perlahan mulai menghilang
"Mau lanjut sekarang gak nih" ucap ku
"Bentar ngehabisin dulu roko"
"Ok deh"
"Itu di leher lo apaan?" Sembari melihat leherku
Akupun langsung merabanya dan sangat geli sekali ternyata itu
"Pacetttt" ucap ku sembari berusaha melepaskan nya sangat susah
"Awas gue bantuin" sembari mengambil pacet itu menggunakan kaos tangan nya dan dapat langsung iya injak.
"Same pacet aja takut" ucap nya sebari ketawa
"Buakan takut, cuma geli aja,nanti darah gue habis di ambil pacet" ucap ku
Kamipun langsung nge cek ke tumbuh bagian lain takutnya ada lagi, dan bener saja ada beberapa pacet yang menempel di bagian kaki.
Takut ke malaman kami melanjutkan perjalanan melihat jam tangan sudah menunjukan jam setengah empatan, kami terus melangkah tanjakan demi tanjakan kami lalu, dan akhirnya samapi di pos 4 tapi kami tidak beristirahat kami terus tancap gas supaya gak kemagriban di jalan.
Saat menaiki tanjakan tiba-tiba nurdin langsung mendahului saya berlali
"Jen lariii" ucapnya sembari mendahului saya
"Ada apa" ucap ku panik
"Lihat di atas" ucap nya sembari lari
Pas lihat ke atas bener saja di atas ada 2 monyet sangat hitam, dan tumbuhnya sangat besar, akupun lamgsung berlari memgikuti nurdin
"Din larinya jangan samapi arah jalan"ucap ku sembari lari di tanjakan
"Iyah hayu, dari tadi monyet itu ngikutin kita mulu" ucapnya
"Dari kapan?" Ucap ku terheran karna merasa tadi gak melihat di ikutin monyet itu
"Dari tadii,lo gak sadar sih" ucapnya sembari terus berlari
Melihat keatas pepohanan monyet itu terus loncat dari pohon ke pohon mengejar kami, saya sangat benar benar takut dan lari di tanjakan bukan lah hal yang sangat mudah sesekali terjatuh karana jalan licin.
"Din berhenti aja cape" ucap ku
"Iyah sama gue juga" sambil lamgsung berhenti menjongkokan badan nya
Kami berhenti dengan terengah-engah karna kecapean melihat monyet itu sudah dekat dengan kami
"Gima din, lari agi gak nih"
"Cape anjir" ucapnya sebari melihat monyet itu
Monyet itu udah dekat tapi tidak menghampiri kami dia hanya berpindah dari pohon ke pohon sambil memerhatikan kami, teringat pesan orang tua "kalu berpergian ke hutan kita hanyalah tamu, jadi harus meminta ijin dulu ke pemiliknya" begitu lah kira kira dan tanpa basa basi akupun langsung berteriak
"Ma'af jika ke ganggu, kami ke sini hanya ingin menenangkan diri saja gak bermaksud mengganggu kalian semua"ucapku teriak agak keras
"Ayo din kita jalan lagi" ucapku sebari mendahuluinya
Kamipun berjalan baru beberapa langkah nurdin langsung bilang
"Anjir menghilang"
"Apa yang menghilang?" Ucapku sembari menoleh ke arahnya
"Itu yang ngejar kita tadi"
"Alhamdulilah sukur deh" ucapku dengan sangat bahagia
Terus berjalan sebari mengingat kejadian tadi alhamdulilah kami samapi di pos 5 atu biasa di sebut dengan pos air, karna cuma di sini lah tempat mata air tidak ada gubuk, di pos ini cuma ada tempat mendirikan tenda yang cukup sekitar 5 tenda di sekitarnya di tumbuhi pepohonan yang sangat besar besar dan rimbun.
"Kita langsung pasang tenda din biar bisa istirahat" ucap ku
"Ayo"
Kamipun langsung mendirikan tenda dan langsung membereskan barang barang ke dalam
"Kit solat dulu" ucap nurdin
"Ayo tapi kita ngambil air hudu dulu, sama kita isi kompan" ucapku sebari mengambil kompan di dalam tenda
Kami menuju tempat mata air yang jaraknya lumayan jauh, dan harus melewati dulu tebing yang cukup curam dan licin, tapi seketika bulu punduku berdiri persaan mulai gak enak merasa ada yang memerhatikan di balik pepohonan.
Aku hanya terdiam dan gak tau apa temenku juga sama merasakannya,kamipun perlahan menuruni tebing dan sampai ke tempat air yang sangat jerni dan menglir, akupun langsung meminum nya sangat segar sekali, buka sepatu dan langsung berwudu sangat segar sekali.
"Din ini isiin kompan nya" ucapku sebari memberikan kompannya
Aku lagi pakai sepatu, dan nurdin lagi nunggu kompan penuh benar benar merasa ada yang menperhtikan aku liht di sekeliling sekitr benar saja ada seperti bayangan sangat hitam yang bersembunyi di balik dedaunan, akupun langsung ketakutan dan beristigapar
"Din ayo cepet" ucap ku
"Kenapa" uapnya sebari menolh ku
"Ayo cepet aja keburu gelap"
"Yaudah ayo" sebari langsung memaki sepatu tanpa mengisi kompan nya samapi penuh mungkin dia juga merasakan apa yang aku rasakan.
Kamipun langsung pergi dari tempat air itu melewati tebing yang di turunin tadi,tiba tiba setelah berhasil naik tebing nurdin berteriak lagi sambil sambil berlari menuju tenda
"Babiiiiiii"
Bantu sukai halamannya, biar gak ketinggalan ceritanya
20/05/2022
Dengan ucapan bismilah kampun melangkah dengan penuh semangat supaya sampai di atas puncak sana, di awali melewati rumah rumah warga dan pekebunan yang di tanami sayuran yang tumbuh subur menggoda, bayak warga yang sedang melakukan pertanian dengan tersenyum ramah kepada kami berdua bahkan sesekali bertanya.
Kaki terus melangkah jarum jam terus berputar, rasa dingin menembus kulit mulai terasa kami berdua baru samapi di kebun pinus di tengah tengahnya terdapat sebuah gubuk yang bertulisan pos 1
"Kita istirahat dulu bentar disini din cape nih" ucap ku sambil langsung melepaskan ceril
"Iyah nih lumayan juga ini baru pos 1"
"Iyah efek sudah lama gak olah raga inimah"ucap ku
"Iyah,mau ngopi dulu gak?" Tanya nurdin
"Ya ngopi dong,kita santai aja kita nikmati perjalannya"
"Yoii" ucapnya sambil buka caril dan ngambil kompor dan kopi nya,sengaja kami letakan paling atas agar kalau mau ngopi tinggal ngambil aja hehe
"Kamu seduh kopi nya ya, nanti kalau udah jadi panggil aku, aku mau ngumpulin dulu bekas pelapah pohon vinus" ucapku sebari pergi mengambil pelapah itu
"Lah buat apa?"
"Nanti juga bakal tau" ucapku
Akupun mengambil pelapah pohon vinus ini untuk nanti bikin api unggun, kalau pakai ini walaupun dalam keadaan basah sekalipun bakal tetap menyala gak tau ada kandungan apa dalam pohon vinus ini, tapi ingat jangan nebang ya ini juga cuma bekas yang habis di ambil getahnya aja.
"Jennn udah jadi nih" teriak nurdin
"Iyah bentar" ucap ku sembari melangkahkan kaki menuju gubuk pos itu dan pelapah pohon vinus juga udah lumayan terkumpul banyak.
Kamipun minum kopi sambil meroko,bener benar sangat nikmat dengan suasana alam yang sangat asli dan sunyi.
"Eh kenapa tadi di jalan kita bis lupa ya,pedahal kita udah pernah dua kali kesini" tanya nurdin mempertanyakn pas nyasar menuju bc
Kami sempet nyasar pas menuju bc,yang biasnya perjalannan paling 1 jam,lah tadi malah 2 jam lebihan samapi samapi kami harus buka gogle maps.
"Ya gak tau gue,kan gumeh cuma nurutin jalan menurut lo aja"kata ku sambil agak ketawa
Kopi udah samapi kepasirnya,roko udah samapi ke batas pabriknya jarum jam sudah menunjukan jam 10 : 15
"Kita lanjut yu,keburu siang nih, kita harus samapi dzhur di pos 3 " ucap ku
"Yaudah ayo" ucap nya sambil memasukan barang yang tadi iya keluarkan
Dari pos 1 samapi pos 3 tidak ada hal yang ganjal, kami sangat menikmati perjalanan sambil bercanda dan bercerita kami samapi di pos 3 sekitar pukul satu siang.
Di pos 3 ini terdapat gubuk yang lumayan besar dan terdapat juga sebuah musola, di pos 3 ini juga terdapat air tapi bukan asli mata air cuma air hujan yang di tampung kedalam sebuah wadah dan hanya untuk di gunakan whudu saja.
"Kita sholat dulu aja disini sambil istirahat" ucap nurdin
"Iyah kita sambil makan aja, lapar nih gue" ucap ku sambil merebahkan badan di tempat duduk pos 3 itu"
"Iyah kita santai aja, jangan takut gak kebagian tempat tenda kan cuma kita berdua yang mendaki nya juga" ucap nurdin sambil sedikit ketawa
"Iayh santai aja" kataku sebari ikutan ketawa
Kamipun bergantian melakukan shalat, setelah selesai kamipun makan mie instan yang sudah menjadi makanan paporit para pendaki amatiran seperti kami hehee
"Mau ngopi gak" ucap ku
"Engak ah nanti aja ngopi nya di pos 5 sekarngmah cukup roko aja" ucap nya sembari mengeluarkan bubuk tembakau di tas kecil nya.
"Gila lu bawa bako" ucapku sambil ketawa
"Kan udah gue bilang gue gak punya duit jadi bawa ini aja biar awet" ucapnya sembari ketawa
"Lah alasan biar awaet, ini aja buat nanti itumah" ucaku sambil mengeluarkan roko
"Enga ah lebih enak ini" sembari melinting agar terbentuk sempurna
Benar benar cuma berdua di gunung ini,suasananya sangat sunyi sekali melihat ke arah puncak sana terlihat gumpalan awan hitam mungkin sebentar lagi bakal terjadi hujan.
"Din lanjut lagi yu, keburu hujan" ucap ku sambil melihat lihat langit di atas sana
"Ayo" ucap nya
Bantu sukai halamannya yaa, biar gak ketinggalan ceritanya
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the business
Telephone
Address
Tasikmalaya